Langkah Lurus Menuju Surga

by -62 views

Jatinangorku.com – Janganlah menunda kebaikan dan amal saleh, apalagi menghalang-halangi. Karena itu bisa menunda atau menghalangi jalan menuju surga.

Tidak ada jalan lurus menuju surga kecuali jalan yang telah ditetapkan oleh Allah Yang Membuat Surga. Tidak ada jalan tercepat menjadi kekasih-Nya selain jalan yang telah ditentukan sendiri oleh-Nya. Begitu banyak orang yang mencari jalan menuju surga-Nya, yang tersesat dan kemudian menuju neraka-Nya. Yang paling penting untuk senantiasa dijadikan pegangan oleh setiap orang yang akan menuju surga adalah yakinkan bahwa langkah Anda adalah lurus menuju surga.

Urusan agama adalah urusan yang sangat fundamental bagi setiap manusia yang betul-betul mengejar bahagia sejati. Ajaran-ajaran agama (baca: syari’at) sebagai panduan langkah menuju surga bukanlah sesuatu yang bisa ditanamkan hanya dalam durasi waktu tertentu untuk kemudian dipastikan akan berfungsi sempurna sampai akhir kehidupan. Agama tidaklah seperti perhitungan matematika yang antara teori dan praktiknya dipastikan sama dari masa ke masa. Pelaksanaan ajaran agama sangat dipengaruhi oleh banyak faktor yang menentukan fluktuasi daya iman seseorang.

Urusan agama adalah urusan besar yang berkelanjutan. Agama bukanlah hanya urusan haji, zakat dan wakaf yang lebih bersifat eksterior dalam konteks dimensi sosial agama. Ada sisi spiritual yang sangat urgen untuk diperhatikan, yaitu penggapaian kedamaian dalam beragama dan kerukunan beragama dalam hubungannya dengan realitas masyarakat yang heterogen keberagamaannya. Simplifikasi urusan agama sangat bisa dimaknai sebagai peremehan urusan besar, yakni urusan yang paling dipentingkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.

Agama sebagai jalan menuju surga berhubungan erat dengan lembaga perkawinan yang diharapkan menjadi media terbangunnya keluarga sakinah, lembaga pendidikan yang akan menjadi tempat setiap anak belajar tentang agama dan kehidupan, lembaga sosial keagamaan sebagai wadah bersama menata kehidupan sosial dan agama, lembaga peradilan (hukum) sebagai tempat menyelesaikan konflik dan sengketa dan lembaga-lembaga lainnya. Mereduksi urusan agama hanya pada satu bidang atau satu lembaga saja akan bermakna penafian beberapa rambu jalan menuju surga.

Ada beberapa orang yang bersemangat sekali memisahkan urusan dunia dengan urusan akhirat dengan argumen bahwa urusan dunia adalah urusan publik sementara urusan agama adalah urusan privat. Orang-orang yang berpaham seperti ini lupa bahwa dalam firman-Nya Allah senantiasa menghubungkan dunia dan akhirat dengan memposisikan akhirat sebagai urusan yang lebih utama. Mereka sepertinya juga kurang teliti melihat hubungan “serekat lem” antara worldview, ethos dan habitus, antara akal, rasa dan hati, serta antara keberagamaan, kesuksesan dan kebahagiaan.

Agama tidaklah hanya masalah salat dan berdoa. Ia meliputi semua aspek kehidupan. Setiap muslim senantiasa memohon petunjuk kepada Allah untuk senantiasa dibimbing menuju jalan yang lurus (QS 1: 6). Jalan lurus (al-shirath al-mustaqiim) yang dimaksud adalah keseluruhan ajaran syari’at. Ayat di surat al-Fatihah itu menyiratkan terbangunnya sebuah bentuk keberagamaan yang utuh, holistik dan tidak parsial. Setiap individu diperintah untuk meyakinkan dirinya berada di jalan yang lurus ini seperti disebutkan dalam al-Qur’an QS 11:112.

Konsistensi (istiqamah) dalam beragama menjadi suatu keharusan bagi mereka yang betul-betul ingin beragama dengan benar. Abu ‘Amr Sufyan bin Abdullah Ats-Tsaqafi berkata pada Rasulullah: “Ya Rasulullah, katakan pada saya satu kata tentang Islam, saya tidak akan bertanya pada orang selainmu.” Rasulullah bersabda: “Katakanlah ‘Aku beriman kepada Allah’ kemudian istiqamahlah.” Negara dan pemerintah berkewajiban membuat peraturan dan ikut menata khidupan keberagamaan yang seperti ini.

Keistiqamahan dalam mengikuti jalan yang lurus (al-shirat al-mustaqaim) akan menyelamatkan kita dari ketergelinciran ketika meniti (menyemberangi) titian (shirath) menuju surga nanti. Titian (shirath) yang dimaksud adalah titian yang digambarkan oleh Rasulullah sebagai titian yang harus dilewati oleh semua yang ingin menuju surga, terbentang di atas neraka jahannam, sangat halus dan tajamnya adalah lebih tajam dari pedang. Langkah-langkah di atas titian itu akan sangat ditentukan oleh langkah-langkah kita ketika hidup di dunia ini.

Mereka yang cepat melakukan kebaikan di dunia ini, akan cepat langkahnya di atas titian menuju surga itu. Sementara mereka yang lambat dan senang menunda kebaikan akan berjalan lambat dan tertatih-tatih. Yang paling mengerikan adalah bahwa mereka yang menghambat terlaksananya kebaikan-kebaikan tidak akan mampu melewati titian itu dan pasti akan terjatuh ke dalam neraka jahannam. Bagaimana cara hidup kita di dunia ini menentukan bagaimana cara kita menuju surga kelak.

Dalam hadits Abu Hurarirah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim disebutkan bahwa ada dua hal yang diletakkan oleh Allah di dua sisi titian akhirat kelak, yaitu amanah (amanat) dan rahim (kasih sayang). Dua hal ini sangat berguna sebagai saksi yang meringankan (a de charge) atau saksi yang memberatkan (a charge) bagi setiap yang melewati titian itu.

Mereka yang menunaikan amanah dengan baik akan dengan mudah dan selamat melalui titian tipis nan tajam itu, sementara mereka yang berkhianat tidak akan menemukan jalan lain kecuali meluncur ke kedalaman neraka. Mereka yang senang silaturrahim atau menyambung kasih sayang (shilat al-rahim) sebagaimana diperintahkan oleh Allah akan dengan gampang menyeberangi titian itu menuju surga, sementara mereka yang senantiasa memutus tali kasih sayang dengan mengobarkan amarah dan kebencian serta pertentangan dan permusuhan akan tergelincir dan jatuh juga ke dalam neraka.

Amanah yang sering dimaknai titipan kepercayaan ini memiliki makna yang sangat luas. Amanah meliputi agama sebagaimana disebutkan dalam QS 33: 72, keluarga (istri dan anak), jabatan, dan lain sebagaimana yang berupa ikatan kepercayaan antara satu orang dengan lainnya. Memandang agama, keluarga, jabatan dan semua janji sebagai amanah akan meneguhkan kita untuk senantiasa berbuat yang terbaik sesuai dengan yang diperintahkan Allah.

Mereka yang memandang agama, jabatan dan janji-janji sebagai proyek pengayaan diri sendiri dan pemuasan nafsu sungguh telah melakukan pengkhianatan atas kepercayaan yang Allah pikulkan padanya. Orang yang suka berkhianat seperti ini biasanya akan kehilangan kasih sayang dan menggantikannya dengan rasa tega untuk membuat orang lain menderita. Manusia lain tidak dipandang sebagai makhluk yang memiliki rasa dan hati, melainkan sebagai benda yang bisa dikalikan dengan sejumlah uang dan upeti.

Bagi mereka yang mendambakan kebahagiaan di dunia dan surga di akhirat kelak harus bekerja keras untuk menata langkah kaki agar selalu sesuai dengan petunjuk Ilahi dam rangka memenuhi setiap amanah yang dibebankan dan menyebarkan kasih sayang sebagaimana yang diperintahkan. Meyakinkan diri kita akan terlaksananya amanah tersebut di atas dengan baik dan terwujudnya hubungan kasih sayang yang indah adalah meyakinkan langkah-langkah kita menuju surga.

Sumber : http://www.inilahkoran.com/