Kerajinan Patung Jatinangor Terasing di Negeri Sendiri

by -230 views


JATINANGOR (26/6)

Selain pada masa lalu kerap diburu oleh wisatawan yang datang ke Jatinangor, kerajinan patung karya perajin Jatinangor juga melanglang ke mancanegara. Masalahnya, kendati kerajinan patung Jatinangor sudah masuk pasaran ekspor,  seperti Jerman dan Amerika Serikat, namun pemasaran produk itu harus melalui kota lain, seperti Bali atau Jogjakarta. Itu disebabkan, Kabupaten Sumedang belum menjadi tujuan utama wisata di Indonesia.

Kepala Pusat Pengembangan Usaha Kecil dan Menengah Institut Manajemen Koperasi Indonesia (Ikopin), Dedi Supriadi, mengatakan, pemasaran produk buah karya perajin Jatinangor itu tak bisa dilepaskan dari kepariwisataan.

“Selama ini Bali dan Jogjakarta dikenal sebagai tujuan wisata utama di Indonesia. Banyak turis dari mancanegara yang mendatangi dua tujuan wisata itu. Untuk memudahkan pemasaran, terpaksa produk perajin dari Jatinangor harus dijual dan diekspor melalui dua kota itu,” kata Dedi, di ruang kerjanya, Senin (17/9).

Dedi mengatakan, selain sangat bergantung kepada destinasi wisata, pemasaran produk perajin di Jatinangor juga tidak bisa dilepaskan dari selera pasar. Dalam penentuan model ukiran kayu yang dibuat oleh perajin misalnya, model yang dijadikan acuan justru yang berasal dari luar Kabupaten Sumedang.

“Konsumen yang berasal dari mancanegara banyak menyukai ukiran Dayak dari Kalimantan atau Asmat dari Papua. Berdasarkan kondisi itu, perajin sebatas menyesuaikan dengan keinginan pasar. Ke depan, model-model ukiran kayu itu bisa saja dibuat dengan mengedepankan nilai-nilai budaya Sunda. Itu sesuai dengan visi Kabupaten Sumedang yang ingin menjadi puseur budaya Sunda,” kata dia.

Dikatakan Dedi, jika dilihat dari kualitas sumber daya manusia (SDM), perajin patung di Jatinangor, justru memiliki kelebihan dibandingkan dengan perajin yang berasal dari daerah lain. Jika dilihat dari kerapihan dalam membuat kerajinan misalnya, hasil kerajinan ukiran kayu dari perajin di Jatinangor lebih baik dibandingkan perajin yang berasal dari Suku Asmat Papua.

“Produk dari perajin ukiran kayu Jatinangor lebih halus dibandingkan dengan ukiran kayu dari Papua,” imbuh Dedi. (DEDE SUHERLAN)

sumber : jabartoday