Orang Kecil dan Sederhana Juga Bisa Jadi Pahlawa

by

Jatinangorku.com – Penyair Indramayu, Yohanto A. Nugraha alias Abuk melihat pahlawan tidaklah selalu menyangkut orang-orang besar dengan tugas dan hasil-hasil besar. Pahlawan hari ini ialah orang-orang kecil nan sederhana yang mengemban amanat tugasnya sebagai kewajiban tanpa pamrih dan bekerja keras untuk itu.

“Seorang istri, dia adalah pahlawan bagi suami dan anak-anaknya. Suami juga pahlawan bagi istri dan anak-anaknya. Bagi anak-anak, dia akan menjadi pahlawan jika menurut apa keinginan orang tua, yakni menjadi anak baik yang rajin bersekolah,” tutur dia kepada galamedianews, Selasa (10/11/2015).

Sekarang aktualisasi kepahlawanan bisa dilakukan siapa saja dengan berbagai macam jasa yang diberikan. Janganlah terlalu terfokus pahlawan hanya menyangkut orang besar dengan tugas-tugas maha berat seperti soal bangsa dan negara.

“Bukankah kebangsaan itu dibentuk oleh pribadi-pribadi, lingkungan keluarga dan sosial masyarakat dalam lingkup kecil. Saya melihat pahlawan hari ini ialah setiap orang yang tulus dan ikhlas menjalankan kewajiban sebagai dharmanya terhadap lingkungan sekitar dan orang-orang terdekatnya,” tutur Abuk.

Tentu saja ada ukuran-ukurannya. Seorang ayah perampok yang melakukan kejahatan demi anak dan keluarganya, belum bisa dikatakan pahlawan karena dia menganggu keamanan dan kebebasan orang lain.

“Tapi jika si bapak, bekerja keras menghidupi keluarga tanpa melanggar atika, norma dan hukum, itu baru namanya pahlawan. Penyair membuat karya puisi yang bagus dan mampu membangkitkan kesadaran masyarakat juga pahlawan,” tutur dia.

Penyair berusia 65 tahun ini juga meminta masyarakat lebih riil dan konkrit melihat pahlawan dan arti kepahlawanan. Tidak melulu pahlawan itu mengangkat senjata, berperang dan mati. Sekarang pahlawan dan kepahlawanan itu pengertiannya sangat luas dan bisa terjadi pada siapa saja.

“Jangan takut untuk tidak disebut pahlawan. Semua adalah pahlawan sepanjang hidupnya untuk memperjuangkan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Pahlawan juga ada konteks ruang dan waktu. Pada masa Bung Tomo, pahlawan itu mengangkat senjata dan berperang melawan penjajah, sekarang pahlawan tidak mengangkat senjata, tapi tetap berjuang melawan mental terjajah seperti malas dan bodoh,” tutur Abuk.

Sumber : http://www.galamedianews.com/