Nama Wartawan “Kabar Priangan” Dicatut

by -60 views

Nama Wartawan “Kabar Priangan” Dicatut

Jatinangorku.com – Nama wartawan Kabar Priangan, Azis Abdullah dicatut oleh oknum warga yang belum diketahui jati dirinya untuk meneror dan mengintimidasi salah seorang pejabat di Pemkab Sumedang. Kabar buruk itu menyeruak di kalangan pejabat dan wartawan yang meliput di Jatinangor dan Kota Sumedang.

“Saya mendengar kabar, nama saya dicatut oleh peneror untuk mengintimidasi salah satu pejabat di Pemkab Sumedang melalui SMS. Saya baru tahu kemarin, Kamis (22/5) dari teman wartawan di Sumedang,” kata Azis yang juga Ketua Forum Komunikasi Wartawan Sumedang (Forkowas) kepada “GM” di Jatinangor, Jumat (23/5).

Azis yang merasa difitnah dan dicemarkan nama baiknya akan membawa persoalan tersebut ke jalur hukum.

“Bukan hanya saya yang tercemar, melainkan institusi tempat saya bekerja juga ikut tercemar. Sudah ada izin dari Korlip Kabar Priangan untuk menempuh proses hukum. Soalnya, ini pencemaran nama baik. Baik atas nama diri saya sendiri maupun pencemaran nama media,” ungkap Azis.

Menyeruaknya SMS berisi teror dan fitnah itu terjadi setelah salah satu apartemen di Jatinangor diberitakan oleh salah satu koran harian lokal. Dalam pemberitaan itu menyebutkan, apartemen tersebut menyalahi aturan dari sudut letak bangunan dan izin bangunan.

Pejabat pemkab

“Yang memberitakan persoalan itu, narasumbernya pejabat Pemkab Sumedang yang dikirim SMS oleh oknum warga tersebut,” katanya.

Azis mengaku tidak tahu apa-apa soal pemberitaan yang dibuat media lokal. Tetapi anehnya, imbuhnya, tiba-tiba nama dan institusinya dicatut. 

“Informasi itu saya terima pada Kamis (22/5). Sementara SMS teror dan intimidasi ke pejabat Pemkab Sumedang satu minggu lalu,” katanya. 

Azis mengaku tidak akan membiarkan persoalan ini terus bergulir. Sebagai awak media yang resmi, ia akan meluruskan dan menjelaskan kepada pejabat yang sempat menerima SMS teror dan intimidasi tersebut.

Menurut seorang wartawan dan anggota Forkowas, Devi kepada Azis, SMS teror dan intimidasi itu muncul setelah ada berita di media lokal.

“SMS itu seolah mengintimidasi pejabat Pemkab Sumedang dan menyebutkan narasumber dalam berita itu tak memiliki wewenang memberikan pernyataan terkait kajian teknis sebuah apartemen di Jatinangor. SMS itu berbunyi, ‘Anda sudah bukan di SOPD (satuan organisasi perangkat daerah, red) bersangkutan’,” tuturnya.

Tetapi pihak penerima SMS teror itu sudah bisa membedakan kalau nomor handphone yang tercantum dalam SMS itu bukan nomor Azis.

“Apa urusannya saya intimidasi orang lain. Beritanya pun sudah jelas bukan saya yang bikin. Saya juga tak merasa mengirim SMS seperti itu,” tegasnya.

Sumber : http://www.klik-galamedia.com/