Kisah Yulinar yang Diracun, Diculik, Dijual Kenalan FB ke Malaysia

by -58 views

yuli-jatinangorjatinangorku.com – Hati-hati dengan kenalan baru di jejaring sosial. Teman baru di facebook, walaupun sesama jenis kelamin, bisa membahayakan dan menjerumuskan kita. Ini seperti dialami Yulinar remaja yang masih duduk di bangku kelas dua SMP. Dia menjadi korban penculikan dan dijual untuk dijadikan pembantu rumah tangga di Malaysia. Seperti apa cerita selama enam minggu disekap para penculik itu?

Berikut kisahnya. 

SIANG itu, sekitar pukul 13.00 WIB, suasana kediaman Maemunah (65) warga Dusun Sindang Rendah RT 2/ 1, Desa Jatihurip, Kecamatan Sumedang Utara, ramai dipenuhi orang. Tidak seperti biasanya rumah berukuran 13 x 10 meter ini, mendadak jadi serbuan warga setempat.

Hal yang wajar, karena mereka penasaran dengan apa yang menimpa Yulinar, cucu Maemunah. Untuk memastikannya, Sumeks pun berkunjung ke sana. Ternyata, Yulinar (14) telah kembali ke rumahnya setelah disekap penculik selama satu bulan, dua minggu.
Pantas bila kediamannya dikerumuni warga yang ingin menengok gadis yang masih duduk di bangku kelas dua SMPN 3 Cimalaka. Isak tangis pun tak terbendung membuat suasana menjadi terharu bercampur gembira.

Yulinar hilang 12 Mei lalu, nampak begitu gembira bisa kembali menginjakkan kaki di rumahnya. Begitu pula dengan kedua orangtuanya, paman, nenek, adik-adiknya serta teman dan kerabat lainnya. Kecemasan yang selama ini menyelimuti keluarga, pupus sudah.

“Alhamdulilah cucu saya masih sehat dan selamat dari para penculik. Kami sekeluarga begitu khawatir selama Yulinar bersama mereka. Sampai-sampai saya jatuh sakit memikirkan kondisi cucu saya ini. Takutnya terjadi hal yang tidak diinginkan. Tapi sekarang ini saya dan keluarga begitu bersyukur sekali, karena cucu saya berhasil kabur dan dapat kembali ke rumah dengan keadaan baik-baik saja,” kata Maemunah dengan mata yang berkaca-kaca.

Ditanya mengenai awal terjadinya penculikan, Yulinar pun langsung bercerita. Itu bermula pada malam Minggu 12 Mei, lalu. Awal terjadinya kejadian tersebut Yulinar janji bertemu dengan seorang wanita yang baru dikenalnya dari jejaring sosial Facebook. Gadis itu datang dengan perempuan lain yang diketahuinya sebagai orangtua temannya itu. Tidak lama, Yulinar langsung diajak makan mie ayam di pinggir jalan sambil berbincang-bincang. Namun setelah Yulinar meminum-minuman yang diberikan wanita itu, langsung saja tidak sadarkan diri. Sampai akhirnya dia pun dibawa pergi oleh kedua gadis itu, entah kemana tak mengetahuinya.

Tidak lama, Yulinar akhirnya sadar dan ternyata sedang berada di Alun-alun Sumedang. Tapi seketika itu Yulinar langsung diberi lagi minuman yang kembali membuatnya tidak sadarkan diri. Beberapa jam kemudian, menjelang pagi hari Yulinar mulai kembali sadar. Dengan keadaan terbaring di lapang Tegallega Bandung.

“Mereka berdua adalah perempuan semua. Salah satunya adalah teman baru di Facebook yang mengajak ketemu untuk ngobrol. Tapi setelah diberi minuman yang diberikannya entah kenapa saya tidak sadar. Tahu-tahu saya berada di Alun-alun Sumedang dengan mereka. Tapi saat saya sadar mereka memberi minuman lagi yang membuat saya kembali tidak sadar. Dan tiba-tiba saat matahari terbit saya kembali sadar dan ternyata berada di lapangan Tegallega Bandung. Dalam hati saya bertanya-tanya kenapa ini bisa terjadi. Begitu juga saat saya dikasih minuman itu saya malah meminumnya tanpa bisa mengelak tawaran itu,” tutur Yulinar saat duduk di kursi tengah rumah bersama Neneknya.

Selanjutnya, Yulinar kembali dibawa naik kendaraan roda empat oleh kedua wanita itu. Namun dalam keadaan sadar, mata Yulinar ditutup kain. Hingga Yulinar tidak tahu dirinya akan dibawa ke mana. Saat mencoba bertanya, hasilnya percuma karena mereka malah menyuruhnya diam. Setelah menempuh jarak yang jauh sampai enam jam lebih, dirasakannya seperti masuk ke sebuah rumah kosong yang entah di mana. Ternyata benar saja, saat tutup matanya dibuka Yulinar tengah berada di rumah kosong yang gelap.
Saat itu, dia kembali mencoba menanyakan keberadaannya di mana, yang akhirnya penculik itu menjawab bahwa sekarang ia berada di Jakarta.

Selama hampir sebulan lebih Yulinar disekap dan dijaga oleh orang-orang yang berbeda. Begitu pula dengan ancaman yang dilakukan penculik itu sering kali dilakukannya terhadap Yulinar dengan benda, agar tidak melakukan hal macam-macam. Begitu juga, Yulinar disuruh seperti dilatih menjadi seorang pembantu. Namun, Yulinar ini masih beruntung. Para penculik yang menyekapnya tidak sampai melakukan tindakan kekerasan atau pun pelecehan seksual pada gadis remaja ini.

“Sekitar satu bulan lebih saya disekap di dalam rumah kosong yang dijaga. Setiap hari penjaga itu bergantian. Terkadang perempuan dan terkadang juga laki-laki. Selama di dalam sana saya dilatih untuk menjadi seorang pembantu. Seperti mengambil pakaian dari jemuran yang langsung dirapihkan. Tapi saya tanya mereka apa maksudnya, malah mengancam dengan pisau agar saya nurut saja dan jangan banyak bertanya. Karena takut saya juga menuruti perkataan mereka,” terangnya dengan nada lemah.

Rupanya, firasat Yulinar memang benar terjadi. Setelah sebulan disekap di rumah kosong, Yulinar langsung dibawa ke Malaysia dan menjadi pembantu. Dengan mengurus dua rumah, dua anak kecil serta memandikan anjing milik pemilik rumah itu. Perlakuan kasar selalu dialaminya dari majikannya tanpa ada alasan. Tidak sanggup menerima perlakuan itu, Yulinar langsung memberanikan diri untuk kabur dari rumah itu. Dengan meminta pertolongan kepada Polisi Malaysia.

Akhirnya setelah seminggu berada di Malaysia menjadi seorang pembantu, Yulinar dapat kembali pulang ke Indonesia dengan diantar polisi menggunakan kapal laut.
Dalam perjalanan, Yulinar bertemu dengan laki-laki yang baik hati bernama Erik berasal dari Medan. Sehingga kepulangan Yulinar dibantu Erik yang menghubungi keluarganya di Sumedang. Akhirnya setelah lima hari menginap sementara di Medan, Yulinar dijemput pihak Polda Jabar dan dikembalikan kepada keluarganya.

“Di Malaysia hanya satu minggu. Saya beranikan kabur karena pemilik rumah itu selalu menyiksa saya. Saya kabur langsung menemui polisi dan menceritakan kejadian yang terjadi. Untungnya mereka pun langsung membantu saya untuk pulang ke Indonesia. Di perjalanan saya malah ditemukan dengan Erik yang sama-sama pulang bekerja dari Malaysia. Saat itu saya ceritakan keadaan yang menimpa saya kepada Erik. Erik pun mau menolong saya dan mengajak untuk bermalam sementara di rumahnya. Setibanya di Medan, saya langsung menghubungi keluarga saya dan minta dijemput, bahwa saya sudah berada di Indonesia dan lolos dari penculik yang membawa saya pergi. Alhamdulilah sekarang saya masih sehat dan bisa berkumpul kembali dengan keluarga saya,” tandasnya. (**)

sumber: sumedangonline.com