Jatinangor Sambut Milad Ke-13

by

Kebun Emas 486 x 60
JATINANGOR (23/3)

Seluruh karyawan dan staf di kantor Kec. Jatinangor, Kab. Sumedang sibuk mempersiapkan HUT ke-13 Kec. Jatinangor yang akan digelar pada 21 – 18 April mendatang.

“Perayaan hari jadi Kec. Jatinangor akan berlangsung meriah dengan aneka kesenian daerah,” kata Camat Jatinangor, Bambang Rianto kepada wartawan, Jumat (22/3).

Saat ini panitia fokus melakukan persiapan. “Kami sibuk mempersiapkan kegiatan yang akan dilombakan hingga bazar yang akan diikuti 12 desa dan masyarakat umum,” katanya.

Susunan kepanitiaan sendiri telah terbentuk dan bekerja sesuai bidangnya masing-masing seperti untuk lomba MTQ, karnaval, gerak jalan, bazar, dan panggung hiburan kesenian tradisional.

“HUT Kec. Jatinangor merupakan kegiatan rutin. Aneka hasil kerajinan dan penganan khas Jatinangor juga akan ditampilkan pada bazar di halaman kantor Kec. Jatinangor,” terangnya.

Misalnya Desa Cipacing dengan senapan anginnya dan Cibeusi dengan aneka penganan berupa sale pisang dan keripik bayam krispi. 

Terkait potensi kerajian tangan, Kec. Jatinangor merupakan sentra kerajinan yang menghasilkan berbagai produk unggulan seperti senapan angin, ukiran, dan aneka penganan. Namun potensi ini belum berkembang.

“Perajin di Jatinangor dinilai potensial, namun tersendat karena belum menjadi kawasan sentra produksi kerajinan tangan dan tidak memiliki galeri. Padahal, Jatinangor merupakan pusat pelaku ekonomi kreatif khususnya kerajinan tangan,” kata Bambang didampingi Kasi Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD), Iis Yuliani.

Pihaknya kini menggalakkan pembinaan bagi para pelaku ekonomi kreatif (UKM) dari seluruh desa di Kec. Jatinangor. Ia mengatakan, pembinaan akan meningkatkan produktivitas.

“Perajin ingin segera memiliki galeru khusus untuk pelaku ekonomi kreatif di Jatinangor. Jika itu terwujud, hasil karya perajin akan semakin dikenal,” ujarnya.

Sementara itu, salah seorang perajin warga Desa Cipacing, Asep (40) mengaku bingung memasarkan hasil produksinya. “Saingan kini semakin banyak dan harga jual hasil kerajinan di beberapa daerah seperti Bali, cukup rendah. Ini menyulitkan perajin di Jatinangor,” katanya.

Hampir seluruh warga di Desa Cipacing menjadi perajin. Namun rendahnya harga jual menyulitkan mereka. Sementara biaya hidup sehari-hari tetap harus terpenuhi.

“Jika di Jatinangor ada galeri, kami tidak harus menjual ke daerah lain jika di sana harganya lebih murah ,” ujarnya.

sumber : klik-galamedia

Kebun Emas 486 x 60