Pandemi, Usaha Kos-kosan Merugi

by -40 views
Pandemi, Usaha Kos-kosan Merugi
Pandemi, Usaha Kos-kosan Merugi

Pandemi, Usaha Kos-kosan Merugi – Dampak pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia menyebabkan beberapa sektor ekonomi mulai lumpuh.

Pantauan Sumeks di lapangan beberapa pengusaha kos kosan merugi. Bahkan, tidak sedikit pemilik kosan yang akan menjual kosannya dengan memasang plang dijual.

 

Seperti yang terlihat di wilayah Desa  Cikeruh Kecamatan Jatinangor. Sejumlah kos kosan lebih memilih dijual lantaran tidak ada penghuninya.

“Ya di beberapa kos kosan dan pondok modern di Cikeruh banyak yang dijual. Karena rugi untuk menutup biaya produksi. Sementara, yang menginap tidak ada,” kata Kades Cikeruh Ii Jai, Kamis (12/11).

Tak hanya kos kosan, beberapa pertokoan dan tempat kesibukan warga seperti rumah makan, foto kopi, dan warung kelontongan pun banyak yang tutup. Sebab, mahasiswa belum kuliah secara tatap muka sehingga tidak ada konsumen.

Jatinangor itu kan jantungnya mahasiswa. Jika mahasiswa libur, otomatis roda perekonomian ikut sepi,” kata Ii yang juga Ketua Apdesi Kecamatan Jatinangor itu.

Dia pun berharap pandemi Covid-19 cepat hilang di Indonesia, dan perkuliahan serta pertokoan dibuka. Sebab, hidupnya perekonomian tergantung kegiatan perkuliahan dan kunjungan wisatawan.

Jatinangor itu kota pendiri dan jasa, jadi kalau tidak ada mahasiswa siapakah yang akan beli. Siapa yang akan mengisi penginapan dan apartemen,” katanya.

Sementara itu, Anggota DPRD Kabupaten Sumedang dari Fraksi PKS, Drg Rahmat Juliadi mengatakan, pemerintah memang harus memperhatikan efek domino dari meliburkan perkuliahan dan sekolah. Namun, pemerintah juga harus waspada jangan sampai ada cluster baru di dunia pendidikan.

Rahmat pun menyebut ada beberapa daerah di Jabar sudah membuka kegiatan belajar mengajar. Tentu dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Termasuk, memastikan apalah sudah masuk zona hijau atau belum. Jika sudah mendekati zona hijau, baiknya pemerintah membuka kegiatan tatap muka dengan membagi siswa kedalam beberapa kelompok belajar.

“Untuk membangkitkan ekonomi, bisa saja sekolah dibuka. Mesti hanya sedikit dampaknya bagi pertumbuhan ekonomi. Namun, jika alasannya, anak sudah jauh dari kegiatan belajar dan mengurangi resiko kecenderungan ke anda, baiknya tata muka mulai dilakukan bertahap,” katanya.

 

Baca Juga :  Temui Ibu-Ibu Saat Sambang, Brimob Polda Jabar Tekankan Untuk Ikuti Protokol Kesehatan Di Tengah Pandemi Covid-19

 

Seperti, membuka dulu perkuliahan untuk jenjang mahasiswa, kemudian sekolah menengah atas dan menengah pertama. Jika dalam waktu 14 hari tidak terjadi peningkatan jumlah Covid-19, bisa dilanjutkan ke jenjang selanjutnya.

“Tapi apakah pemerintah sanggup untuk menyediakan anggaran alat protokol kesehatan dan teknis dilapangan seperti apa. Kembali lagi ke angggaran,” tandasnya

 

 

 

Sumber : https://www.sumedangekspres.com/