Jadi Mitra Pemda untuk Budaya Sunda Sumedang Punya Dewan Kebudayaan

by -263 views

Jadi Mitra Pemda untuk Budaya Sunda Sumedang Punya Dewan Kebudayaan

Jatinangorku.com – Bupati Sumedang, Drs. H. Ade Irawan, M.Si. melantik jajaran pe­ngurus Dewan Kebudayaan Sume­dang (DKS) masa bakti 2013-2017 di Aula Tampomas Kantor Pusat Pemerintahan Kabupaten Sumedang, Rabu (27/8). Pelantikan dilanjutkan dengan kegiatan Gotra Sawala (diskusi budaya) dengan tema “Menguatkan Kebijakan Sumedang Puseur Budaya Sunda” yang terselenggara atas kerja sama antara Bappeda, Disbudparpora, dan DKS.

Bupati mengapresiasi kehadiran DKS yang menurutnya akan sangat membantu pemerintah dalam setiap program pembangunan, khususnya dalam mewujudkan Sumedang Puseur Budaya Sunda (SPBS). “Saya ucapkan selamat kepada pengurus. Saya merasa benar-benar dibantu dengan terbentuknya DKS ini. Mohon dukungannya untuk bersama-sama membangun Sumedang,” katanya.

Dalam rangka mewujudkan SPBS, Bupati Sumedang juga akan mencanangkan kewajiban penggunaan bahasa Sunda selama sehari, termasuk berpakaian khas Sunda. “Pada September ini peraturannya segera dibuat, sehingga diharapkan Oktober sudah mulai berlaku. Jadi di kantor-kantor dan sekolah-sekolah semua harus memakai bahasa Sunda dan baju berciri khas Sunda, seperti penggunaan iket bagi laki-laki,” ujarnya.

Namun yang lebih penting, lanjutnya, adalah menerapkan nilai-nilai luhur budaya Sunda dalam ke­giatan sehari-hari. “Tidak ha­nya sebatas pakaian, tetapi sikap dan perilaku yang benar-benar me­nun­jukkan kesundaan,” te­rang­nya.

Mitra pemda

Menurut penitia kegiatan, Tatang Sobana, latar belakang dibentuknya DKS adalah deklarasi SPBS pada 26 April 2009 yang ditindaklanjuti dengan terbentuknya tim akselerasi SPBS sebagai badan pekerja yang merumuskan kebijakan SPBS. “Tim akselerasi yang beranggotakan tokoh masyarakat dan unsur pemerintah daerah ini selain mendorong lahirnya Perbup No. 113 Tahun 2009 tentang SPBS, juga mempunyai tugas utama membentuk lahirnya DKS dan mendorong terbentuknya Perda SPBS,” terangnya.

Dikatakan, kehadiran DKS bukan untuk menyaingi pemerintah, tetapi sebagai mitra dalam pembangunan melalui kebudayaan. “Lahirnya DKS bukan karena merasa lebih dari yang lain. Tetapi sedikit banyak ingin berkontribusi dalam merumuskan kebijakan-kebijakan kebudayaan, di mana tantangan terhadap budaya lokal semakin berat,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua DKS, H. Moh Arisandi Bahrum, S.H. menyatakan, DKS terbentuk atas kesadaran dari para seniman dan budayawan Sumedang untuk meles­tarikan nilai-nilai budaya Sunda warisan leluhur dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat.

“Jadi ibaratnya, DKS ini adalah think tank-nya pemerintah. Bersama-sama (dengan pemerintah) saling mengisi dan mengingatkan,” ungkapnya.

Sumber : http://www.klik-galamedia.com/