Kenaikan TDL Beratkan Pengusaha

by -13 views

Kenaikan TDL Beratkan Pengusaha

Jatinangorku.com – Sejumlah pengusaha tekstil dan garmen yang tersebar di wilayah Kecamatan Jatinangor dan Cimanggung, Kab. Sumedang, menyatakan keberatan dengan rencana kenaikan tarif dasar listrik (TDL) yang akan diberlakukan pemerintah pada Mei 2014. Keluhan serupa juga disampaikan sejumlah pengusaha tekstil dan garmen di wilayah timur Kab. Bandung yang meliputi Kec. Rancaekek, Solokanjeruk, Majalaya, Paseh, Cicalengka, Cikancung, dan kecamatan lainnya.

Berdasarkan informasi di lapangan, Senin (17/2), rencana kenaikan TDL untuk golongan industri secara terukur antara 36-38%. Perwakilan pengusaha di wilayah timur Kab. Bandung, Prawira menyatakan, rencana kenaikan TDL itu menjadi pembahasan di kalangan para pengusaha.

“Banyak pengusaha yang mulai membicarakan dan membahas hal itu. Yang jelas, para pengusaha keberatan dengan rencana kenaikan TDL,” kata Prawira kepada “GM”, kemarin.

Alasan pengusaha mengeluhkan hal itu, kata Prawira, karena para pelaku industri tekstil baru saja dibebani dengan kenaikan upah minimum kabupaten (UMK) Bandung 2014 sebesar Rp 1.735.473. Sebelumnya, UMK Bandung 2013 Rp 1.388.333 atau ada kenaikan sekitar 25 persen.

Kondisi serupa dialami para pengusaha di Kab. Sumedang dan kabupaten lainnya. “Beban pengusaha tak hanya persoalan UMK, juga proses perizinan dan pajak serta restribusi yang menjadi kewajibannya. Belum lagi kebutuhan bahan bakar batu bara yang harus dipenuhi,” katanya.

Karena itu, banyak pengusaha yang tak berharap adanya kenaikan TDL karena bisa berdampak pada harga-harga produksi dan kebutuhan rumah tangga. 

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kab. Sumedang sekaligus Direktur Utama PT Sandang Jaya Makmur, TT Hidayat Sugandi menyatakan, kenaikan TDL akan berdampak sangat besar terhadap kelangsungan industri di wilayahnya. “Kenaikan TDL jangan sampai terjadi,” katanya.

Meski sejauh ini beberapa pengusaha belum menyampaikan keluhan pada dirinya, tetapi kenaikan TDL akan menimbulkan dampak terhadap perusahaan yang menggunakan energi listrik, seperti garmen, makanan, minuman, tekstil, dan sepatu.

Dikatakan, perusahaan-perusahaan tersebut berpotensi menaikkan nilai jual produksi jika pemerintah menaikkan TDL pada Mei mendatang. Jika para pengusaha terus dibayangi dengan kenaikan TDL, mereka berpotensi memindahkan asetnya ke negara lain. “Negara lain siap menampung,” katanya.

Perusahaan yang mudah hengkang itu di antaranya industri tekstil, sepatu, makanan, dan minuman serta perusahaan lainnya. Sementara industri tersebut menyerap tenaga kerja cukup banyak. Menurutnya, adanya potensi itu karena efisiensi energi listrik di negara lain diinformasikan lebih bagus.

Pada dasarnya, tambahnya, para pelaku usaha menyetujui adanya upaya pemerintah mencabut subsidi energi listrik secara bertahap. Subsidi listrik pun akan dihilangkan hingga Desember 2014. “Dengan adanya rencana kenaikan TDL Mei mendatang, sejumlah pengusaha menyatakan keberatan,” katanya.

Selain dihantui rencana kenaikan TDL, kata Hidayat, pengusaha juga dihantam dengan persoalan nilai rupiah yang tidak stabil terhadap nilai tukar uang dolar Amerika. “Ketidakstabilan nilai tukar rupiah ke dolar Amerika, menyebabkan biaya produksi melambung. Pasalnya, banyak di antara perusahaan industri yang memanfaatkan bahan baku dari impor,

Sumber : http://www.klik-galamedia.com/