Megawati dan Gelar yang Tertunda dari Kampus Jatinangor

by -60 views

 

Presiden Indonesia kelima, Megawati Soekarnoputri, menerima gelar honoris causa bidang politik dan pemerintahan dari Universitas Padjajaran di Graha Sanusi Hardjadinata, Bandung, Rabu (25/5). Penghargaan tersebut seolah menuntaskan jenjang pendidikannya yang terhenti di kampus itu, 49 tahun yang lalu.

Setelah lulus dari SMA Perguruan Cikini tahun 1965, Mega hijrah ke Bandung. Bercita-cita mendalami ilmu psikologi, ayahnya mendesak Megawati mengambil jurusan pertanian.

Mega berkata, Soekarno yang kala itu masih menjadi orang nomor satu di Indonesia memaparkan betapa pentingnya ilmu pertanian bagi hajat hidup masyarakat.

Mengutip ayahnya, Mega berujar, ilmu pertanian dapat menghadirkan kemandirian bagi masyarakat, paling tidak di sektor pangan.

“Bung Karno sangat kokoh dan meyakinkan saya untuk memasuki dunia yang menjadi mata pencaharian terbesar rakyat Indonesia,” kata Mega, seperti dilansir Antara, tatkala menyampaikan orasi ilmiah bertema “Bernegara Dengan Satu Keyakinan Ideologi”.

Perjalanan pendidikan Megawati di Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran berhenti tahun 1967. Ia beralasan, kondisi politik dalam negeri ketika itu memaksanya untuk tidak lagi menuntut ilmu di kampus yang terletak di Jatinagor, Sumedang, Jawa Barat itu.

Pada tahun itu, posisi Soekarno sebagai presiden memang tengah goyah akibat Peristiwa 30 September 1965.

Januari 1967, Soekarno menyampaikan pidato Pelengkap Nawaksara di depan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS).

16 Februari, MPRS mengumumkan penolakan mereka terhadap pertanggungjawaban Soekarno melalui pidato Nawaksara. Selama sepekan setelah penolakan itu, pucuk kekuasaan negara pun berpindah ke Soeharto, sebagai pengemban Ketetapan MPRS Nomor IX/MPRS/1966.

“Semuanya memaksa saya untuk tidak melanjutkan kuliah di kampus ini,” ujar Mega

Selepas kegagalannya menempuh pendidikan tinggi di Unpad, Mega kembali memulai perkuliahan di Universitas Indonesia tahun 1970. Di kampus itu, Mega mengambil jurusan yang diidamkannya sejak lulus sekolah menengah atas: psikologi.

Namun, Mega lagi-lagi tidak mengakhiri pendidikan tingginya dengan gelar sarjana. Tahun 1972, Mega keluar dari UI.

Latar belakang pendidikan tersebut faktanya tidak menghambat jalan Mega ke Istana Negara tahun 2001. Pencabutan mandat MPR kepada Abdurrahman Wahid yang kala itu menjabat presiden, memuluskan langkah Mega mengulang jalan politik ayahnya. 

Selama tiga tahun, Mega menjadi presiden. Untuk menjadi presiden, seseorang tidak wajib menempuh pendidikan tinggi. Undang-undang mengatur, syarat pendidikan seorang presiden adalah sekolah menengah atas.

“Mempelajari sejarah bukan berarti sekedar mengingat peristiwa atau periodisasi dalam sejarah. Mempelajari sejarah adalah memahami pemikiran, nilai, keyakinan dan dialetika yang terjadi di setiap peristiwa penting di masa lalu atas dasar kebenaran sejarah,” kata Mega di podium Graha Sanusi Hardjadinata.

Pemberian gelar honoris causa kepada Mega dipromotori tiga pengajar Universitas Padjajaran, yakni Obsatar Sinaga (Wakil Ketua Majelis Wali Amanat Unpad), Oekan Abdoellah Soekotjo (Ketua Senat Akademik Unpad) dan Arry Bainus (Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Unpad).

Sejumlah petinggi negara, antara lain Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menko PMK Puan Maharani, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti dan Kepala Badan Intelijen Negara Sutiyoso.

Beberapa mantan pejabat pemerintahan juga terlihat menghadiri acara penganugerahan tersebut. Mereka adalah dua bekas Wakil Presiden, yakni Try Sutrisno dan Boediono.