Kementerian PU Belum Balas Surat Tentang Pembangunan Jalan Layang

by -63 views
Jatinangorku.com – SEJUMLAH kendaraan menembus banjir di Jalan Raya Bandung-Garut, tepatnya di depan PT Kahatex dan kawasan industri Dwi Papuri di Kec. Cimanggung, Kab. Sumedang, Minggu (5/4/2015). Untuk menghindari banjir, Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kab. Sumedang sudah melayangkan surat kepada Kementerian Pekerjaan Umum untuk pembangunan flyover (jalan layang) di Jalan Raya Bandung-Garut. Hanya saja, suratnya sampai sekarang belum ada jawaban.*
 

SUMEDANG, (PRLM).-Kementerian Pekerjaan Umum hingga kini belum menjawab surat yang diajukan Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kabupaten Sumedang, terkait usulan pembangunan flyover (jalan layang) di Jalan Raya Bandung-Garut.

Padahal, pembangunan jalan layang dari mulai gerbang tol Cileunyi, Kab. Bandung hingga Parakanmuncang, Kec. Cimanggung, Kab. Sumedang itu, menjadi solusi untuk menghindari banjir tahunan yang merendam badan Jalan Raya Bandung-Garut.

Apalagi banjir yang berlokasi di depan PT Kahatex dan kawasan industri Dwi Papuri, Kecamatan Cimanggung dengan ketinggian 50-70 cm tersebut, seringkali memutuskan arus lalu lintas Bandung-Garut hingga beberapa jam.

Bahkan sempat arus lalu lintas di jalan strategis yang menghubungkan jalur selatan Jawa Barat dengan Jawa Tengah itu, terputus hingga 13 jam lamanya. Tak pelak, banjir langganan setiap musim hujan itu mengganggu akses transportasi dan melumpuhkan perekonomian warga.

“Kami sudah mengajukan surat usulan pembangunan flyover dari gerbang tol Cileunyi sampai Parakanmuncang kepada pemerintah pusat (Kementerian PU-red), tahun kemarin. Namun, sampai sekarang belum ada jawabannya. Kami juga masih menunggu jawaban surat dari pusat,” kata Kepala Dinas Bina Marga dan SDA Kab. Sumedang, Sujatmoko di Sumedang, Selasa (7/4/2015).

Ia mengatakan, usulan pembangunan jalan layang dari gerbang tol Cileunyi hingga Parakanmuncang itu sepanjang 7 km. Namun, berapa kebutuhan anggarannya belum diketahui karena harus dibuat DED (detail engineering desaign) terlebih dahulu.

Pembangunan jalan layang itu, kewenangan Kementerian PU sehubungan statusnya jalan negara yang menghubungkan Provinsi Jawa Barat dengan Jawa Tengah melalui jalur selatan.

“Sementara kami yang mempunyai wilayah, hanya sebatas mengusulkan saja. Bahkan usulan pembangunan jalan layang disampaikan langsung oleh Pak Bupati (H. Ade Irawan-red) tahun kemarin,” ucapnya.

Menurut Sujatmoko, pembangunan jalan layang dinilai sangat penting dan strategis guna menghindari banjir tahunan di Jalan Raya Bandung-Garut, tepatnya di depan PT Kahatek dan kawasan industri Dwi Papuri.

Dengan pembangunan jalan layang, arus kendaraan dari arah Bandung menuju Garut, Tasikmalaya, Ciamis hingga ke Jawa Tengah dan dari arah sebaliknya, tidak akan terjebak banjir. Apalagi banjir tersebut memutuskan arus lalu lintas hingga menyebabkan kemacetan kendaraan hingga beberapa kilometer.

“Ketika terjadi banjir yang merendam badan jalan, kendaraan dari luar kota dari arah Bandung ke Tasikmalaya dan Ciamis dan dari arah sebaliknya, bisa menggunakan jalan layang. Sementara angkot dan kendaraan warga lokal, menggunakan jalan bawah,” ujarnya.

Lebih jauh ia menjelaskan, membangun jalan layang dinilai lebih baik ketimbang mengatasi banjir dengan memperlebar alur sungai dan mengeruk sedimentasi. Sebab, pelebaran alur sungai otomatis harus menaikan sejumlah jembatannya.

Sementara pembangunan jalan layang, manfaatnya multi fungsi. Tak hanya menghindari banjir saja, melainkan menghindari kemacetan kendaraan saat jam masuk dan bubaran karyawan pabrik, termasuk kesemrawutan pedagang kaki lima dan pasar kaget.

Dengan jalan layang, bisa mempercepat jarak tempuh kendaraan. Oleh karena itu, pembangunan jalan layang sudah diterapkan di kota-kota besar.

Seperti halnya di Kota Bandung, ada jalan layang pasupati dan Kiaracondong. Begitu pula jalan layang di Cimahi.

“Karena manfaat pembangunan jalan layang ini multi fungsi, sehingga kami sangat mengharapkan pemerintah pusat merealisasikan usulan pembangunan jalan layang di Jalan Raya Bandung-Garut. Saya yakin, Kab. Bandung pun mengajukan hal yang sama karena banjir di Jalan Raya Bandung-Garut ini berbatasan langsung dengan wilayah Kab. Bandung,” tuturnya.

Menyinggung upaya penanganan banjir cileuncang di jalan alternatif Jalan Cadas Pangeran atas yang bisa memicu longsor di jalan utama Jalan Cadas Pangeran bawah, Sujatmoko tak memungkiri di Jalan Cadas Pangeran atas acapkali terjadi banjir cileuncang ketika hujan besar. Banjir tersebut, buangan air dari dataran tinggi di Desa Cijeruk, Kec. Pamulihan.

Jika tak segera ditangani, tak dipungkiri banjir cileuncang bisa memicu longsor tebing di jalan utama Jalan Cadas Pangeran bawah. Banjir itu juga merusak jalan sehingga menyebabkan jalan berlubang di beberapa titik.

“Untuk menangani banjir cileuncang di jalan alternatif itu, selokan di bahu jalannya harus diperlebar. Pelebaran selokan itu untuk menampung sekaligus mengalirkan buangan air dari dataran tinggi di daerah Cijeruk. Insya Allah, tahun depan kita anggarkan untuk pelebaran selokan, sekalian dengan peningkatan kualitas jalannya. Namun, karena jalan alternatif ini berada di kawasan hutan lindung Perhutani, sehingga kami harus meminta izin dulu,” tuturnya

Sumber : http://www.pikiran-rakyat.com/