Mengintip Cibeber, Kawasan di Sumedang yang Tercipta dari Bintang Jatuh

by -44 views

Warga Kampung Cibeber, Desa Cintajaya, Kecamatan Jatigede menyebut daerahnya sebagi Bandung Leutik atau Bandung Kecil. Jika berada di Cibeber sejauh mata memandang, daerah seluas 900 hektare ini dikeliling perbukitan. Bukit semakin tinggi berada di wilayah barat Cibeber yang kini menjadi perkebunan mangga.

“Lihat saja, Cibeber itu dikepung oleh gunung atau bukit. Perkampungan ini ada di daerah paling bawah. Seperti Bandung leutik, Bandung kecil yang dikelilingi gunung,” kata Sahli (73) sesepuh Cibeber yang dulu pernah menjadi juru tulis Desa Cintajaya saat ditemui di rumahnya di Cibeber, Minggu (25/12/2016).

Lokasi Cibeber memang seperti cekungan dan jika dilihat dari foto udara google map, kawasan Cibeber berada di lingkaran, circle. Dari cerita turun temurun, warga disana menyebutkan kalau di Cibeber itu sempat ada meteor yang jatuh sehingga kawasan Cibeber menjadi kawah yang melingkar akibat hantaman benda dari tata surya itu. “Dari cerita orang tua kami di Cibeber ini ada bentang murag, bintang jatuh. Tidak disebutkan kapan bintang itu jatuh hanya ceritanya seperti itu,” kata Sahli.

Sebelah timur bukit yang ada di atas Cibeber itu tidak terlalu tinggi namun sekain ke utara dan selatan sampai bagian barat, bukit semakin meninggi dengan ketinggian antara 100-300 meter. Melihat kondisi alam ini sepertinya meteor datang dari arah timur dan menghantam Cibeber sehingga lapisan tanah bagian barat mencuat, meninggi. Sedangkan akibat hantaman meteror itu menjadi kawah.

“Ada titik terendah di Cibeber yaitu di blok Oyodan. Disebut Oyodan karena tanahnya berupa rawa, tanahnya lembek dalam bahasa sundan oyodan dan ada airnya yang tak pernah kering atau bertambah,” kata Sahli yang diamini juga warga lainnya.

Wartawan Tribun sempat melihat ke blok Oyodan yang merupakan hamparan sawah dan di titik paling rendah memang sawah itu berair sedangkan yang lain kering. “Airnya tetap saja seperi ini tak bertambah dan berkurang serta tak mengalir seperti mata air,” kata Cahya (46) warga Cibeber yang mengantar melihat blok Oyodan.

Menurut Sahli, dulu blok Oyodan masih berupa rawa yang luas dan dalam. “Dulu rawa yang dalam namun sejak ada pupuk kimia akhir tahun 1970-an, sebagian tanahnya mengeras dan yang rawa mengecil,” katanya.

Sahli menyebutkan, Kampung Cibeber sebelumnya ad di perbukitan sebelah barat namun karena longsor tahun 1958, perkampungan warga dipindah ke tempat yang sekarang. “Hitungan saya kampung ini dihuni tahun 1887 di Pasir Malati dan terjadi longsir kemudian direlokasi dan longsor lagi tahun 1958 sehingga warga meilih tinggi di Cibeber di daerah yang lebih landai tak dibukit lagi,” katanya.

Disebut Cibeber karena dulu dari dalam tanah ini selalu mengeluarkan bau tak sedap seperti air dari pembuangan limbah rumah tangga. “Cibeber itu meleber bau dari dalam tanah tapi sekarang bau itu sudah tak tercium lagi,” katanya.
Desa Cintajaya sendiri merupakan pemekaran dari Desa Lebaksiuh, Jatigede yang kini berpenguni 1.200 jiwa atau 550 kepala keluarga. “Saat disebut kalau di Cibeber tempat jatuh meteor, bagi saya dan warga yang lain menjadi yakin kalau cerita leluluhur kami secara lisan ini benar kalau disini pernah ada bintang jatuh,” katanya.

Sahli menyebutkan kalau Cibeber itu berada di Cekungan dan jika air Sungai Cibayawak yang mengalir ke Cibeber dibendung maka kampung Cibeber akan tenggelam. “Kampung ini ada di cekungan dan celah yang ada di Pasir Malati dan Pasir Cabe yang dibawahnya mengalir Sungai Cibayawak. Kalau dibendung saja bukit ini, Cibeber tenggelam,” kata Sahli.