Konsep SD di Jatinangor dan Cimanggung Dibangun Secara Bertingkat

by

tut-wuri0jatinangor

SUMEDANG, (PRLM).- Konsep pembangunan ruang kelas baru Sekolah Dasar (SD) di wilayah Kec. Jatinangor dan Cimanggung, akan dibangun secara bertingkat. Pasalnya, ketersediaan lahan di dua kecamatan itu dinilai terbatas. Hal itu, seiring berkembangnya pembangunan perkotaan di dua wilayah tersebut. Selain pemakaian lahan untuk pabrik industri, juga perkantoran dan gedung untuk perdagangan dan jasa.

“Dengan keterbatasan lahan ini lah, sehingga konsep pembangunan ruang kelas baru di Jatinangor dan Cimanggung harus dibangun secara bertingkat,” kata Kepala Bidang Pendidikan Dasar (Dikdas) Dinas Pendidikan (Disdik) Kab. Sumedang, Unep Hidayat di Sumedang, Minggu (25/3).

Menurut dia, pembangunan ruang kelas baru di Kec. Jatinangor dan Cimanggung dengan bangunan bertingkat tersebut, saat ini dinilai perlu. Pasalnya, kondisi SD di dua wilayah itu masih kekurangan ruang kelas baru sebanyak 473 unit. Hal itu, sehubungan rata-rata jumlah siswa dalam satu rombongan belajar (rombel) melebihi 40 siswa. Kondisi tersebut, salah satunya pengaruh jumlah penduduknya relatif banyak dibandingkan kecamatan lainnya di Sumedang.

“Sampai-sampai, satu rombel ada yang mencapai 50 siswa. Dikarenakan siswanya banyak, sehingga perlu membangun ruang kelas baru. Namun, dikarenakan penyediaan lahannya terbatas, sehingga pembangunan ruang kelas barunya harus ditingkat,” ujar Unep.

Namun demikian, lanjut dia, dikarenakan biaya membangun ruang kelas baru lebih besar ketimbang rehab ruang kelas, sehingga pihaknya sudah mengajak komite sekolah untuk turut menyumbangkan sebagian anggarannya. Minimal, komite sekolah bisa menyumbangkan anggaran 10 persen dari total biaya pembangunan.

“Dengan sumbangan anggaran 10 persen, minimal komite sekolah yang membangun fondasinya. Jadi, untuk pembangunan ruang kelas baru di Jatinangor dan Cimanggung, kita upayakan sharing anggaran dengan komite sekolah. Sebab kalau dari anggaran rehab, tidak akan cukup,” katanya.

Unep menambahkan, tak menutup kemungkinan anggaran untuk rehab ruang kelas, digunakan untuk membangun ruang kelas baru. Justru, dinilai lebih bagus. Hanya saja, persoalannya anggarannya tidak bakalan cukup. “Oleh karena itu, guna menanggulangi kekurangan biayanya kita sharing anggaran dengan pihak komite,” tutur Unep. (A-67/A-108) ***

Sumber : Pikiran-Rakyat