Lahan Pertanian di Jabar Mayoritas Belum Miliki Asuransi

by -127 views
 Lahan pertanian di Jawa Barat masih belum bisa tercover oleh asuransi pertanian seluruhnya. Jika di Jawa Barat ada lebih dari dua juta hektare lahan pertanian, maka hanya sebesar 300 ribu hektare yang baru tercover asuransi pertanian.
 
“Kalau Jabar bisa dua juta hektare pertahun belum bisa tercover (semuanya), masih jauh, itu karena asuransi itu masih menggunakan subsidi APBN Kementerian Pertanian, bukan dari Kementerian Keuangan langsung, jadi masuk dulu anggaran pertanian baru di alokasikan, ” kata Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Jawa Barat, Hendy Jatnika saat dihubungi, di Bandung, Jumat (19/1).
 
Menurutnya, asuransi pertanian ini menjadi sangat penting bagi setiap petani. Pasalnya, dengan asuransi yang dapat di claim sebesar Rp 6 juta ini, maka di harapkan saat terjadi gagal panen akibat cuaca maupun hama penyakit, petani dapat melakukan penanaman ulang pada saat itu juga.
 
“Rp 6 Juta itu jika petani kalo ada kegagalan tanam akibat banjir, hama, itu bisa mengulang tanam secepatnya,” katanya.
 
Meski belum seluruh lahan pertanian di Jabar bisa tercover oleh asuransi, ternyata saat ini menurut Hendy, banyak petani yang berminat untuk mengasuransikan lahannya.
 
“Cuma karena responnya bagus, sekrang permintaannya tinggi, dulu mah rada susah juga, premi yang dibayarkan oleh petani itu hanya Rp 6 ribu, harusnya Rp 160 ribuan,” katanya.
 
Hal tersebut menyusul risiko gagal panen yang mungkin saja bisa terjadi akibat cuaca ekstrim dan juga hama yang kapan saja menyerang tanamannya.
 
“Hama pnyakit mah pasti ada, ga bisa nol , yang penting bisa menekan batas ambang tidak mengganggu produksi Jabar,” katanya.
 
Selain itu, Hendy pun mengatakan Jawa Barat disarankan oleh Kementerian Pertanian RI untuk menekan presentase ambang batas puso hingga 7 persen.
 
“kita menurut kementerian disarankan batas ambang yang fuso, yang sama sekali hasil lahannya nol itu tujuh persen,” katanya.
 
Namun, di tahun 2017,pihaknya mampu menekan angka puso hingga ditingkat 5 persen.
 
Dengan demikian, pihaknya optimis produksi padi di Jawa Barat mampu terus memenuhi kebutuhan padi di Jawa Barat sendiri khususnya. Bahkan, pihaknya mengklaim, surplus yang didapatkan oleh pihaknya mampu disubsidikan ke daerah lain.
 

“Surplus (produksi padi) kita bisa di subsidikan ke Sumatera, ” pungkasnya

 

 

 

Sumber : http://www.inilahkoran.com