Menilik Riwayat Menara Loji dan Jembatan Cincin

by -174 views

Menilik Riwayat Menara Loji dan Jembatan Cincin

Jatinangorku.com – Cultuur Ondernemingen van Maatschapij Baud merupakan perusahaan perkebunan karet ternama milik Baron Braud, pria berkebangsaan Jerman bersama perusahaan swasta milik Belanda. Pada tahun 1841, perkebunan ini didirikan-terbentang luas sekitar 962 hektar dari tanah Institut Pendidikan Dalam Negeri (IPDN-dulu STPDN) hingga Gunung Manglayang, Sumedang.
Pesatnya pertumbuhan ekonomi hasil perkebunan itu ditunjang oleh sarana-sarana yang hingga kini masih dapat disaksikan di bumi Jatinangor. Salah satu sarana yang dimaksud adalah jembatan di daerah Cikuda, Sumedang yang dikenal oleh masyarakat sekitar dengan nama Jembatan Cincin. Jembatan Cincin pertama kali dibangun oleh perusahaan kereta api Belanda, Staat Spoorwagen Verenidge Spoorwegbedrijf pada Tahun 1918. Jembatan ini digunakan sebagai sarana lalu lintas bagi pekerja perkebunan untuk membawa hasil perkebunan. Dapat dikatakan, jembatan ini merupakan roda penggerak perkebunan karet terbesar di Jawa Barat. Selain itu, Jembatan Cincin juga berguna sebagai jembatan rel kereta yang menghubungkan jalur dari arah Tanjungsari ke Rancaekek.
Setiap harinya, suasana di sekitar jembatan itu selalu hiruk-pikuk sejak pagi buta. Deru mesin kereta yang bergesekan dengan relnya seringkali menyiratkan makna mendalam, yakni pedihnya sistem kerja rodi yang dilakukan kolonial Belanda kepada penduduk pribumi di tanah Kerajaan Sumedang Larang.

Sementara itu, di satu sudut lain tak jauh dari lokasi Jembatan Cincin berada, sebuah menara pemantau waktu dibangun sekitar Tahun 1980. Menara tersebut ditujukan untuk memantau kegiataan para pekerja perkebunan. Setiap harinya, lonceng yang tersimpan di dalam menara itu dibunyiksn sebanyak tiga kali, yakni pukul 5 pagi (penanda untuk mulai menyadap karet), pukul 10 pagi (penanda untuk mengumpulkan mangkok-mangkok getah karet), dan pukul 2 siang (penanda berakhirnya kegiatan produksi karet).
Bangunan ini kental dengan sentuhan gaya neo-gothic negeri Belanda. Atap menara ini berbentuk segi delapan dan pada puncaknya terdapat kerucut sebagai dasar bagi tegaknya garpu tiga jari seolah berguna sebagai pemancar. Berbeda dengan menara jam pada umumnya, pada menara yang dijuluki dengan sebutan Menara Loji ini sebetulnya tidak terpasang jam. Sebagai gantinya, lonceng merupakan penunjuk waktu yang dimaksud. Namun, sejak Tahun 1980’an lonceng itu dicuri dan hingga kini tidak pernah diketahui keberadaannya.

Lain dulu, lain sekarang. Seiring bergantinya abad, kedua objek bernilai historis tersebut kian renta. Jembatan Cincin, misalnya. Konstruksi jalanannya terlihat tidak rata. Ia hanya berupa batu-batu yang digunakan untuk meratakan lintasan rel yang terpasang di sana. Padahal, jika menengok peran jembatan tersebut pada masa kini, kondisi jalanan itu sangat perlu diperbaiki. Jembatan Cincin menjadi akses alternatif bagi warga Kecamatan Cikeruh menuju Kecamatan Hegarmanah atau sebaliknya. Para mahasiswa yang berangkat atau pulang kuliah pun banyak yang menggunakan sarana ini. Sayang, kondisi objek peninggalan yang sekarang berada di kawasan pendidikan Jatinangor ini seperti tersisihkan dari perhatian pihak-pihak yang berkaitan.
Sementara itu, sejak kawasan perkebunan karet disulap menjadi perguruan tinggi, perawatan Menara Loji diambil alih oleh Bagian Rumah Tangga Universitas Winaya Mukti (Unwim). Jasad Baron Braud, pemilik perkebunan karet itu pun disemayamkan tak jauh dari letak Menara Loji berada. Adapun saat ini, Menara Loji berada di bawah tanggung jawab Institut Teknologi Bandung (ITB) seiring beralihnya kepemilikan tanah dari Unwim kepada ITB pada akhir tahun lalu. Ya, nasib Menara Loji tampak sedikit beruntung dibandingkan nasib yang menimpa Jembatan Cincin saat ini.
Untuk dapat menemukan Menara Loji, Anda bisa terlebih dahulu berhenti di persimpangan jalan dekat dengan Pangkalan Damri. Setelah itu, lanjutkan perjalanan ke arah Utara jalan. Sementara untuk dapat melihat Jembatan Cincin, Anda dapat memandangnya dari depan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran atau Anda bisa melewati jalan Cikuda untuk dapat menapakkan kaki di atas jembatan ini secara langsung. Di situ lah Anda dapat temukan dua peninggalan bersejarah zaman kolonialisme Belanda di Bumi Priyangan pada Abad XIX silam.

 

Sumber : http://hanifahnafiatin.wordpress.com/

Silahkan klik gambar dibawah ini