Limbah Cemari Cikijing, Aparat Tak Punya Nyali

by -53 views

Limbah Cemari Cikijing, Aparat Tak Punya Nyali

Jatinangorku.com – Sejumlah tokoh masyarakat di Kec. Rancaekek, Kab. Bandung menilai, dinas terkait tidak punya nyali untuk menindak pengusaha yang selama ini tetap nekat membuang limbah cair ke sungai yang diduga tanpa melewati proses instalasi pengolahan air limbah (IPAL).

Masyarakat yang dekat dengan aliran air limbah cair di Sungai Cikijing kini menjadi korban pencemaran limbah tersebut. Akibat polusi dan pencemaran limbah cair, masyarakat yang ada di sepanjang aliran air limbah itu pun resah dan mengeluhkan bau menyengat.

“Air Sungai Cikijing hitam dan berbau. Instansi terkait tidak punya nyali untuk menindak perusahaan pencemar lingkungan,” kata tokoh masyarakat Kec. Rancaekek, Teten Dodi kepada “GM” di Rancaekek, Kamis (19/9).

Sama halnya yang dikatakan tokoh pemuda lainnya, Asep Purnama. Menurutnya, pihak terkait sudah tidak bernyali dalam menindak pengusaha yang tetap membuang limbah secara sembarangan.

“Karena itu banyak masyarakat yang mempertanyakan kinerja kelompok kerja (pokja) yang sempat dibentuk pemerintah untuk menanggulangi pencemaran limbah tersebut,” kata Asep.

Ia juga mengatakan, pokja yang dibentuk pemerintah itu tidak terbukti dalam pengawasannya. “Sampai saat ini belum ada solusi terbaik dalam menanggulangi pencemaran limbah cair,” katanya.

Sehingga, banyak di antara warga yang mempertanyakan apakah limbah yang dibuang ke sungai Cikijing itu melewati pengolahan IPAL atau tidak. “Soalnya, limbah cair yang mengalir di Sungai Cikijing terlihat hitam dan ngabelegeder,” keluhnya.

Jika melewati pengolahan, kondisinya tak seperti saat ini. “Apalagi, saat ini memasuki musim kemarau, kondisi aliran limbah cair semakin parah. Bau menyengat dan orang yang dekat dengan Sungai Cikijing sudah tidak nyaman,” katanya.

Tetapi memasuki musim hujan, katanya, kondisi aliran air limbah di sungai Cikijing tidak terlalu parah karena bercampur dengan air hujan. 

Ia juga berharap pemerintah menjalankan moratorium penggunaan lahan dari sawah/pertanian ke nonpertanian. Saat ini banyak lahan pertanian yang berubah fungsi menjadi kawasan perumahan. “Tapi kalau masyarakatnya menyetujui, tak jadi masalah,” katanya.

Sumber : http://klik-galamedia.com