Kembar Siam Parasitik,Berkaki Tiga dan Berkelamin Ganda

by -35 views

Kembar Siam Parasitik,Berkaki Tiga dan Berkelamin Ganda

Jatinangorku.com – Ginan Septian Nugraha, bayi kembar siam conjoint twin parasitic ternyata memiliki tiga kaki dan dua alat kelamin pria yang menempel di langit-langit mulut. Hingga, Selasa (24/9), tim dokter Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) hingga kini masih terus melakukan observasi untuk melakukan pemisahan bayi tersebut.

“Kita masih terus memeriksa kondisi bayi. Karena untuk melakukan pemisahan perlu memenuhi syarat tertentu. Kita ingin meminimalisasi risiko terhadap kondisi Ginan,” ujar Direktur Utama RSHS, dr. H. Bayu Wahyudi, M.P.H.M., Sp.Og. di RSHS, Selasa (24/9).

Bayu mengungkapkan, dari hasil pemeriksaan ditemukan tiga kaki dan dua penis. Tetapi tidak ditemukan anus di bagian tersebut. Sehingga bagian yang menempel di mulut Ginan tidak disebut bayi, tetapi parasit.

Untuk berkembang, kaki yang menempel memperoleh asupan oksigen dan darah dari tubuh Ginan. 

“Ini memang kejadian extraordinary. Jarang sekali terjadi dan subspesialistik. Hanya ada kaki dan kelamin tanpa ada badan, kepala, dan tangan,” ujar Bayu.

Sedangkan Ginan, lanjut Bayu, dalam kondisi sempurna. “Ginan sempurna. Ada kepala, tangan, kaki, badan. Tetapi untuk organ dalamnya memang kita masih terus melakukan pemeriksaan,” katanya. 

Dalam kasus ini, Bayu berpendapat memang perlu segera dilakukan pemisahan. Karena kaki yang menempel di rongga mulut, menyulitkan Ginan untuk bernapas. Tetapi hal itu harus melalui diskusi dan dipertimbangkan secara ilmiah oleh tim yang dipimpin dr. Abdurahman. 

“Harus ada dasar ilmiah untuk melakukan pemisahan. Kita ingin sesempurna mungkin bagi Ginan,” ucapnya. 

Seperti diketahui, Ginan merupakan anak ketiga dari pasangan Aep Supriatna (36) dan Yani Mulyani (33), warga RT 28/RW 10 Kp. Cikadu Desa Ciroyom Hilir, Kec. Cipeundeuy, Kab. Bandung Barat. Ginan lahir secara normal pada Kamis (19/9) lalu melalui bantuan Bidan Imoyowati di rumahnya.

Menurutnya, terjadinya kasus ini disebabkan berbagai faktor. Mulai dari gen hingga lingkungan. Tetapi untuk memastikannya diperlukan penelitian secara ilmiah. 

Disinggung tentang biaya yang harus dikeluarkan untuk melakukan proses pemisahan tersebut, Bayu mengaku belum bisa memperkirakannya. Namun untuk bayi kembar siam Wanda-Wandi menelan biaya lebih dari Rp 1 miliar.

Kendati demikian, Bayu memastikan, RSHS akan berusaha memberikan pelayanan maksimal kepada Ginan. Untuk bisa memperoleh pelayanan tersebut, orangtua Ginan, Aep Supriatna tetap harus memenuhi persyaratan yang telah ditentukan. 

“Ada prosedur yang harus ditempuh oleh pasien. Mulai dari surat rujukan hingga syarat administratif. Untuk memberikan pelayanan, RSHS harus memenuhi standar audit. Karena kita memang selalu diaudit oleh BPK (Badan Pemeriksa Keuangan, red),” jelas Bayu.

Tahun lalu, lanjut Bayu, RSHS mengelurkan dana CSR (corporate social responsibility) sebesar Rp 80 miliar. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp 40 miliar untuk memberikan pelayanan bagi pasien tak mampu.

“RSHS ada untuk melayani masyarakat. Kami pro rakyat miskin. Dari sebanyak 1.126 tempat tidur, sekitar 60 persennya untuk pasien kelas 3,” tuturnya. 

Operasi pemisahan

Sementara itu, ibu bayi Ginan Septian Nugraha, Yani Mulyani (33) berharap anak ketiganya ini bisa segara menjalani operasi pemisahan, sehingga bisa berkumpul dengan keluarganya. Namun, ia merasa kebingungan dengan biaya operasi yang mahal.

“Saya menginginkan anak saya secepatnya dioperasi sehingga bisa berkumpul bersama keluarga, tapi kalau dioperasi pasti mahal sekali ya,” ungkap Yani saat ditemui di rumahnya, Selasa (24/9).

Yani mengaku pasrah dengan kondisi anaknya dan ikhlas menerimanya, walaupun pada awalnya dia merasa berat menerima keadaan anaknya ini. 

“Hingga sekarang saya belum melihatnya. Saya tahu kondisinya dari suami saya,” ungkapnya sambil menahan tangis. 

Seusai melahirkan, Yani mengalami pendarahan yang hebat. Setelah kondisinya stabil, Yani baru menanyakan anaknya kepada ibu kandungnya, Julaeha (64). Setelah mengalami pendarahan, Yani langsung pingsan dan setelah sadar belum mengetahui keadaan Ginan. 

Meski belum menjenguk dan melihat kondisi Ginan, Yani selalu mendapatkan kabar mengenai perkembangan kesehatan Ginan dari suami serta kakaknya, yang setiap hari berada di RSHS. 

“Setiap hari saya mendapat kabar dari suami. Yang pasti saya ingin anak saya diselamatkan dan bisa cepat kembali ke rumah,” jelasnya.

Sumber : http://klik-galamedia.com