Kumuh dan Menyebabkan Kemacetan, Pasar Kaget Loji Jatinangor Harus Ditata

by -168 views


JATINAGOR (GM) – Sejumlah pihak berharap pasar kaget Loji di Jantingor, Kab. Sumedang segera ditata. Pasar yang beraktivitas setiap Minggu pagi hingga siang di depan gerbang masuk kampus Unpad menuju kawasan Bumi Perkemahan (Buper) Kiarapayung ini menimbulkan kekumuhan dan kemacetan.

“Sejumlah pihak harus segera turun tangan untuk menata aktivitas pasar karena ratusan pedagang di jalan tersebut menimbukan kemacetan dan kekumuhan. Bukannya saya menolak namun alangkah baiknya ditata agar aman dan nyaman,” kata Tri Astuti (21), mahasiswa FISIP Unpad kepada “GM”, Senin (8/10).

Menurut Tri jika ditata Pasar Loji akan menjadi pusat berbelanja sekaligus berwisata. Pasalnya lokasinya berpotensi untuk dikembangkan.

Hal senada dikatakan Dadang (34), warga Cileunyi. Setiap minggu ia membawa istri dan dua anaknya yang masih belita ke Pasar Loji. “Karena terkesan kumuh dan kerap memacetkan, keberadaan Pasar Loji harus segera ditata. Kalau tidak malah akan memunculkan persoalan,” katanya.

Ny. Sri (40) warga Tanjungsari berharap pula sejumlah pihak terutama Paguyuban Warga Jatinangor (PWJ) yang mengelola Pasar Loji tersebut untuk segera turun tangan menata pasar tersebut agar lebih tertib, nyaman dan aman.

“Jika saat ini kondisi Pasar Loji tidak segera dibenahi akan menambah kekumuhan kawasan Jatinangor. Lihat saja sampah menumpuk dimana-mana belum lagi kondisi Saung Budaya Sumedang (Sabusu) yang kini beralih fungsi jadi rumah makan dan rental mobil. Sabusu, kan sejak awal diperuntukkan sentra budaya dan kerajinan khas Sumedang. Mengapa beralih fungsi,” kata Sri

Sementara pantauan “GM”, Minggu (7/10), para pedagang yang sebelumnya berjualan di lahan kampus ITB umumnya sumringah karena meraup untung lebih dibandingkan minggu sebelumnya. Jika sebelumnya mereka hanya mendapat untung 25%, kini hampir 95%.

Ratusan pedagang tersebut menjual pakaian, alat rumah tangga, sepatu, ikat pinggang, hewan, sayuran, buah-buahan, pernak-pernik, bakso hingga sepeda motor.

“Saya tiap hari Minggu selalu berjualan di Pasar Loji karena letaknya strategis dan banyak dikunjungi masyarakat, termasuk mahasiswa. Dibanding minggu sebelumnya, saat ini para pedagang umumnya untung 95 persen,” ujar Asep (40), pedagang celana jins.

Menurut Asep, jins yang dijualnya relatif murah. “Jika di toko di atas Rp 200 ribu saya mah menjual dengan harga Rp 75 ribu saja. Dengan harga tersebut saya bisa meraup untung hingga 95 persen,” katanya.

 

sumber : klik-galamedia