Kejurda Tenis Meja Jadi Ajang Tes Even Venue Jatinangor

by -52 views

 

Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PTMSI) Jawa Barat akan menggelar kejuaraan daerah tingkat pemula pada 24 Juli 2016. Kejuaraan yang dibuka untuk seluruh pengurus cabang PTMSI di Kabupaten/kota se-Jabar itu sekaligus menjadi ajang tes even bagi venue tenis meja Jabar yang baru selesai dibangun di Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang.

Sekretaris Umum PTMSI Jabar Dadang Sudrajat mengatakan, pihaknya sudah mengirimkan undangan kepada seluruh 27 cabang PTMSI se-Jabar sejak beberapa waktu lalu. “Alhamdulillah sejauh ini respons mereka secara informal lewat media sosial ataupun pesan singkat sangat bagus. Tinggal menunggu mereka mendaftarkan atletnya secara resmi,” katanya di Jatinangor, Selasa 19 Juli 2016 petang.

Sejauh ini, lanjut Dadang, beberapa klub maupun orangtua atlet sudah memberikan konfirmasi kesediaan ikut serta. Mereka berasal dari Kabupaten Sumedang, Kabupaten Garut, Kabupaten Bandung, Kabupaten Tasikmalaya dan Kota Tasikmalaya.

Menurut Dadang, konfirmasi tersebut barus sebatas menanyakan kriteria dan persyaratan untuk mengikuti kejuaraan tersebut. Namun pendaftaraannya nanti tetap harus melalui PTMSI di kota/kabupaten masing-masing.

Dadang menambahkan, kejurda tingkat pemula itu membatasi peserta maksimal sampai kelahiran 2004 atau usia 12 tahun. Setiap kota/kabupaten diberikan jatah 4 putra dan 4 putri binaan mereka dan 2 peserta umum terbaik di daerah mereka masing-masing.

Kejurda sengaja dibuka untuk tingkat pemula untuk menarik massa sebanyak-banyaknya ke venue tenis meja yang baru rampung itu. “Di sini tujuan utama kami bukan hasil kejuaraannya, namun untuk melihat pergerakan massa di venue jika ada even,” katanya.

Jika digelar untuk kategori senior, kata Dadang, maka hanya sedikit orang yang kemungkinan datang. Soalnya, atlet senior tidak banyak datang bersama pendamping.

Sementara itu untuk atlet pemula, jelas mereka tidak akan datang sendiri. Minimal kedua orangtua mereka akan datang mendampingi, bahkan tidak sedikit yang sanak saudara yang biasanya ikut serta mendampingi.

“Kalau senior paling hanya didampingi pelatih. Sementara pemula biasanya ditemani lebih dari dua orang pendamping, sehingga efek pengalinya sangat besar,” tutur Dadang.

Dengan kuota 10 atlet untuk per kota/kabupaten, maka setidaknya akan datang 30-50 orang dari masing-masing rombongan kontingen. Jika semua daerah mengirimkan atletnya dalam kuota penuh, maka akan ada sekitar 1300 orang yang datang.

Jumlah itu setidaknya sudah mencapai 75 persen dari kapasitas kursi di tribun penontong yang ada di gedung venue tenis meja. “Kapasitas di sini kan 1700 kalau tribunnya dipasangi kursi. Kalau tidak memakai kursi bahkan bisa menampung sampai 2000 orang,” ujarnya.

Terkait waktu pelaksanaan, Dadang mengaku kegiatan itu dijadwalkan mendadak. Soalnya ia mendapat informasi bahwa di hari yang sama, cabor futsal dan pencak silat pun menggelar kegiatan.

“Kami tadinya belum berpikir mengadakan kegiatan. Namun sengaja dijadwalkan agar tes even berlangsung bersamaan dengan dua cabor lain yang juga ada di Jatinangor,” tutur Dadang.

Kegiatan serentak itu, diharapkan bisa menunjukan kekurangan dan kelebihan venue agar bisa dibenahi sebelum PON XIX. Terutama untuk fasilitas seperti toilet, tribun penonton, areal parkir dan titik-titik pergerakan massa lainnya