Nikmatnya Orkes Melayu Tempo Doeloe

by

Nikmatnya Orkes Melayu Tempo Doeloe

Jatinangorku.com – Musik dangdut itu sangat dinamis. Dangdut yang kita dengar saat ini, khususnya koplo, sangat berbeda dengan era 1970-an yang masih sederhana. Kesederhanaan ini bisa dilihat dari instrumen yang dipakai, aransemen, sound, hingga teknologi rekaman. Namun, Orkes Melayu lawas ini mampu menyajikan hidangan yang sedap dinikmati.

Sampai sekarang masih banyak orang yang tergila-gila dengan lagu-lagu Melayu era 1960-an hingga 1980-an dan sedikit 1990-an. Belum lagi bicara soal syair atau lirik yang jauh dari kesan sensual. Istilah DANGDUT belum ada. Waktu itu para pemusik masih memakai istilah khas ORKES MELAYU yang menampilkan Lagu Melayu. Lagu-lagu yang sangat disukai masyarakat di Indonesia, Malaysia, Brunei, dan Singapura.

Istilah DANGDUT baru diperkenalkan Oma Irama (sebelum naik haji dan berganti nama menjadi Rhoma Irama) yang membentuk Soneta Group. Oma Irama sendiri sebelumnya menjadi vokalis di beberapa OM (Orkes Melayu) di antaranya OM Purnama dan OM Pancaran Muda (sebelumnya ditulis pakai ejaan lama PANTJARAN MUDA). Syukurlah, di era internet ini kita masih bisa melacak orkes Melayu (dangdut) berkat jasa teman-teman kita yang mau berbagi audiovisual.

Setelah menyimak beberapa nomor dangdut lawas, tepatnya orkes melayu, saya terkesan dengan OM PANCARAN MUDA. Dipimpin Zakaria, pemusik terkenal pada era 1960-an dan 1970-an, orkes ini menampilkan lagu-lagu yang segar dan asyik buat bergoyang. Ada nuansa India, Melayu, Timur Tengah… elemen-elemen yang kemudian membentuk dangdut seperti kita kenal sekarang.

“Corak lagu-lagu yang saya hidangkan ialah campuran antara lagu-lagu Melayu, India, dan Indonesia sendiri. Jadi, saya tidak menjiplak lagu luar untuk kemudian diberikan teks Indonesia,” begitu Zakaria menulis di sampul piringan hitam pertama Orkes Melayu Pancaran Muda.

OM Pancaran Muda ini kemudian sukses besar. Cukup banyak penyanyi yang dibesarkan orkes ini. Sebut saja Oma Irama alias Rhoma Irama, Muchsin Alatas, Elvy Sukaesih, Mus Mulyadi, Titing Yeni, Najo Maimunah, dan masih banyak lagi.

Orkes Melayu memang biasa menggunakan banyak vokalis. Tidak terbatas satu atau dua vokalis seperti zaman sekarang. Dan, penyanyi-penyanyi itu pun bebas menyanyi untuk OM-OM lain sesuai job atau permintaan. Samalah dengan penyanyi-penyanyi dangdut koplo di Jawa Timur saat ini yang juga bebas bergabung dengan orkes apa saja.

Di Flores Timur, NTT, tempo doeloe, para perantau yang baru pulang dari Malaysia suka pamer kesuksesan di kampung-kampung dengan memutar lagu-lagu dengan pengeras suara merek TOA yang bentuknya seperti corong itu. Pengeras suara itu dipasang di tiang bambu yang cukup tinggi sehingga musiknya bisa didengarkan orang sekampung.

Artis-artis yang paling disukai para perantau dari Malaysia Timur ini antara lain Mus Mulyadi, Ida Laila, Muchsin, Sandora, OM Awara, OM Pancaran Muda… dan belakangan OM Soneta, yang kemudian menjadi Soneta Group pimpinan Rhoma Irama. Lagu yang bolak-balik diputar tetangga saya, Bapak Hamzah, syairnya antara lain begini:

Memang dia yang paling manis…. di antara gadis yang lain…. Aku pun tak merasa heran… kalau dia jadi rebutan…..”

Tapi, ketika masih bocah ingusan di pelosok Flores, saya paling suka suara Mus Mulyadi. Kayaknya merdu nian suara biduan asal Surabaya ini membawakan lagu macam apa saja. Salah satunya RUBIYAH bersama Orkes Melayu Pancaran Muda pimpinan Zakaria. (Silakan klik video OM Pancaran Muda dengan vokalis Mus Mulyadi.)

RUBIYAH OH RUBIAH… KAU SUNGGUH CANTIK RUPAWAN

TAK JEMU… JEMU MATA MEMANDANG… SIANG DAN MALAM JADI TERBAYANG

CATATAN KAKI: Orkes Melayu Pancaran Muda ini ternyata ditanggap Bung Karno saat resepsi pernikahan Megawati Soekarnoputri pada 1968. Megawati kemudian kita kenal sebagai tokoh PDI Perjuangan dan presiden kelima Republik Indonesia. Informasi ini saya peroleh dari buku DANGDUT STORIES karya Prof Dr Andrew Weintraub.

Sumber : http://hiburan.kompasiana.com