Ketika Kekaguman Pada Idola Sudah Melampaui Batas

by -25 views

Ketika Kekaguman Pada Idola Sudah Melampaui Batas

Jatinangorku.com – Cukup banyak kita dengar cerita, seorang penggemar sanggup melakukan hal-hal di luar kewajaran demi sang idola. Kapan saatnya Anda perlu waspada ada yang tak beres?

Ketika boy band Korea Super Junior datang ke Indonesia saja, betapa kita dibuat takjub dengan kerelaan banyak remaja (dan mungkin yang lebih dari remaja) menginap (ala kadarnya) di bandara hanya agar dapat melihat langsung sang idola. Berharga untuk dilakukan tidak, sih?

Sesuatu yang berlebihan, tentu tidak baik

“Apa yang mereka (penggemar tingkat tinggi) lakukan, seringkali tidak dapat dijelaskan dengan alasan-alasan logis dan realistis,” buka Anggia Chrisanti Wiranto, konselor dan terapis EFT (emotional freedom technique) di biro psikologi Westaria (www.westaria.com). “Tidak mengenal usia, tidak mengenal jenis kelamin, tidak mengenal profesi. Saat ‘demam’ melanda, jadi seperti gelap mata. Apa pun bisa dilakukan,” imbuhnya.

Bukan hanya ketika sedang tren K-pop, atau mungkin Lady Gaga dan Justin Bieber, kegilaan terhadap idola terjadi. Sejak dulu kala, sudah terjadi di seluruh dunia. John Lennon, Michael Jackson, Madonna, dan lain-lain begitu digila-gilai penggemar fanatik. Dalam area lokal pun cukup banyak artis yang membuat “demam” penggemarnya. Syahrini misalnya, memiliki banyak haters (pembenci), tapi lebih banyak lagi penggemar setia yang selalu mendukung setiap langkahnya.

Fanatisme juga tidak sekadar kepada the real artist (manusia sungguhan). Tentu kita juga cukup sering melihat atau menemukan orang-orang yang begitu menggila-gilai karakter fiktif tertentu, seperti Superman, Angry Birds, Princess Barbie, dan sebagainya. “Sekali lagi, ini tidak melulu dilakukan anak kecil atau remaja, juga tidak selalu perempuan. Tua dan muda, laki-laki sekalipun, berlomba mewujudkan kecintaannya kepada apa yang ‘dicintainya,'” tegas Anggia.

Sesekali boleh untuk terlibat dengan sesuatu yang sedang happening. Tidak ada salahnya. Hanya saja, sesuatu yang berlebihan, tentu tidak baik. Sebutlah dana yang dihabiskan — walau banyak yang beralibi “uang tidak masalah” asalkan mencapai ini-itu yang dicintainya, waktu yang dihabiskan saat kemudian kegemaran menjadi suatu obsesi — memburu segala hal tentang sang idola sampai ke sana kemari. jika hal tersebut dikaitkan dengan sisi psikologis, tentu obsesi dan fanatisme menimbulkan pertanyaan, “apa dan kenapa”. Anggia memerincinya sebagai berikut:

Tanda perilaku “immature”

Terlepas kepada apa dan siapa obsesi dan fanatisme ditujukan, tentu dengan mencintai dan mengagumi sesuatu dengan berlebihan, dapat diasumsikan adanya sebuah perilaku immature (tidak dewasa). Bahwa pada setiap orang dewasa selalu ada sisi kanak-kanak, itu benar. Hanya saja, jika sifatnya terlalu, dikhawatirkan mendominasi kepribadian secara keseluruhan individu ini.

Sebagai orang dewasa, seharusnya Anda cukup punya kepuasan dan kebanggaan terhadap diri sendiri. Apalagi jika kemudian dikaitkan dengan tugas perkembangan fase dewasa, misalnya, bekerja (aktualisasi diri) atau membentuk keluarga dan tugas ini dihayati dan dilakukan secara optimal. Maka seharusnya, tidak cukup banyak waktu dan dana yang bisa dihamburkan untuk mengejar obsesi dan fanatisme ini.

Muncul karena peran lingkungan

Setiap manusia di usia berapa pun, pastilah ia anak dari orang tuanya. Dan anak adalah produk, yang mana orang tua sebagai pabriknya. Maka, bagaimana seseorang saat ini, tidak bisa dipisahkan dari peran orang tua dalam  membentuknya. Seorang dewasa yang memiliki obsesi dan fanatisme kepada sesuatu atau seseorang, pada dasarnya ini bukanlah perilaku yang tiba-tiba ada begitu saja. Ini sudah ada bibitnya sejak dulu, yang secara sadar atau tidak, ditanamkan orang tuanya.

Berkembang dengan bantuan media

Majalah dan televisi bukan hal yang masih harus kita ributkan. Itu sudah pasti dan jelas pengaruhnya. Saat ini ada juga media dunia maya, seperti Facebook, Twitter, dan lain-lain, yang telah memudahkan seseorang untuk (merasa) lebih dekat dan lebih mudah berinteraksi dengan sosok yang dikaguminya. Bahkan bukan hanya mudah, tapi diciptakan sedemikian rupa — melalui fan page, follow Twitter, dan lain-lain yang sebetulnya adalah sarana dagang bagi si artis atau tokoh fiktif sekalipun — agar booming atau happening.

Waspadai sebagai penyakit psikis

Rasa suka dan kagum sangat lumrah dan wajar. Sekali lagi, yang menjadi masalah adalah jika semua itu “kebablasan” atau serbaterlalu yang pada akhirnya dikatakan sebagai obsesi dan fanatisme. Hati-hati! Jika ini dibiarkan akan menjadi “penyakit” (sakit psikis). Bisa menimbulkan halusinasi — misalnya merasa diri adalah kembaran sang idola atau kekasihnya; bisa menyebabkan sakit fisik — misalnya demam karena tidak kesampaian menonton konser; dan yang paling pasti adalah mental age yang tidak cukup berkembang — childish atau kekanak-kanakan, dan tidak mau dan tidak mampu mengoptimalkan kehidupan secara seimbang dan merata terkait peran dan fungsi maupun tugas perkembangan itu sendiri.

Sumber : http://www.tabloidbintang.com