Jatinangor Memerlukan Lokasi Baru Pembuangan Sampah

by -464 views

Kebun Emas 486 x 60
JATINANGOR (10/01)

Jatinangor sebagai Kawasan Pendidikan, Perdagangan dan Jasa sudah barang ditambah populasi penduduk yang datang ke kota ini baik itu sebagai mahasiswa, pedagang, atau yang sekedar transit. Sudah barang tentu menambah beban kota ini akan masalah persampahan kota pendidikan ini. Masalah persampahan dikota Jatinangor baik itu sampah organik maupun anorganik kian hari kian bertambah. Sementara Tempat Pembuangan Akhir Sampah Sementara (TPSA) yang berada di Dusun Dusun Seke Angkrik, Desa Cibeusi di lahan milik IPDN. TPSA itu dinilai tidak representatif, karena TPSA di sana tidak tertata dengan baik dan semrawut.

Volume sampah di Kecamatan Jatinangor, Kab. Sumedang setiap harinya lebih dari 12 ton. Jumlah itu hanya dari 4 desa, yakni Desa Hegarmanah, Cikeruh, Cibeusi, dan Desa Sayang.

Hal tersebut diungkapkan Ketua Komunitas Peduli Sampah Jatinangor (KPSJ), Zaenal Mutaqin melalui Korlap KPSJ, Komar Supriyadi Selasa (8/1).

Menurut Komar, pengelolaan sampah di wilayah tersebut dilakukan KPSJ. Bahkan pihaknya pun mengaku kerepotan pada saat penarikan sampah dengan terbatasnya armada pengangkut sampah.

“Kami hanya memiliki satu unit truk pengangkut sampah, itu pun milik Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kab. Sumedang. Pemanfaat jasa KPSJ sebanyak 400 kepala keluarga (KK).

Ia mengungkapkan, pihaknya mengakui masih banyak kekurangan dari segi pelayanan. Alasannya, terbentur terbatasnya fasilitas. Bahkan, tingkat kesadaran warga dalam membayar retribusi hanya sekitar 70 persen dari seluruh pemanfaat.

“Kita terus mencoba memberikan pelayanan terbaik, namun tetap saja terkendala fasilitas. Besaran retribusi sampah yang diterapkan kepada pelanggan sebatas kesadaran warga,” ujarnya.

Tempat pembuangan sampah sementara (TPS), katanya, berada di Dusun Seke Angkrik, Desa Cibeusi di lahan milik IPDN. TPS itu tidak representatif, jelas menghambat pada saat pengiriman sampah ke sana.

“TPS di sana tidak tertata, imbasnya sampah di sana keberadaannya semrawut yang berujung menyulitkan petugas saat membuang,” katanya.

 

sumber: kompasiana

Kebun Emas 486 x 60