PA Sumedang Tangani 3.000 Perkara per Tahun Angka Perceraian Semakin Tinggi

by -292 views

Jatinangorku.com – Angka perceraian yang terjadi di Kab. Sumedang tergolong sangat tinggi. Terbukti dengan jumlah kasus gugat cerai yang ditangani Pengadilan Agama (PA) Kab. Sumedang yang mencapai 3.000 perkara setiap tahunnya. Alasan ekonomi dan perselingkuhan menduduki urutan teratas dalam persidangan.

Berdasarkan keterangan yang berhasil peroleh “GM”, Senin (1/9), setiap hari perkara yang disidang­kan di PA Kab. Sumedang mencapai 50 perkara, dengan angka putusan antara 10-15 kasus.

“Rata-rata per bulan, perkara yang berhasil diputus mencapai 300 kasus,” kata Sekretaris Panitra Peng­adilan Negeri Sumedang, Asop Ridwan di ruang kerjanya, Senin (1/9).

Menurutnya, dari berbagai pendalam­an materi gugatan cerai yang disampaikan dalam persidangan ada dua hal yang tertinggi. Pada umumnya pemohon beralasan terpaksa harus bercerai dengan pasangannya karena faktor ekonomi dan perselingkuhan.

“Walaupun dari catatan dua masalah itu yang tertinggi, namun sulit untuk memastikan alasan yang sebenarnya. Karena pada dasarnya mereka tidak berani berterus terang untuk mengung­kapkannya dalam persidangan,” ujarnya.

Rujuk hanya 5%

Sementara itu, dari ribuan perkara yang masuk ke PA, angka rujuk hasil mediasi di persidangan sangat kecil, tidak lebih dari 5 persen. Hal itu tidaklah mengherankan, mengingat setiap pasangan yang melakukan gugat cerai itu sudah membuat pertimbangan secara matang.

“Hasilnya setiap perkaranya disidang­kan, sangat sulit bagi mereka (pemohon dan termohon) untuk bisa rujuk kembali. Apalagi pada saat proses persidangannya hanya dihadiri oleh si pemohon saja atau menguasakan kepada pengacaranya,” terang Asop.

Jika dilihat dari sisi usia, mereka yang mengajukan gugat cerai sebagian besar berada pada kisaran 30-40 tahun. Usia tersebut bisa disebut sebagai usia rawan, karena emosi mereka belum stabil. Sehingga, pengaruh dari luar seperti yang diperoleh dari tontonan televisi atau pergaulan di lingkung­annya menjadi kontribusi cukup besar terhadap terjadinya kasus perceraian.

Sementara dilihat dari status sosial, mereka yang mengajukan perkara gugat cerai berada pada level menengah ke bawah.

“Namun, bukan berarti pemohon di atas 50 tahun atau di bawah 30 tahun tidak ada. Pemohon dengan usia seperti itu ada, hanya jumlahnya tidak sebanyak yang berusia di kisaran 30-40 tahun. Tetapi baik yang masih muda ataupun yang sudah tua, karena memang semangatnya sudah kuat ingin bercerai maka sangatlah sulit bagi kami untuk membuat mereka rujuk kembali,” imbuhnya.

Untuk menghindari perkara seperti ini, seharusnya mereka yang akan melangsungkan pernikahan benar-benar siap. Seperti berada pada usia matang dan membekali diri dengan ilmu, baik agama maupun ilmu-ilmu lainnya yang bisa berkaitan dengan pemahaman perkawinan.

Sumber : http://www.klik-galamedia.com/