Kukuhkan Jatinangor sebagai Kota Budaya dan Pendidikan Kenalkan Seni Tari Klasik

by -272 views

Kukuhkan Jatinangor sebagai Kota Budaya dan Pendidikan Kenalkan Seni Tari Klasik

Jatinangorku.com – Sanggar Tari Jamparing Parikesit (JP) Dusun Sadang, Desa Cibeusi, Kec. Jatinangor menggelar tari klasik dan kreasi di halaman kantor Kecamatan Jatinangor. Kegiatan dimaksudkan untuk mempertahankan budaya daerah, terutama di bidang seni tari untuk meningkatkan citra Jatinangor sebagai kawasan seni budaya.

“Kami fasilitasi anak-anak agar mengenal dan mencintai kesenian daerah. Kalau sudah tahu dan suka pasti cinta. Kalau sudah cinta, pasti mereka ingin mempertahankannya. Makanya, kami fasilitasi dengan Sanggar Tari Parikesit,” kata pimpinan Jamparing Parikesit, Hetty Permatasari kepada “GM” di kantor Kecamatan Jatinangor, Senin (2/6).

Acara merupakan kerja sama sanggar Jamparing Parikesit dengan Direktur Ketahanan Seni, Budaya, Agama, dan Kemasyarakatan, Bidang Kesejahteraan dan Pengembangan Politik (Kesbangpol), Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), dan Dinas Budaya Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disbudparpora) Kabupaten Sumedang.

Menurut Hetty, pergelaran sengaja disuguhkan agar diapresiasi oleh generasi muda. Sebab, katanya, tak sedikit generasi muda yang telah kehilangan jati diri sebagai orang Sunda yang memiliki banyak seni dan budaya.

Bangsa yang besar, lanjut Hetty, adalah bangsa yang mempertahankan jati diri budayanya. “Kita harus belajar dari Jepang yang memegang teguh tradisinya dengan sangat kuat. Jepang menjadi negara modern yang maju tetapi tetap mempertahankan budaya. Dengan demikian jati dirinya semakin tampak di mata dunia,” katanya.

Ditambahkan, “Kita lihat, salah satu yang tetap dipertahankan di Jepang adalah tulisan kanji yang dijadikan tulisan utama dalam setiap momen. Tulisan latin berbahasa Inggris hanya sebagai pendamping.” 

Komitmen pada seni

Jamparing Parikesit mencoba aktif untuk mempertahankan seni tari yang merupakan bagian dari budaya tradisional Sunda. Bahkan, lanjutnya, setiap tahun ada tarian-tarian baru ciptaan Parikesit. Kini, jumlah siswa di sanggar tarinya sekitar 350 dan diharapkan dapat menularkan kemampuan mereka.

“Selain menjadi tempat berlatih tari, Parikesit juga selalu menggelar festival tari dan budaya di beberapa ajang tari, baik tingkat kabupaten, provinsi maupun nasional. Kami pun berkomitmen untuk terus mempertahankan seni tari,” ujar alumnus STSI Bandung angkatan 1995 itu.

Dalam pagelaran itu, lanjutnya, ada pertunjukan Tari Topeng, Dah Dah Neng, Merak, Makalangan, Pamayangan Yudarini, dan Jeta-jete. Pesertanya selain anak-anak usia 4 tahun ke atas, ada pula dari kalangan mahasiswa.

Sementara Camat Jatinangor, Asep Aan Dahlan menambahkan, pergelaran seni tari ini diharapkan dapat menumbuhkan semangat dan kemauan anak-anak untuk mengenal seni tari. Jamparing Parikesit, secara tidak langsung juga menjadi wahana wisata tari.

“Kenapa tidak? Jika Bandung punya Sanggar Angklung Udjo, maka di Jatinangor kami punya Parikesit. Ini momen yang sangat baik untuk mengenalkan Jatinangor sebagai kawasan pendidikan dan budaya,” ungkap Asep.

Sumber : http://www.klik-galamedia.com/