Kondisi Terminal Ciakar Sumedang Merana

by -99 views

Kondisi Terminal Ciakar Sumedang Merana

Jatinangorku.com – Kondisi Terminal Ciakar Sumedang merana. Setiap harinya, terminal tersebut sepi penumpang, kecuali Hari Raya Idul Fitri. Sepinya kondisi Terminal Ciakar, akibat kesalahan penempatan lokasi. Semestinya, penempatan terminal ada di lokasi simpul kepadatan kendaraan.

Seperti halnya di daerah Cijelag, Kec.Tomo. Angkutan umum maupun kendaraan pribadi dari berbagai daerah, setiap harinya melintas di daerah Cijelag. Misalnya, kendaraan dari Cirebon, Majalengka dan Kuningan menuju Jakarta, Subang dan Indramayu.

“Kalau membangun terminal di Cijelag, diyakini terminalnya akan hidup. Setiap harinya banyak angkutan umum dan kendaraan pribadi yang melewati simpul pertigaan Cijelag. Bahkan rata-rata volume kendaraannya cukup tinggi hingga mencapai 600-700 unit kendaraan,” kata Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishub Kominfo) Kab. Sumedang, Teddy Mulyono, ditemui di kantornya, Senin (19/8/2013).

Menurut dia, kendati penempatan Terminal Ciakar di Jalan Prabu Gajah Agung/Bypass di Kec. Sumedang Utara dinilai kurang cocok, namun terminal sudah kadung dibangun dan berdiri di lokasi itu. Guna menghidupkan Terminal Ciakar, tidak ada cara lain kecuali membangun pasar, pusat perbelanjaan serta tempat keramaian di sekitar terminal.

“Idealnya, Pasar Inpres dan Sandang Sumedang dipindahkan ke sekitar terminal. Apalagi lokasi Pasar Inpres dan Sandang di Taman Telur di Jalan Mayor Abdurahman, sudah tidak refresentatif lagi karena berada di pusat kota,” kata Teddy.

Membangun pasar atau pusat perbelanjaan di sekitar terminal menjadi solusi menghidupkan Terminal Ciakar. Sebab, antara fungsi pasar dan terminal akan saling mengisi dan memiliki keterkaitan. Masyarakat yang berbelanja di pasar akan mudah naik angkutan umum.

Begitu pula sebaliknya, terminal akan mudah pula mencari para penumpang di sekitar pasar. Manfaat lainnya, tidak akan ada lagi terminal bayangan penyebab kemacetan dan kesemrawutan wajah kota “Saran saya seperti itu. Itu juga kalau didengar dan diterima oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) untuk dibuatkan program perencanaan,” tuturnya.

Lebih jauh Teddy menjelaskan, tak dipungkiri pemerintah pusat sebelumnya mengeluarkan kebijakan bahwa pembangunan terminal tidak harus dekat pasar. Namun, kebijakan itu cenderung berlaku untuk kota-kota besar yang penduduknya banyak dan pembangunannya dinamis. Meski terminalnya jauh dari pasar, tapi penumpangnya tetap banyak.

“Berbeda dengan daerah kabupaten yang sedang berkembang. Karena jumlah penduduknya kurang dan pembangunannya cenderung statis, lokasi terminalnya harus dekat pasar. ,Dengan otonomi daerah, kita punya kewenangan untuk mengatur penempatan antara terminal dengan pasar,” ujarnya.

Sementara untuk menjaring tingginya volume kendaraan terutama angkutan umum di daerah Cijelag, kata dia, Pemkab Sumedang harus membangun terminal baru AKAP (Antar Kota Antar Provinsi). Lokasi terminal di daerah Cijelag, Kec. Tomo dinilai sangat strategis. Apalagi pengembangan pembangunan fisik akan diarahkan di dua wilayah itu.

“Termasuk sejumlah megaprojek, seperti Waduk Jatigede, tol Cisumdawu (Cileunyi-Sumedang-Dawuan), kawasan industri di Kec. Ujungjaya dan pembangunan Bandara Kertajati, Majalengka. Jadi, kalau di Cijelag dibangun terminal AKAP, akan menambah PAD (Pendapatan Asli Daerah) yang cukup besar,” tutur Teddy. 

Sumber : http://www.pikiran-rakyat.com