Kerajaan Sunda Itu Fakta, Bukan Mitos

by
Kerajaan Sunda Itu Fakta, Bukan Mitos
Kerajaan Sunda Itu Fakta, Bukan Mitos

Kerajaan Sunda Itu Fakta, Bukan Mitos

Jatinangorku.com – Sejarawan Universitas Padjadjaran (Unpad) Nina Herlina Lubis menepis pernyataan yang menyebutkan Kerajaan Sunda itu hanya mitos belaka.

“Saya sebagai sejarawan dan seorang guru besar ilmu sejarah menjamin. Berdasarkan bukti historis primer, Kerajaan Sunda itu fakta. Bukan mitos seperti yang dikatakan Ajip Rosidi. Itu salah besar,” kata Nina seusai seminar bertajuk Storyline Sejarah Jawa Barat di Museum Sri Baduga, Jalan Peta Kota Bandung, belum lama ini.

Keabsahan itu sama dengan Prabu Siliwangi yang faktual. Menurutnya, Prabu Siliwangi itu merupakan pimpinan Kerajaan Sunda. Diduga, kata dia, sebutan itu merupakan gelar yang diberikan untuk Paduka Sri Baduga Maharaja.

Dia memastikan fakta itu usai melihat adanya sumber primer yang menyebutkan keberadaan Kerajaan Sunda sejak dulu dikenal dunia internasional. Dokumen itu tersimpan baik di Arsip Nasional Torre do Tombo, Lisboa. “Saya sudah lihat dokumen itu di sana,” imbuhnya.

Selain itu, kata dia, dunia internasional mengakui adanya Perjanjian Tordesilas (1494) tentang pembagian wilayah antara Spanyol dan Portugis. Itu pun disebutkan tugu peringatan yang disebut Padrao. Batu peringatan setinggi 165 cm itu menandai perjanjian Kerajaan Sunda-Portugis pada 1522.

“Di Indonesia, Padrao serupa ditemukan di sudut Jalan Kali Besar Timur dan Jalan Cengkeh, Jakarta Barat pada 1918. Sekarang, Padrao itu tersimpan di Museum Nasional Republik Indonesia. Di sini kita buat replikanya,” ujarnya.

Selain itu, Nina pun mengungkapkan saat itu Kerajaan Sunda dipimpin seorang raja yang demokratis. Pasalnya, saat itu Prabu Siliwangi menerapkan konsep Tritangtu di Buana. “Jadi, selain raja, sebagai eksekutif konsep tritangtu itu menempatkan dalam posisi sejajar antara ulama yang saat itu disebut pandita dan adanya kelompok legislatif,” tuturnya.

Meski kerajaan ini mengikuti agama Hindu, namun falsafahnya berbeda. Di Sunda itu, kata dia, agama asli menempatkan Hyang di atas segalanya. Itu berlanjut hingga saat merebaknya agama Hindu. Hyang ditempatkan pada urutan paling atas di antara dewa-dewa Hindu.

Di bagian lain, Nina menyebutkan bahasa yang dipakai dalam Kerajaan Sunda sebelumnya pun demokratis yang tidak mengenal undak-unduk basa. Kalau pun ada, undak-unduk basa Sunda itu lebih dikarenakan kerajaan ini sempat dijajah Kerajaan Mataram selama 50 tahun (1620-1667). “Karena dijajah Mataram itu, bahasa Sunda jadi feodal,” imbuhnya.

Terhadap berbagai pendapat yang menyebutkan Kerajaan Sunda selama ini, dia menilai itu lebih dikarenakan minimnya bukti tentang Kerajaan Sunda. “Di negara kita jumlahnya sangat minim. Tapi, di luar negeri seperti Belanda, Prancis, dan bahkan Amerika serta Australia, data mengenai Kerajaan Sunda begitu banyak ditemukan,” terang Nina.

Penyebab lain yakni dikarenakan tradisi menulis orang Sunda yang kurang. Apalagi, Sunda itu hanya menyukai simbol-simbol. Ujungnya, di Tatar Sunda itu tidak ditemukan adanya candi atau bangunan monumental seperti yang ada di Jawa Timur, Yogyakarta, maupun Jawa Tengah.

Sementara itu, untuk mengungkap nilai-nilai adiluhung kejayaan Kerajaan Sunda melalui bukti tinggalannya, pada 19-30 November ini Museum Sri Baduga menyajikan pameran khusus bertajuk Jejak Kerajaan Sunda.

“Untuk itu, kita mengajak kepada pelajar dan masyarakat umum se-Bandung Raya untuk datang ke museum yang ada di Jalan BKR ini,” kata Ani Ismarini, Kepala Museum Sri Baduga.

Untuk menggaet generasi muda untuk lebih peduli sejarahnya, dalam pameran itu pihaknya menggelar pameran foto fieldtrip yang dibuat mahasiswa peserta fieldtrip Jejak Kerajaan Sunda.

“Foto-foto itu bikinan mereka yang melakukan perjalanan langsung di beberapa situs terkait Kerajaan Sunda di Kabupaten Ciamis dan Bogor. Itu dilakukan agar mereka, generasi muda bisa lebih apresiasi,” ujar Ani yang lulusan SMA St Angela Bandung itu

Sumber : http://www.inilahkoran.com