Nasibnya Jauh dari Sejahtera, Petani Gugat Pemerintah

by -23 views

Nasibnya Jauh dari Sejahtera, Petani Gugat Pemerintah

Jatinangorku.com – Hari Tani Nasional yang diperingati pada 24 September, dimanfaatkan kaum tani untuk menggugat pemerintah. Gugatan terhadap nasib petani ini dilakukan ribuan elemen masyarakat yang tergabung dalam Koalisi Rakyat untuk Keadilan Agraria, dalam aksi unjuk rasa di depan Gedung Sate, Jln. Diponegoro, Kota Bandung, Selasa (24/9).Mereka yang tergabung dalam koalisi tersebut adalah Walhi Jabar, Perkumpulan Inisiatif, LBH Bandung, Baraya Tani, KPRI, P3I, Sarikat Petani Pasundan, SNT, Petani Agrabinta dan Cianjur Selatan, serta PMII Kota Bandung. 

Massa yang jumlahnya sekitar 3.000-an itu menggugat pemerintah, karena selama ini pemerintah tidak berpihak kepada petani. Di antaranya nasib petani masih jauh dari sejahtera. Terbukti hampir 60 persen masyarakat Indonesia hidup di sektor pertanian. Dari angka kemiskinan itu, sekitar 60 persennya adalah petani yang tersebar di perdesaan.

Selain itu, menurut Sekjen Serikat Tani Pasundan, Agustiana, saat ini peran pemerintah dalam menyelesaikan konflik agraria di Jabar masih sangat lemah. Ini yang menyebabkan tingginya angka kemiskinan masyarakat perdesaan, dan nasib petani masih banyak yang terpuruk.

“Salah satu yang membuat petani terpuruk adalah banyaknya alih fungsi. Oleh sebab itu, kami menuntut pemerintah untuk segera menyelesaikan konflik agraria yang membuat petani sengsara. Kami juga meminta pemerintah agar tanah yang kini terbengkalai dan disalahgunakan penggunaannya bisa dimanfaatkan petani,” tegas Agus. 

Di sisi lain, ia menyebutkan saat ini hampir 73 persen tanah di Jawa Barat dikuasai oleh perkebunan asing dan para pemilik modal. Hanya 16 persen saja tanah di Jabar yang digunakan rakyat. “Artinya sebagian besar dikuasai pemilik modal dan orang-orang kaya,” ucapnya.

Mereka juga meminta agar segera dilakukan audit secara independen dan transparan, mengenai kemanfaatan bagi kesejahteraan rakyat dan pengurangan kemiskinan atas penguasaan lahan oleh Perhutani, dan Pemegang Hak Guna Usaha baik BUMN maupun swasta. 

“Di samping itu, kami juga mendesak untuk segera dihentikan intimidasi, kekerasan, dan kriminalitas terhadap kaum petani yang memperjuangkan hak-haknya. Selama ini intimidasi, kekerasan, dan kriminalisasi kepada para petani masih terjadi,” tegasnya.

Dalam aksinya, massa juga membawa berbagai atribut aksi seperti spanduk, bendera, dan yang lainnya. Bahkan untuk berorasi, mereka juga membawa kontainer yang disulap menjadi panggung orasi. Sebelum berorasi di Jalan Diponegoro, masa sempat melakukan longmarch. 

Massa bertolak dari Pusdai bergerak ke Jalan Diponegoro, Monumen Perjuangan Rakyat Jabar, Cikapayang, Sulanjana dan berakhir di Gasibu Jalan Diponegoro. Akibat aksi ini, Jalan Diponegoro di depan Gedung Sate ditutup. Aksi yang berlangsung tertib ini dijaga puluhan aparat kepolisian

Sumber : http://klik-galamedia.com