Kemarau, Jatinangor Dihantui Krisis Air Bersih

by -372 views

Kemarau, Jatinangor Dihantui Krisis Air Bersih

Jatinangorku.com – Memasuki kemarau, kawasan Jatinangor, Kab. Sumedang kini dihantui krisis air bersih. Tak hanya itu, di musim penghujan, Jatinangor tak luput dari banjir yang menggenangi Jalan Bandung-Garut dan permukiman di bantaran Sungai Cikeruh. Untuk itu, calon anggota legislatif (caleg) dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Saputri Trianingsih angkat bicara.

Dia menyebut, semua itu karena penataan kawasan Jatinangor masih belum maksimal. Seperti maraknya permukiman penduduk yang tidak sesuai tata kelola dan pendangkalan sungai akibat erosi.

“Menurut penilaian saya, kawasan Jatinangor memang masih jauh dari kota yang menjunjung tinggi tata kelola yang baik. Buktinya, penataan permukiman tidak sesuai dengan aturan. Banyak perusahaan atau pengembang yang tidak memperhatikan dampak lingkungan. Akibatnya, ya seperti ini. Kemarau susah air, musim hujan selalu banjir,” kata perempuan yang akrab disapa Puput ini saat ditemui wartawan, Minggu (22/9).

Aktivis lingkungan ini menyebutkan, di Dusun Taraju, Desa Sayang, Kec. Jatinangor saat musim hujan tiba, mengalami dampat meluapnya Sungai Cikeruh. Jembatan Taraju kini bahkan sejajar dengan air akibat debit sungai yang tinggi. Namun di musim kemarau, debit air berkurang sehingga sumber air irigasi untuk persawahan menipis.

Sebagai pituin Jatinangor, Puput prihatin. Padahal di Jatinangor banyak potensi dan anggota dewan yang berasal dari daerah ini. Tentunya semua bisa dimanfaatkan sebagai wadah aspirasi demi kemajuan Jatinangor.

“Meski banyak anggota dewan dari Jatinangor, namun kebanyakan pendatang. Mereka tidak tahu masalah dan keluhan warga Jatinangor yang sebenarnya. Kalau saya, lahir dan besar di Jatinangor sehingga untuk permasalahan sosial, ekonomi, dan budaya tahu persis,” ujarnya. 

Musim kemarau ini, debit air sejumlah sungai yang mengalir ke Jatinangor dan Cimanggung, Kab. Sumedang serta Rancaekek, Kab. Bandung, kian menyusut. Sungai tersebut di antaranya Cikeruh, Cikijing, Cimande, dan Citarik. Bahkan, Cikeruh dan Cikijing saat ini hanya menyisakan limbah cair dari sejumlah pabrik tekstil di wilayah Sumedang.

Selain itu, sumur milik warga di sejumlah desa di Jatinangor, Cimannggung, dan Rancaekek pun airnya kini kian berkurang. 

Kekeringan di wilayah timur tersebut dampak menyusutnya sejumlah air ternyata dikeluhkan para petani. Mereka khawatir kemarau akan panjang.

Sumber : http://klik-galamedia.com