Loyalitas Nasabah Bank Harus Dijaga

by -55 views

Loyalitas Nasabah Bank Harus Dijaga

Jatinangorku.com – Bank Jabar dan Banten (BJB) masih mempertimbangkan kebijakan kenaikan suku bunga kredit dalam mengantisipasi melemahnya nilai kurs rupiah terhadap dolar Amerika. Terlebih BJB pun harus menjaga loyalitas para nasabah.

“Suku bunga kredit kita belum berubah, rencananya akan kita lihat dulu bagaimana perkembangannya sampai pertengahan bulan ini. Apalagi kita pun harus menjaga nasabah supaya tidak semakin terbebani dengan kondisi ini,” jelas Direktur Utama BJB, Bien Subiantoro, kepada wartawan usai menggelar peringatan Hari Pelanggan Nasional di Kantor BJB, Jln. Naripan Bandung, Rabu (4/9).

Dikatakan Bien, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar memang sangat berpengaruh terhadap ekonomi masyarakat. Apalagi hal itu pun beriringan dengan adanya tekanan inflasi yang cukup tinggi. Tentunya hal itu akan semakin membebani masyarakat. Dalam hal ini Bank BJB perlu melakukan strategi yang cukup bijak.

“Pada dasarnya likuiditas perbankan masih cukup baik, tetapi kita harus menjaga loyalitas para nasabah,” katanya.

Dilihat dari sisi kinerja, saat ini kinerja bisnis BJB terus mengalami pertumbuhan yang cukup positif. Seperti dari sisi kredit, hingga 31 Agustus 2013 ini, posisi kredit telah mencapai Rp 42,6 triliun. Kredit tersebut terdiri atas kredit konsumer yang mencapai Rp 27,3 triliun, kredit mikro Rp 5,5 triliun, kredit komersial Rp 6,5 triliun, dan KPR Rp 3,3 triliun.

“Begitu juga dengan dana pihak ketiga (DPK). Saat ini DPK mencapai Rp 49 triliun, dengan kontribusi DPK terbesar berasal dari deposito yang mencapai Rp 27,4 triliun. Meski demikian giro dan tabungan pun cukup bagus dan mencapai Rp 21,5 triliun, sehingga deposito dengan tabungan relatif cukup seimbang,” katanya.

Namun untuk deposito pihaknya memperkirakan akan mengalami peningkatan akhir tahun ini. Hal itu disebabkan banyaknya nasabah yang beralih ke deposito, seiring peningkatan suku bunga deposito setelah terjadi kenaikan BI rate menjadi 7 persen.

“Bunga deposito itu cenderung naik sehingga akan ada peralihan ke sana,” katanya.

Lebih lanjut Bien mengungkapkan, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar saat ini tidak mengganggu aktivitas valas BJB. Apalagi aktivitas valas BJB hanya untuk jangka pendek seperti untuk pembiayaan ekspor impor.

“Kredit valas BJB hanya sekitar 6 persen dari total kredit, sehingga tidak terlalu berpengaruh terhadap kredit,” katanya.

Namun dari sisi kredit corporasi, untuk mengantisipasi kondisi yang terjadi, BJB akan lebih menggarap sektor infrastruktur jalan tol dan power plan energi listrik dibandingkan sektor industri manufaktur.

“Infrastruktur jalan tol dan power plan listrik itu merupakan target utama kita. Sedangkan sektor industri manufaktur kita akan kurangi kecepatannya. Karena infrastruktur jalan tol dan power plan lebih jelas pendapatannya. Sementara industri manufaktur dengan kondisi seperti ini cukup berisiko tinggi karena biayanya meningkat, khususnya industri yang bahan bakunya impor,” katanya.

Sumber : http://klik-galamedia.com