Museum Pos Indonesia, Mencatat Masa Emas Zaman Surat-Menyurat

by -107 views

DI zaman yang semakin modern, mengirim pesan menjadi hal yang sangat mudah. Tekologi telefon pintar memungkinkan untuk berkirim pesan hanya dalam sekejap saja. Perlahan surat-menyurat mulai ditinggalkan.

Bertukar pesan lewat surat pernah menjadi episode penting dalam perkembangan komunikasi masyarakat. Pak Pos menjadi sosok yang ditunggu-tunggu.

Pengiriman surat lewat pos di Indonesia mulai muncul sejak tahun 1602, saat itu VOC masih berkuasa. Hingga akhirnya kantor pos pertama di Indonesia didirikan pada tanggal 26 Agustus 1746 oleh Gubernur Jenderal G. W. Baron Van Imhoff yang berlokasi di Batavia (Jakarta).

Seiring perkembangan teknologi, peran pos mulai terkikis. Pos harus bersaing dengan perkembangan teknologi yang membuat pertukaran pesan jadi lebih mudah, cepat, dan murah

Meski demikian, tak ada yang memungkiri peran besar Pos Indonesia bagi peradabaan. Jejak emasnya bisa dilihat di Museum Pos Indonesia yang berlokasi di Jalan Cilaki nomor 73 Kota Bandung.

Didirikan pada 1931, museum ini awalnya bernama Museum PTT (Pos, Telegrap, dan Telepon). Museum Pos Indonesia sempat direnovasi guna memperbaiki dan memelihara benda-benda bersejarah koleksinya. Hasil renovasi itu diresmikan bertepatan dengan Hari Bakti Postel ke-38 pada 27 September 1983. Hasil renovasi diresmikan oleh Menteri Pariwisata Pos dan Telekomunikasi Achmad Tahir dengan nama Museum Pos dan Giro.

Semula museum ini hanya menyajikan benda koleksi seperti prangko, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Namun setelah pelayanan museum lebih diperhatikan, koleksi lainnya mulai bertambah, seperti peralatan, visualisasi, diorama kegiatan layanan pos, dan masih banyak lagi. Seiring dengan perubahan status perusahaan dari Perusahaan Umum (PERUM) Pos dan Giro menjadi PT Pos Indonesia (PERSERO) pada tanggal 20 Juni 1995, museum berganti nama menjadi Museum Pos Indonesia.

Pengunjung tidak dikenakan biaya tiket untuk mengunjungi Museum Pos Indonesia. Pengunjung hanya diharuskan mengisi buku tamu.

Bis surat yang melegenda

Begitu masuk, pengunjung disambut dengan peralatan pos seperti bis surat. Bis surat merupakan sarana pelayanan yang memudahkan masyarakat untuk mengirimkan surat tanpa harus datang ke kantor pos. Biasanya diletakkan di tempat-tempat strategis. Bis surat saat ini sudah jarang dijumpai di Kota Bandung, kalaupun ada kondisinya sudah tak terawat.

Selanjutnya hampir di seluruh ruang berisi berbagai koleksi prangko dari dalam negeri maupun luar negeri. Semuanya tertata dengan rapi bakan ada pula yang disusun sesuai abjad. Yang menarik ada beberapa patung yang menggambarkan bagaimana kehidupan di masa lalu ketika pos masih berjaya. Peralatan penunjang seperti timbangan dalam berbagai bentuk dan stempel pos juga ikut dipajang.

Ada beberapa piagam penghargaan Rekor Muri yang terpampang, seperti penyelenggara pengumpul dan pengirim kartu lebaran kepada Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dengan jumlah terbanyak, prangko pertama dengan bahan dasar kain batik, dan prangko pertama dengan bahan kulit gunungan.

Dengan nilai sejarah yang tinggi, sayangnya museum ini terlihat kurang terawat. Penataan dan tampilan museum ini masih jauh dari kata modern. Belum ada teknologi yang memungkinkan interaksi dengan pengunjung. Di dalam ruangan yang tidak begitu luas, koleksi prangko terlihat kusam. Lampu yang agak redup seperti memberi kesan seram. 

Tidak sulit menemukan lokasi Museum Pos Indonesia. Bangunannya berada di samping belakang Gedung Sate. Museum Pos Indonesia buka setiap Hari Senin-Jumat pukul 09.00-16.00 dan Sabtu pukul 09.00-13.00. (Elvin Rizki Prahadiyanti)***

 

 

Sumber : http://www.pikiran-rakyat.com