Kurang Fokus, Ekonomi Kreatif di Daerah Kurang Berkembang

by -32 views
Salah satu kendala kurang berkembangnya potensi ekonomi kreatif di daerah-daerah di Indonesia menghadapi gencarnya serbuan produk-produk asing saat ini yakni kurang fokusnya daerah menata kegiatan sub-sub ekonomi kreatif yang akan dikembangkan sebagai produk unggulan daerah yang berdaya saing global.
Keterhubungan dan kolaborasi antarpelaku usaha ekonomi kreatif maupun dengan pemerintah daerah pun belum berjalan secara baik. Usaha ekonomi kreatif cenderung berjalan masing-masing. Sehingga tak mengherankan jika pertumbuhan ekonomi kreatif di Indonesia mengalami kecenderungan menurun.
Padahal konstribusi ekonomi kreatif terhadap pendapatan nasional cukup besar, mencapai sekitar Rp642 triliun. Ketika terjadi kelesuan perekonomian pun, Indonesia masih bisa bertahan justru karena keberadaan usaha-usaha ekonomi kreatif.
Lebih jauh lagi, menghadapi era persaingan global, khususnya guna mencapai target ekonomi kreatif menjadi tulang punggung ekonomi nasional pada 2030, diperlukan sebuah sinergitas antarelemen, khususnya unsur Penta Helix ABCGM, yakni Academic/akademisi, Bussiness sector/pelaku bisnis, Communities/komunitas, Gobernment/pemerintah/pemerintah daerah, dan Media.
Hal itu mengemuka pada Focus Group Discussion (FGD) Pengembangan Ekonomi Kreatif di Daerah Sub Sektor Kuliner dan Kriya Penta Helix Kabupaten Garut digelar Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) Indonesia di Hotel Sabda Alam Cipanas Garut, Kamis (3/11/16).
“Dari 16 subsektor ekonomi kreatif yang ada, harus ada komitmen, Garut mau berapa? Terbanyak di Garut paling tidak fashion, kuliner, dan kriya. Yang tiga ini benar-benar harus difokuskan untuk juga mendukung pariwisata karena Garut kan daerah tujuan wisata. Kalau kita ke Garut sekarang, cenderamatanya apa ? Makanya, pemerintah daerah harus fokus. Jangan mau semuanya. Masyarakat juga mesti ada konsensus,” kata Wakil Ketua Komisi X DPR RI Dapil Kabupaten Garut Kabupaten/Kota Tasikmalaya Ferdiansyah yang menjadi salah satu narasumber FGD.
Dia menegaskan bukan hanya harus fokus namun mesti juga dipertahankan adanya sifat dan nilai-nilai budaya lokal yang menjadi ciri khas produk unggulan ekonomi kreatif daerah yang akan dikembangkan. Termasuk produk ekonomi kreatif Kabupaten Garut.
“Kreativitas dan inovasi mesti mengikuti arus globalisasi tapi sifat budaya jati diri Garut, budaya Sundanya tidak boleh hilang. Mengenai bagaimana bentuknya, itu silahkan!,” ingatnya.
Senada dikemukakan narasumber lainnya Deputi Hubungan Antarlembaga dan Wilayah Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (BEKRAF) Endah Wahyu Sulistiani.
“Tren pertumbuhan ekonomi kreatif di kita ada, tapi jalan sendiri-sendiri. Trennya menurun karena tak ada arah. Produk unggulannya apa?.
Dia mengingatkan potensi ekonomi kreatif di daerah-daerah bukan hanya sekadar menjadi wisata unggulan melainkan harus benar-benar ditata dengan membangun sinergitas Penta Helix serta memupuk kepercayaan diri para pelaku usaha ekonomi kreatif akan kemampuannya berkembang dan bersaing. Sehingga kegiatan ekonomi kreatif yang ditekuni bisa menjadi profesi mendatangkan penghasilan utama keluarga yang bisa diandalkan.
Ekonomi kreatif di Kabupaten Garut, Endah menilai potensinya cukup besar namun sangat terlihat butuh diintervensi dalam hal pengemasan, dan brandingnya. Dukungan pemerintah daerahnya juga masih belum jelas, termasuk perangkat regulasi yang mesti disiapkannya.
Endah berharap melalui FGD Penta Helix Kabupaten Garut itu kompetensi dan peran posisi masing-masing pemangku kepentingan dalam pengembangkan ekonomi kreatif di Garut dapat terpetakan. Sehingga menghasilkan berbagai rekomendasi untuk aktivasi ekonomi kreatif di wilayah Garut dengan melibatkan seluruh unsur Penta Helix yang dapat segera diimplementasikan dalam waktu dekat dengan hasil nyata dan terukur.[ito]