Memprihatinkan, Warga di Tengah Hutan Masigit Sudah Setahun Nyantol Listrik

by -16 views

Butuh waktu sekitar 1,5 jam perjalanan untuk sampai ke RT 03/09, Kampung Cigumentong, Desa Sindulang, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang. Kampung ini berada di tengah hutan di Taman Buru Kawasan Konservasi Gunung Masigit Kareumbi. Dari pusat kota Kecamatan Cimanggung, jaraknya sekitar 15 kilometer.

Kendaraan roda empat sama sekali tak bisa masuk ke kampung ini. Namun, sepeda motor masih bisa, tapi itu pun harus sepeda motor trail atau sepeda motor yang sudah dimodifikasi menjadi seperti sepeda motor trail.

Meski hanya lima kilometeran dari Kantor Desa Sindulang, perjalanan dari kantor desa menuju Kampung Cigumentong sungguh sebuah perjuangan. Jalan ke kampung ini rusaknya bukan kepalang. Selain terjal, licin, dan penuh lubang, ada banyak kerikil dan batu-batu tajam di sepanjang jalan.

Jalan dari pusat kota Kecamatan Cimanggung menuju Desa Sindulang pun tak bisa dikatakan mulus. Jalan aspalnya sudah sangat rusak, sementara di sebelah kanan jalan adalah jurang yang sama sekali tak diberi pagar .

Dari gerbang masuk Taman Buru Kawasan Konservasi Gunung Masigit Kareumbi kondisi jalannya lebih menakutkan lagi. Kanan dan kiri jalan masih berupa hutan belantara. Kabut nyaris tak pernah lepas menutupi jalan.

Ada 15 keluarga (48 jiwa) yang tinggal di kampung yang nyaris terisolasi ini. Meski jaringan listrik PLN belum sampai ke kampung ini, lampu-lampu lima watt sudah terpasang di rumah- rumah warga.

Menurut Enung (42), warga kampung tersebut, aliran listrik mereka dapatkan dengan menyambungnya dari KW, istilah yang diberikan warga untuk Kantor Pengelolan Taman Buru Kawasan Konservasi Gunung Masigit Kareumbi, menggunakan kabel yang mereka bentang berkilo-kilometer di sela-sela ranting. Itu terjadi sejak setahunan lalu.

“Sebelumnya, kami hanya pakai cempor untuk penerangan,” kata Enung di kediamannya, Senin (20/2).

Pasokan listrik dari KW ini, menurut Enung, tak mereka dapat secara gratis. “Setiap rumah bayar Rp 30 ribu per bulan. Tapi, itu cuma buat penerangan, sementara untuk setrika listrik atau masak nasi pakai magicom, enggak bisa. Paling bisa televisi, tapi itu pun bayarnya beda, per bulan Rp 40 ribu,” ujarnya.