Lahan Harus Dikembalikan Sesuai Fungsi Agar Tak Terjadi Bencana

by -103 views

Banjir bandang sungai Cimanuk di Kabupaten Garut yang menimbulkan berbagai kerusakan dan menelan banyak korban jiwa semestinya menjadi pelajaran sangat berharga dan menumbuhkan kesadaran akan betapa pentingnya pemeliharaan lingkungan bagi kehidupan.

Betapa tidak ? Penelisikan ahli menunjukkan penyebab banjir bandang Cimanuk pun bukan semata-mata karena curah hujan tinggi melainkan lebih kepada rusaknya daerah serapan air di kawasan hulu DAS Cimanuk maupun hulu Sub DAS-nya.

Kerusakan lingkungan di kawasan tersebut terjadi tak lain sebagai akibat banyaknya alih fungsi lahan alias penggunaan lahan tak sesuai fungsi dan pola ruang seharusnya.

Hal itu dikemukakan Pemerhati Lingkungan yang juga Ketua I Forum Jabar Selatan Suryaman Anang Suatma menanggapi terjadinya banjir bandang Cimanuk baru-baru ini.

“Pemerintah juga mesti meninjau kembali atau bahkan mencabut perizinan yang bertentangan dengan aspek Kajian Lingkungan Hidup Strategis !” kata Suryaman, Jum’at (7/10/16).

Mantan anggota Pansus Tata Ruang pada DPRD Garut periode 2004-2009 itu juga meminta Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup segera meninjau kembali kebijakan program yang ada di lingkungan BUMN/BUMD yang dinilai tak tepat guna dan tidak tepat sasaran yang hanya menimbulkan kerusakan ekosistem. Pun diperlukan penguatan regulasi dan pembinaan serta pengawasan jelas terhadap keberadaan Lembaga Masyarakat Desa Hutan/Kelompok Tani Hutan.

“Aparat penegak hukum juga agar segera menindak tegas para pelaku penguasaan lahan yang dikuasai secara tidak sah. Terutama aktor-aktornya yang kerap mengatasnamakan kebutuhan rakyat di balik kepentingan kapitalis !” tegasnya.

Selain itu, lanjut Suryaman, perlu dilakukan audit investigasi secara komprehensif terhadap berbagai kebijakan pemerintah khususnya mulai tahun anggaran 2014 hingga 2016.

Ketua Dewan Penasihat Presidium Masyarakat Garut Selatan itu menyebutkan, sedikitnya lima kali peristiwa banjir bandang terjadi sejak 2008. Terakhir paling parah banjir bandang luapan Sungai Cimanuk pada 20 September 2016 lalu.

Pada 2008, terjadi banjir bandang dan longsor disertai pergeseran tanah di Desa Jatisari Kecamatan Cisompet. Sebanyak 312 kepala keluarga (kk) direlokasi. Penyebab bencana adanya alih fungsi lahan oleh penggarap ilegal di lahan PTPN Bunisari Lendra bagian Cisarua Blok Padarame Desa Neglasari Cisompet.

Pada 2011, banjir bandang menerjang Kecamatan Cibalong, Pameungpeuk, Cisompet, dan Kecamatan Pakenjeng menyebabkan 8 korban meninggal dunia, 5 orang korban hilang, dan 1.850 kk kehilangan tempat tinggal.

Penyebabnya meluapnya debit air Sub DAS Cibera, Cikaso, Cipalebuh, Cipasarangan, Cimangke, dan Cikandang akibat kerusakan lahan di kawasan hulu DAS meliputi Gunung Ragas, Gunung Kasur, dan Gunung Gelap di Dayeuhluhur Desa Negalasari.

Pada 2011 itu juga terjadi banjir bandang melanda Desa Mekarjaya, Giri jaya, dan DEsa Tanjungjaya Kecamatan Cikajang di alur sungai Cibarengkok (hulu Sungai Cimanuk) yang dikelilingi lahan bekas perkebunan teh Pamegatan. Sebanyak 3 unit rumah warga di Desa Simpang pun hanyut.

Pada Desember 2014, banjir lumpur merendam sekitar 720 unit rumah warga. Sebanyak 36 unit rumah di antaranya rusak berat.

Terakhir, pada 20 September 2016, banjir bandang sungai Cimanuk yang menelan puluhan korban jiwa serta luka, dan ratusan rumah warga rusak