Langganan Banjir, Kapan Dibangun Flyover di Parakanmuncang-Cimanggung?

by -139 views

Pembangunan jalan layang (fly over) di lokasi banjir di Jalan Raya Bandung-Garut tepatnya depan PT Kahatex Kecamatan Cimanggung, menjadi kebutuhan mendesak harus segera diwujudkan Pemprov Jabar dan pemerintah pusat, khususnya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Sebab, pembangunan jalan layang tersebut jalan keluar satu-satunya supaya arus lalu lintas kendaraan yang melewati Jalan Raya Bandung-Garut terhindar dari banjir langganan.

Sementara untuk mengatasi banjir yang merendam pemukiman warga di wilayah Kecamatan Cimanggung, solusinya harus segera menormalisasi tiga anak Sungai Citarum, yakni Sungai Cikijing, Cikeruh dan Cimande.

“Pembangunan fly over di Jalan Raya Bandung-Garut, menjadi harga mati yang harus segera diwujudkan provinsi dan pusat untuk menyelamatkan arus lalu lintas kendaraan yang terjebak banjir langganan di depan Kahatex,” ujar Ketua Komisi D DPRD Kabupaten Sumedang Dadang Romansah ketika ditemui di ruang kerjanya, Senin, 14 November 2016.

Menurut Dadang, pembangunan jalan layang tak bisa ditawar-tawar lagi. Apalagi peninggian jalan beton di depan Kahatex yang dilakukan Pemprov Jabar dan pemerintah pusat, ternyata tak mampu menghindari banjir yang merendam badan Jalan Raya Bandung-Garut. Buktinya, banjir hingga kini tetap saja merendam ruas jalan nasional tersebut hingga memutuskan arus lalu lintas kendaraan. Bahkan peninggian jalan beton tersebut, malah memperparah banjir yang meremdam pemukiman warga di wilayah Kecamatan Cimanggung.

“Posisi pemukiman warga semakin di bawah, kira-kira satu meter di bawah jalan. Dengan peninggian jalan tersebut, banjir di pemukiman warga seperti dibendung oleh jalan hingga banjirnya meluas. Kini kondisi banjir di pemukiman warga seperti danau,” ujarnya.

Ia mengatakan, pembangunan jalan layang sempat diajukan oleh Bupati Sumedang saat dijabat Ade Irawan tahun 2015. Suratnya diajukan kepada Pemprov Jabar dan pemerintah pusat. Usulan pembangunannya dari pintu tol Cileunyi sampai Parakanmuncang di Kecamatan Cimanggung. Namun, entah apa alasannya sehingga surat pengajuan bupati hingga kini belum juga direspon. Justru bukannya membangun fly over, pusat dan provinsi malah meninggikan jalan beton di depan Kahatex.

“Mungkin mereka lebih memilih meninggikan jalan dengan alasan biaya lebih murah, ketimbang membangun jalan layang. Tapi buktinya sekarang, peninggian jalan beton itu tak menyelesaikan masalah banjir yang merendam badan Jalan Raya Bandung-Garut,” tutur Dadang.

Pembangunan jalan layang semakin urgen, lanjut dia, sebab putusnya jalan nasional itu, telah mengganggu bahkan sangat merugikan aktivitas warga. Parahnya lagi, banjir tersebut langganan yang terus berulang setiap tahunnya. “Sampai-sampai, kemarin masyarakat Keacamatan Cibugel batal ke Jakarta gara-gara jalannya terputus akibat banjir. Bayangkan, berangkat pukul 13.00, pukul 22.00 masih di Rancaekek terjebak banjir. Mau pulang lagi susah, karena kadung terjebak banjir dan macet,” ucapnya.

Lebih jauh ia menjelaskan, banjir akan terus terjadi hingga memutuskan Jalan Raya Bandung-Garut, jika pusat dan provinsi tidak segera mengambil terobosan membuat jalan layang. Bandung, Cimahi termasuk jalan tol Jagorawi, sudah dari dulu membangun jalan layang. Sementara jalan Raya Bandung-Garut yang setiap tahunnya terendam banjir, dibiarkan terputus tak dibangun jalan layang. Padahal, ruas jalan tersebut sangat padat kendaraan dan jalur strategis akses menuju Jabar selatan dan Jawa Tengah

“Rencana pembangunan jalan tol baru di jalur selatan Jabar dari Gedebage, Bandung sampai Pangandaran, jangan jadi alasan tidak dibangunnya jalan layang. Jalan tol dengan jalan layang itu sama-sama penting. Bahkan jalan layang lebih urgen untuk saat ini. Sementara jalan tol, pembangunannya jangka panjang,” kata Dadang.

Untuk menangani banjir yang merendam pemukiman warga di Kec. Cimanggung, ia menambahkan, solusinya harus menormalisasi Sungai Cikijing, Cikeruh dan Cimande. Sebab, ketiga anak Sungai Citarum it, sudah terjadi penyempitan, pendangkalan dan jalurnya berkelok-kelok. Untuk penanganannya harus melakukan pelebaran sungai, pengerukan serta membuat sodetan. Namun, penanganannya tak bisa parsial, melainkan kabupaten/kota yang ada di DAS (Daerah Aliran Sungai) Citarum dan di wilayah Bandung Area, harus sinergis dan terintegrasi menangani banjir tersebut.

“Kabupaten/kota yang ada di DAS Citarum termasuk Sumedang dan Kab. Bandung, harus duduk bersama satu meja dipimpin oleh pusat dan provinsi. Jangan saling menyalahkan, karena hal itu tidak menyelesaikan masalah. Masalah banjir ini harus dikerjakan barengan. Selain itu, berbagai pelanggaran yang menyebabkan penyempitan sungai termasuk pelanggaran tata ruang daerah resapan air, harus ditindak tegas oleh aparat hukum,” ujar Dadang.

Menanggapi hal itu, Bupati Sumedang Eka Setiawan di ruang rapat Cakrabuana kantor Induk Pusat Pemerintahan (IPP) Pemkab Sumedang mengatakan, pembangunan jalan layang untuk menghindari banjir di depan Kahatex di Jalan Raya Bandung-Garut, bisa diusulkan kembali kepada pusat dan provinsi. Hanya saja, biaya pembangunannya cukup besar, apalagi jika harus dilakukan pembebasan lahan. “Sebetulnya, kalau normalisasi ketiga anak sungai dilakukan. saya kira tak perlu ada jalan layang karena banjirnya bisa teratasi. Kecuali jika tak ada normalisasi, barulah jalan layang itu harus dibangun,” katanya.