Musim Hujan Kebanjiran, Kemarau Kekeringan Petani Rancaekek Menjerit

by -181 views

Musim Hujan Kebanjiran, Kemarau Kekeringan Petani Rancaekek Menjerit

Jatinangorku.com – Para petani di wilayah timur, Kab. Bandung, terutama Rancaekek tetap kesulitan, baik di musim hujan ataupun kemarau. Saat hujan lahan pertanian terendam banjir hingga gagal tanam atau gagal panen. Seangkan saat kemarau lahan dilanda kekeringan.

Pantauan “GM” Selasa (24/9), belum ada data pasti beberapa lahan yang telah dan terancam kekeringan. Yang pasti jika kamarau berkepanjangan, jangankan lahan yang baru ditanami, padi yang telah berbuah pun bisa gagal dipanen.

Sebelumnya, saat musim hujan beberapa waktu lalu, ribuan lahan di wilayah timur Kab. Bandung, termasuk Rancaekek terendam bajir akibat meluapnya Sungai Cikeruh, Cikijing, Cimande, dan Sungai Citarik. Akibatnya, padi yang baru ditanam mati, sementara yang siap dipanen tak bisa menghasilkan keuntungan.

“Benar Pak, nasib para petani, terutama petani penggarap di sejumlah desa di Kec. Rancaekek tidak juga membaik. Saat hujan lahan pertanian terendan banjir dan saat kemarau dilanda kekeringan. Ini sangat merugikan. Saya berharap ancaman kekeringan ini jadi perhatian serius pemerintah,” kata Suryana (45), petani penggarap, warga Desa Ranceakek Kulon kepada “GM”.

Camat Rancaekek, Drs. Haris Taupik mengatakan, pihaknya telah melakukan sejumlah langkah. “Kita terus melakukan pemantauan bersama aparat desa se-Kec. Rancaekek. Termasuk dinas terkait di Pemkab Bandung. Meski ancaman kekeringan di Rancaekek belum serius, kita dengan Pemkab Bandung siap mengantisipasi. Bahkan terkait ancaman kekeringan, kita juga telah menggelar sosialisasi,” katanya.

150 ha kekeringan

Sementara Brigade Kec. Rancaekek menyebutkan, dari 3.218 hektare lahan pertanian, memasuki musim kemarau, 150 ha di antaranya dilanda kekeringan. Tapi sebagian masih bisa dialiri air dari aliran Sungai Citarik, di samping air limbah cair yang mengalir di Sungai Cikijing.

“Di masing-masing desa Kec. Rancaekek, hampir 80 persen lahan pertanian sudah dipanen memasuki musim kemarau. Sebagian lagi masih ada yang belum dipanen karena masa tanamnya terlambat,” kata Ketua Brigade Kec. Rancaekek, Aep Daman kepada “GM” kemarin.

Menurut Aep, untuk lahan pertanian yang saat ini baru dipanen, masa tanamnya dilakukan pada bulan enam atau Juni lalu. “Seharusnya, jika tidak ingin terancam kekeringan pada bulan April dan Mei sudah selesai melakukan penanaman. Pada bulan Juli dan Agustus selesai panen dan tidak akan terkena kekeringan,” katanya.

Sehingga untuk menghindari ancaman kekeringan, para petani harus lebih awal menanam padi. “Misalnya ketika turun hujan segera lakukan pengolahan padi. Dengan harapan, di musim masa tanam kedua mendatang, tidak dilanda kekeringan,” katanya.

Aep pun mengakui, musim kemarau saat ini tidak terlalu parah jika diban-dingkan dengan tahun sebelumnya. Produksi mencapai 6-7 ton per hektare. Sedangkan hasil ubinan 9 ton per haktare. “Produksi gabah kering itu didapat setelah sempat dilanda kemarau. Tetapi saat kebutuhan air mencukupi, produksi padi itu bisa lebih dari itu,” katanya.

Sumber : http://klik-galamedia.com