Kesempurnaan Wanita dan Kekurang-sempurnaan Pria

by -18 views

Kesempurnaan Wanita dan Kekurang-sempurnaan Pria

Jatinangorku.com – Seorang bayi yang baru lahir diletakkan di dada seorang ibu dan dibiarkan mencari sendiri puting ibunya. Demikian saran dari pakar psikologi dari Barat agar Sang Bayi dengan nalurinya berjuang untuk mendapatkan sumber kehidupannya. Selama 9 bulan sebagai janin, bayi tinggal tenteram dalam rahim ibunya dan segalanya telah tercukupi. Bagi anak bayi yang baru lahir, payu dara ibu adalah sumber kehidupannya. Masalah apa pun yang dihadapi, saat Sang Bayi berada di dekat payudara ibunya, dia akan tenang kembali.

            Ketika bayi ini menjadi dewasa, dan bila ia seorang perempuan, ia menemukan sumber kehidupan itu ada di dalam dirinya. Ia menjadi sumber kehidupan. Celakanya, bila bayi yang menjadi dewasa ini seorang pria, ia merasakan betul perpisahan dari sumber kehidupan itu. Ia merasa kehilangan sesuatu yang penting sekali. Dan, ia pun mencari sumber itu dalam sosok perempuan yang lain. Tidak heran, bila seorang pria selalu memperhatikan payudara perempuan. Seorang pria yang merasa tidak sempurna, memerlukan sumber kehidupan itu, dan dia kawini seorang perempuan. Seorang duda pun masih merasa belum sempurna, sehingga biasanya ingin kawin lagi. Tidak demikian dengan seorang janda, dia merasa sudah sempurna, sehingga sanggup hidup lajang sampai akhir hayatnya.

            Dilihat dari chromosom-nya, pria mempunyai kode XY dan masih membutuhkan X ganda untuk kesempurnaanya. Sebetulnya tidak harus seorang wanita, seorang sahabat pria atau Guru dengan kode XY pun cukuplah. Sedangkan wanita dengan chromosom XX sudah merasa sempurna. Sebetulnya kesempurnaan bukanlah suatu benda. Kesempurnaan adalah perasaan,rasa. Bila seseorang merasa sempurna, sempurnalah orang itu. Seorang pria merasa tidak sempurna, hingga suatu ketika ia menemukan sumber kehidupan ke”perempuan”an di dalam dirinya. Kemudian dia merasa sempurna dan tidak akan kawin lagi walau menduda. Kalau seorang pria mulai menggunakan rasa, apalagi nuraninya, dia tidak akan kawin lagi ketika ditinggal mati isterinya. Ada hubungan antara sifat feminin dengan rasa.

            Banyaknya Nabi yang pria, dikarenakan mengajar merupakan sifat Macho, Yang, Pria. Pria  cenderung memakai otak dan menjelaskan segala sesuatu berdasar logika dengan gamblang. Berlainan dengan wanita yang lebih banyak menggunakan rasa. Wanita mempunyai sifat feminin, kasih. Mungkin wanita tidak banyak tahu mengenai teori kasih, tetapi selama 9 bulan dia praktek mengasihi janin yang berada dalam kandungannya. Menurut Guru, banyak wanita yang cerah, tetapi setelah mendapatkan pencerahan, cukuplah pencerahan bagi dirinya dan dia akan menari bersama Ilahi.

            Arjuna adalah contoh pria sejati, lelananging jagad, pria dunia, tetapi sampai pencerahannya Sri Krishna harus bicara berjilid-jilid dalam Bhagavat Gita. Sebaliknya Sang ibu, Dewi Kunthi, bicara blak-blakan dengan Sri Krishna, Krishna aku bodoh nggak punya pengetahuan, tetapi aku yakin, aku beriman kepada-Mu, Krishna tolong buatlah anak-anakku Pandawa dalam keadaan menderita, karena pada waktu menderita mereka akan ingat pada-Mu. Dewi Kunthi cerah dengan tidak perlu mempelajari buku-buku spiritual.

            Bibi Chatijah adalah wanita pertama yang percaya kepada Nabi Muhammad, dan selalu mendampingi Nabi dengan setia sampai akhir hayatnya. Konon, beliau pun selama hidupnya dalam mendampingi Nabi sekitar 28 tahun berumah tangga tidak pernah dimadu Nabi, karena penghormatan nabi terhadapnya. Bunda Santa Maria dan Santa Maria Magdalena tetap menunggui Gusti Yesus di salib sampai diturunkan dari tiang salib, sementara murid-murid prianya konon tidak menungguinya.

            Sudah sewajarnya banyak istilah memakai kata ibu di negeri kita, sebagai penghormatan kepada wanita, misalnya Ibu Kota, Ibu Pertiwi, Ibu Jari, Bunda Ilahi, Bunda Semesta Alam, Bahasa Ibu, Hari Ibu dan lain sebagainya.

            Kasih seorang ibu terhadap putranya berjalan searah, memberi tanpa pamrih untuk menerima apa pun dari anaknya. Matahari juga hanya bersinar menerangi dan memberi manfaat kepada dunia. Bumi juga hanya memberikan dirinya dan terus berputar agar kehidupan dunia dapat berkelanjutan. Hanya apabila pria ataupun wanita yang selalu memberi tanpa pamrih dapat dikatakan selaras dengan alam semesta. Keselarasan dengan alam semesta akan mendekatkan diri kepada Ilahi.

Sumber : http://triwidodo.wordpress.com