Mencari Kesempurnaan Seorang Manusia Sempurna

by -39 views

Mencari Kesempurnaan Seorang Manusia Sempurna

 

Jatinangorku.com – Ide awal tulisan ini adalah sebuah kekagumanku pada beberapa orang.

Pada mereka di kala memesan minuman, hanya memesan air putih.
Pada mereka di kala memesan makanan, ternyata mereka vegetarian.
Pada mereka di kala mendengar dan memainkan musik, mereka prefer memilih jazz.
Pada mereka di kala menonton pementasan, mereka memilih untuk untuk menonton budaya.
Pada mereka di kala menonton film, pilihan lebih kepada drama.
Pada mereka di kala meraih strata 3 pendidikan, mereka lebih bijaksana.
Pada mereka di kala memimpin, mampu berlaku adil.
Pada mereka di kala memiliki rezeki lebih, lebih pula mereka berbagi kepada sesama.
Pada mereka di kala tersakiti, mereka tak menuntut balas.
Pada mereka di kala bicara, mereka menurunkan volume dan intonasi suaranya.
Pada mereka di kala mendisain, mereka minimalis.
Pada mereka di kala hidup, mereka sederhana.

Mungkin ini hanya beberapanya saja dari banyak orang yang aku kagumi.

Well, manusia sempurna itu sebenernya seperti apa sih? Kaya kah? Pintar kah? Atlit kah? Romantis? Cantik? Ganteng? Perkasa? Tenar? Public Figure? Peraih Nobel? Six Packs? Tom Cruise? Jennifer Lopez? Boyband? Hard working? Fast learner? Wide knowledge? Sepertinya tiap orang punya gambaran kesempurnaan manusia yang diinginkan.

Bukankah kita sebagai manusia sudah termasuk makhluk ciptaan Tuhan yang sempurna? Manusia adalah makhluk sempurna ketimbang hewan dan tumbuhan. Lah kalo kita saja sudah sempurna dengan organ tubuh yang lengkap, kenapa harus kesempurnaan di antara sesama manusia terus dicari? Apa ga tepatnya kita harus lebih banyak bersyukur? Atau yang dimiliki saat ini tidak cukup? Atau masih banyak angan dan ambisi yang ingin dicapai? Banyak sekali pertanyaan dan sangkalan yang membatin berkaitan dengan ini, itulah yang menyebabkan ingin rasanya menuliskannya di sini.

Mungkin setiap orang setuju kalo everyone has to equip themselves with skills, tools and anything lah agar dapat survive di kompetisi apapun dalam menghadapi hidup dunia yang semakin complicated. Emang ada benernya juga, hari begini kalo ga ganteng mungkin ga dapet cewe, ga cantik ga dapet cowo, ga ada keahlian ga dapet kerjaan, ga pinter ga dapet beasiswa, ga wangi ga oke, aga ada uang ga bisa ngapa-ngapain. Bingung juga ya, sepertinya variabel yang saling mengikat semakin hari semakin banyak untuk dihadepin. Mengutip kalimat temenku, keterlekatan dunia sudah semakin menjadi-jadi.

Belajar keras-keras waktu kuliah untuk dapetin GPA yang memadai. Kerja keras untuk repositioning dan apraisal performance. Overtime dan sidejob untuk tambahan income. Skolah tinggi-tinggi stelah Bachelor, Master, PhD. Mobil bagus, ide brilian, telfun genggam canggih, prestasi memukau, laptop cepet, rumah mewah, wireless lifestyle, savings yang cukup, setelah ini semua kemudian apa lagi? Sepertinya takaran cukup menjadi semakin bias ya.

Namun sadar ga sih, rutinitas dan rencana yang begitu padat mengisi kepala ini membuat kita kadang khilaf dan lupa atau bahkan tersadari juga bahwa manusia memiliki kekurangan. Tidak ada manusia yang sempurna, hal ini bertolak belakang dengan pemikiran bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna dengan akal yang disandangnya.

Lah trus gimana dung? Analisis ku jadi bodo begini ya?

Manusia memang makhluk yang paling sempurna diantara hewan dan tumbuhan. Namun sesama manusia tidak lah ada yang sempurna. Begitukah kesimpulan kita saat ini? Bagaimana dengan kesempurnaan itu hanya milik Tuhan, penguasa alam semesta. Secara aklamasi kita tentu setuju bahwa hanya Tuhan-lah pemilik kesempurnaan.

Life goes on with or without this article, disadari sepenuhnya teramat sangat bahwa aku bukanlah pemikir profesional dan jagoan filsafat. Sungguh tidak ada maksudku untuk memupuskan segala semangat yang telah tertanam. Kejarlah dunia seakan-akan engkau hidup 1000 tahun lagi dan beribadatlah engkau seakan-akan engkau mati esok juga nempel dan berbekas di jidat ini. Keseimbangan di keduanya ini lah yang menjadi tantangan kita dalam menjalani hidup. Sungguh ini bukan hal semudah menjentikkan kuku jari.

Menurutku nih, ya kalo salah ya maaf. manusia yang menuju sempurna itu adalah manusia yang berusaha dekat dengan Tuhan-nya secara berkesinambungan, jelas manusia tercermin dalam tingkah laku keseharian. Yakni manusia yang senantiasa taat beribadat, mematuhi dan menjalankan aspek kehidupan dengan segala aturan yang ada pada agama dan keyakinan yang dianutnya, sisanya aku rasa terjabarkan pada kitab suci aturan masing-masing agama dan keyakinan. Ga kah ada terbesit sedikit saja dalam benak kita figur kesempurnaan manusia seperti ini selain deretan tipe yang banyak sudah tersebutkan sebelumnya?

Mungkin sudah tak ada lagi hasrat untuk mencari sebuah kesempurnaan diri manusia sempurna ini dengan segala kekurangannya. Menjalankan hidup apa adanya aja lah, toh yang ada sekarang ini aja udah lumayan ribet. Setauku, manusia yang mengenali dirinya lah maka akan mengenali Tuhannya. Kalopun yang ini salah lagi, ya maaf. Terima kasih.

 

 

Sumber : http://www.indocampus.org