Kembar Siam Keluar dari Mulut

by -84 views

Kembar Siam Keluar dari Mulut

Jatinangorku.com – Kasus bayi kembar siam kembali terjadi di Kab. Bandung Barat (KBB). Kali ini dialami buah hati pasangan Aep Supriatna (36) dan Yani Mulyani (33), warga RT 28/RW 10 Kp. Cikadu, Desa Ciroyom Hilir, Kec. Cipeundeuy, Kab. Bandung Barat.Yani sendiri melahirkan pada Kamis (19/9) lalu di rumahnya. Namun ada yang berbeda dalam kasus kembar siam laki-laki ini. Dari bayi pertama yang diberi nama Ginan Septian Kurnia, keluar bayi seukuran tubuh. Bayi tersebut menempel di dalam rongga mulut bagian atas dan menjulur keluar. Bayi yang keluar dari mulut ini terdiri atas kaki dan terdapat alat kelamin. 

“Saat hamil tidak ada yang aneh. Saat usia kandungan tujuh bulan, istri sempat di-USG dan kata dokter bayinya normal-normal saja,” kata Aep saat ditemui di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS), Senin (23/9).

Meski tidak ada yang mencurigakan, Aep mengakui istrinya sempat enggan makan saat usia kandungannya 1 bulan dan berlangsung hingga usia kandungan 4 bulan. 

Diungkapkan Aep, proses persalinan sang istri dibantu oleh bidan. Namun saat Ginan lahir, sang bidan memintanya untuk langsung membawanya ke rumah sakit. Bidan menyarankan langkah tersebut karena ada yang berbeda dari buah hatinya itu.

“Lahir sekitar pukul 17.00 WIB dan langsung dibawa ke RS Cibabat. Tetapi pihak RS Cibabat tidak bisa menangani, akhirnya dibawa ke RSHS. Saya sendiri tidak kuat melihatnya,” katanya. 

Kini Ginan masih ditangani tim dokter RSHS dan masih dirawat di Neonatal Intensive Care Unit (NICU).

Bidan yang sempat membantu persalinan Yani, Imoyowati mengatakan, tidak ada hal yang mencurigakan selama proses kehamilan.

“Selama dalam kandungan, bayi ibu Yani ini normal-normal saja, tidak terlihat ada tanda-tanda kembar parasit,” ungkapnya di Cipeundeuy, Senin (23/9).

Imoyowati yang membantu persalinan dan turut memeriksa selama bayi berada dalam kadungan menuturkan, saat di-USG tidak terlihat ada kelainan atau terlihat ada dua janin.

“Bahkan saat di-USG juga sama sekali tidak terlihat ada yang lain, hanya terlihat satu bayi saja,” katanya.

Saat membantu kelahiran bayi laki-laki ini, Imoyowati mengaku tidak melihat tanda-tanda keberadaan tubuh yang lain.

“Saat lahir, kepalanya yang keluar lebih dulu. Saya tidak melihat ada tanda-tanda parasit kembar. Tapi setelah tubuh bayi keluar semua, baru terlihat ada yang tumbuh, menempel di bagian mulut dan bayi hanya memiliki satu kepala. Sementara badan, tangan, dan kaki masing-masing ada,” jelasnya.

Melihat kondisi bayi yang dilahirkan Yani ini, ia pun langsung menyarankan agar orangtua bayi membawanya ke RS Cibabat. Tapi ternyata mereka tidak sanggup menangani hingga akhirnya Dinkes Kabupaten Bandung Barat (KBB) merujuknya ke RSHS.

“Setelah melihat kondisi bayi seperti itu, kami langsung bawa ke RS Cibabat, tapi ternyata di sana tidak sanggup dan akhirnya bayi dibawa ke RSHS,” jelasnya.

Bayi stabil

Sementara itu, Kepala Subbag Humas dan Protokoler RSHS, dr. Tengku Djumala Sari mengungkapkan, saat ini tim dokter yang terdiri atas dokter anak, bedah anak, THT, anestesi, radiologi, dan patologi klinik masih menangani bayi tersebut. Kondisi bayi kini dalam kondisi stabil. 

“Bayi yang satu normal. Tetapi bayi yang satu lagi tidak utuh. Selebihnya, kita masih menunggu hasil pemeriksaan tim dokter. Ini memang kembar siam. Dalam kedokteran disebut conjoint twin parasitic,” paparnya.

Untuk proses pemisahan, Tengku belum bisa memastikannya. Sebab untuk melakukan pemisahan dibutuhkan pemeriksaan menyeluruh. Seperti yang dilakukan saat pemisahan bayi kembar siam Wanda dan Wandi.

“Wanda Wandi juga dibutuhkan waktu lebih dari 1 tahun untuk memisahkannya. Dibutuhkan pemeriksaan terlebih dahulu,” jelasnya.

Tengku mengakui, kasus seperti ini cukup langka. Pihak RSHS pun baru kali ini menanganilya. “Secara rasio, kita belum mengetahuinya. Tetapi, kasus ini cukup jarang,” katanya.

Disinggung tentang penyebab terjadinya kembar siam conjoint twin parasitic, Tengku menegaskan, perlu penelitian untuk mengetahuinya. Tetapi beberapa di antaranya dikarenakan faktor gizi dan lingkungan.

“Setidaknya, tindakan bidan sudah sangat tepat. Dia langsung mengantarkan bayi ke rumah sakit. Mungkin ini karena pengalamannya,” katanya.

Sumber : http://klik-galamedia.com