Jatinangor , Kota Pendidikan dengan Berbagai Potensi

by -24 views

Jatinangor , Kota Pendidikan dengan Berbagai Potensi

Jatinangorku.com – Nama Kecamatan Jatinangor sudah dikenal beberapa puluh tahun lalu. Namun, secara resmi mulai melekat di masyarakat sejak tahun 2000. Sebelumnya orang-orang lebih mengenalnya dengan nama Cikeruh. Padahal, kala itu Jatinangor yang terdiri atas lahan perkebunan karet milik Belanda merupakan bagian dari wilayah Desa Cikeruh.

Demikian disampaikan Ketua Forum Jatinangor, Dudi Supardi, pada acara Talkshow Jatinangor Kasohor dengan tema “Jatinangor Kota Pendidikan dan Budaya: Peluang dan Tantangan” dalam rangkaian HUT Jatinangor yang ke-14 di Bale Sawala Universitas Padjadjaran (Unpad), Jatinangor, Senin (12/5).

Menurut Dudi, Jatinangor mulai dikenal banyak orang sejak ada lima perguruan tinggi pada tahun 1980-an, yaitu Unpad, Ikopin, IPDN, Unwim (sekarang ITB Jatinangor), dan Amik Al Ma’soem. Setelah itu, Gedung Diklat Lembaga Administrasi Negara (LAN) dan Bumi Perkemahan Kiarapayung membuat Jatinangor lebih dikenal masyarakat luas.

“Makanya pada Mei tahun 2000 melalui Perda Kabupaten Sumedang Nomor 51/ 2000 dan keputusan Bupati Sumedang Nomor 6 Tahun 2001 nama kecamatan Cikeruh resmi diubah menjadi Kecamatan Jatinangor,” kata Dudi.

Dikatakan Dudi, sejak berganti nama, berbagai potensi dan poros ekonomi mulai berubah. Beberapa investor mulai melirik Jatinangor sebagai lokasi sahamnya. Bahkan, beberapa apartemen bermunculan.

“Seharusnya ini dijadikan momentum untuk kemajuan Jatinangor ke arah yang lebih baik lagi. Semoga, di usianya yang ke-14 ini, Jatinangor semakin berkembang dan mandiri,” paparnya.

Dudi menilai, ada perbedaan Jatinangor dulu dengan sekarang, khususnya pembangunan dan sektor ekonomi. Sehingga ke depannya harus diperhatikan lagi Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) agar pembangunan di Jatinangor dapat terkontrol baik.

Di lain pihak, pegiat seni di Kabupaten Sumedang Herman Suryatman mengatakan, sebagai Kota Budaya, semua potensi Jatinangor harus bisa dikelola dengan baik.

“Melihat saat ini ada di persimpangan. Alternatifnya ada dua, menjadi pemenang atau pecundang. Dan tentu kita sepakat, khususnya saya orang Sumedang yang peduli Jatinangor, peduli terhadap budaya, Jatinangor harus jadi pemenang,” kata Herman.

Sebagai kota potensial yang bisa dimanfaatkan dengan baik, lanjut Dudi, Jatinangor harus berani mengambil langkah-langkah proaktif untuk bisa menjemput kemenangan.

Sumber : http://www.klik-galamedia.com/