Kekerasan Terhadap Anak Sudah Luar Biasa, Tetapi Masih Dianggap Biasa

by -21 views

Jatinangorku.com – Angka kekerasan terhadap anak Provinsi Jawa Barat, berada di urutan ketiga setelah DKI Jakarta dan Provinsi Makasar.

“Bertenggernya Jawa Barat di urutan ketiga di lihat dari jumlah angka kekerasannya dalam setiap tahun. Hal ini juga masih lemahnya penanganan hukum, yang diberikan terhadap pelaku, tegas Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait pada wartawan usai memberikan materi pada seminar Mengurai Mata Rantai Kekerasan Terhadap Anak di Gedung Pendopo Garut, Jawa Barat, Selasa (15/12/2015).

Dikatakannya, yang menjadi faktor tingginya angka kekerasan terhadap anak di Jawa Barat,  lebih disebabkan dari luas wilayah serta letak geografisnya.

“Jawa Barat wilayahnya sangat luas, sehingga menjadi salah satu faktor tingginya angka kekerasan terhadap anak,” katanya.

Selain faktor tersebut, kata Sirait, pemicunya bisa juga dari pengetahuan teknologi.  Saat ini, banyak anak-anak yang menggunakan teknologi yang serba canggih, misalnya gadget dan internet.
Luar biasa
Dengan kecanggihan teknologi tersebut, menurutnya, anak-anak bisa meniru apa yang mereka lihat. Misalnya di Indonesia masih bebas bisa membuka situs-situa porno, serta tayangan yang tidak lazim di tonton.

“Masih lemah proteksinya, sehingga mereka bisa bebas melihat adegan-adegan yang semestinya tidak boleh dilihat,” katanya.
,
Untuk itu, pihaknya akan segera mengusulkan penerbitan Perpu pada pemerintah pusat. Hal ini dilakukan, guna menekan angka kekerasan terhadap anak yang selama ini telah terjadi.

Sirait menegaskan, bayangkan selama ini kejadian kekerasan terhadap anak, masih dianggap kejadian yang biasa. Padahal saat ini, sudah bisa dikatakan kejadian sangat luar biasa.

“Kami akan mendesak Komisi III untuk segera merevisi undang-undang yang sudah ada. Dalam undang-undang yang ada masih lemahnya pemberian hukum pada pelakunya,” tegas Siarit

Diakui Arist, saat ini pemerintah akan mengeluarkan perpu isinya ada penambahan hukuman selain kurungan pelaku juga akan dikenakan hukuman fisik, yakni dengan cara disuntik obat yang bisa memberi efek jera.
Desak pemerintah
Sementara, Diah Puspitasari, yang juga salah satu Deklarator Melawan Kekerasan terhadap anak, mengatakan, pihaknya selama ini sangat prihatin melihat kejadian kekerasan terhadap anak di Kabupaten Garut.

“Saya sangat prihatin melihatnya, apalagi hanya pelakunya saja yang ditangani, sedangkan korbannya kerap dibiarkan,” katanya.

Ia mengatakan, sebagai bentuk perlawanan terhadap kekerasan terhadap anak, pihaknya akan segera bergerak dan mencari dukungan terhadap para orangtua untuk melawannya.

“Akan segera bergerak dan mendesak pemerintah, untuk segera mengeluarkan Perpunya,” katanya

Sumber : http://www.galamedianews.com/