Ongkos Transportasi Warga Membengkak Gara-gara Genangan Jatigede

by -33 views
Jatinangorku.com – WARGA di daerah genangan Waduk Jatigede menjinjing sandal dan sepatunya sehabis turun dari perahu karet di ruas Jalan Sumedang-Wado yang terendam genangan Waduk Jatigede di Kampung Betokmunjul, Desa Sukamenak, Kecamatan Darmaraja, Selasa (16/2/2016). Akibat terputusnya jalan Sumedang-Wado, aktivitas masyarakat terganggu dan ongkos transportasi membengkak.*
 

SUMEDANG, (PRLM).- Terputusnya Jalan Sumedang – Wado membuat warga harus beberapa kali naik angkot dan ojek untuk mereka yang berjualan di pasar. Sebelum jalan terputus, cukup sekali naik angkot sudah sampai ke Pasar Wado. Karena harus beberapa kali naik angkot dan ojek, otomatis ongkosnya pun jadi dua kali lipat.

“Jelas terganggu dengan terputusnya Jalan Sumedang – Wado ini. Kalau mau ke kios di Pasar Wado, pulang pergi saya harus menyebrang genangan dengan perahu karet. Saya kan jualan pakaian di Pasar Wado,” ujar Ny. Ratih (65) warga Kampung Cangkuang, Desa Ranggon, Kecamatan Darmaraja, Sumedang sehabis turun dari perahu karet di ruas Jalan Sumedang-Wado yang tergenang di Kampung Betokmunjul, Desa Sukamenak, Kecamatan Darmaraja, Selasa (16/2/2016).

Dalam sehari, ia harus mengeluarkan ongkos transport Rp 30.000. Biasanya sebelum jalan terputus, ongkosnya hanya Rp 5.000. “Ya sudah capek berjalan kaki dan naik turun angkot serta ojek, ditambah lagi ongkosnya jadi mahal. Makanya, dengan terputusnya jalan ini aktivitas masyarakat jadi terganggu,” tambahnya.

Untuk pergi ke pasar, kata dia, bisa saja tidak menyeberang genangan dengan naik perahu karet. Untuk menghindari genangan, bisa memakai ojek melewati jalan alternatif dari Alun-alun Darmaraja sampai di Cinaglang. Namun, dikarenakan lewat jalan alternatif lebih jauh, sehingga ongkos ojeknya jadi mahal.

Biasanya hanya Rp 5.000, naik menjadi Rp 10.000. “Belum lagi di jalan kampungnya, ada jalan yang licin sehingga khawatir jatuh. Supaya jalannya (arus lalu lintas kendaraan-red) lancar, saya minta pemerintah secepatnya memungsikan jalan lingkar Jatigede,” tutur Ratih.

Hal senada dikatakan warga lainnya, Eci warga Kampung Leuwiloa, Desa Leuwihideung, Kecamatan Darmaraja. Ia mengaku lebih memilih menyebrang memakai perahu karet walaupun pakaian sedikit basah, ketimbang harus memakai angkot atau ojek melewati jalan alternatif. Sebab, kalau naik angkot atau ojek ke jalan alternatif jaraknya lebih jauh dan ongkosnya lebih mahal. “Jadi lebih baik menyeberang memakai perahu karet. Sekarang saya mau pergi bersama keluarga ke Sumedang,” ucap Eci.

Disinggung tentang kondisi keamanan di lokasi genangan Jalan Sumedang- Wado di Kampung Betokmunjul, Kapolsek Jatinunggal Efendy WS saat berjaga di lokasi genangan mengatakan, kondisi keamanan lima hari pascatergenangnya Jalan Sumedang-Wado, berlangsung aman dan kondusif. Masyarakat yang akan beraktivitas dengan melintasi genangan di ruas jalan itu, diseberangkan dengan perahu karet oleh para petugas gabungan.

Begitu pula kondisi arus lalu lintas kendaraan di jalan alternatif Alun-Alun Darmaraja-Cinaglang sekira 5 km, berjalan lancar. Bahkan di sepanjang jalur alternatif, sudah ditempatkan sejumlah personel kepolisian untuk berjaga-jaga di beberapa titik, termasuk ikut mengatur lalu lintas kendaraan.

“Alhamdulillah, sampai sekarang tidak ada kecelakaan yang menimpa warga, baik saat menyebrang genangan menggunakan perahu karet maupun para pengendara yang melewati jalan alternatif. Hingga kini, situasinya berlangsung kondusif,” katanya.

Ia menuturkan, sejak Jalan Sumedang-Wado tergenang Jumat (12/2/2016) sore, genangannya terus meninggi dan meluas. Dari asalnya setumit, sampai sekarang genangannya sudah mencapai 1,3 meter. Panjang ruas jalan yang tergenang kini diperkirakan mencapai 120 meter. Meski genangannya terus meninggi dan meluas, kondisi keamanan di lokasi dinilai aman dan terkendali. “Kami terus berjaga-jaga di lokasi untuk memberikan rasa aman dan nyaman kepada masyarakat,” ujar Efendy.

Sumber : http://www.pikiran-rakyat.com/