Pedagang Mengeluhkan Preman yang Menaikkan Retribusi Pasar Kaget Diserbu

by -32 views

Pedagang Mengeluhkan Preman yang Menaikkan Retribusi Pasar Kaget Diserbu

Jatinangorku.com – Memasuki minggu ketiga bulan Ramadan, Pasar Kaget Jatinangor di kawasan Kiarapayung semakin ramai dikunjungi pengunjung. Selain sudah masuk masa Tunjangan Hari Raya (THR), Minggu (20/7) merupakan hari terakhir pasar kaget buka.

Salah seorang pedagang pakaian muslim, Jony Setia (38) mengaku di hari terakhir pasar kaget, dirinya kebanjiran pembeli. Omzet dagangannya meningkat 50 persen dari minggu-minggu biasa di luar Ramadan.

Pada minggu biasa, menurutnya, yang terjual hanya 20-50 potong pakaian. Namun pada minggu terakhir dirinya sampai menjual 100 potong pakaian.

“Karena ini minggu terakhir, jadi pembeli menghabiskan waktunya sekarang untuk berbelanja. Sebagian besar karyawan sudah menerima THR juga,” kata Jony kepada wartawan, Minggu (20/7).

Meski masuk hari terkahir, ia tidak menurunkan atau memberikan diskon. Sebab pasar terakhir merupakan momen menguntungkan bagi para pedagang. Di hari itu, biasanya pembeli mulai memborong barang karena takut tidak bisa belanja.

“Harga masih normal. Tidak dinaikkan, tidak turun. Karena ini minggu terakhir, jadi untuk menutupi kekurangan selama minggu pertama dan kedua Ramadan,” ungkapnya.

Retribusi membengkak

Terlepas dari itu, Jony mengeluhkan sistem retribusi pajak yang membengkak dari minggu-minggu biasa. Pada minggu-minggu biasa pajak retribusi hanya Rp 5 ribu, namun sekarang naik menjadi Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu.

“Banyak LSM dan preman. Kalau biasanya Rp 5 ribu. Jadi, kami tahan harga ke konsumen untuk menutupi beban operasional itu,” terangnya.

Hal senada dikatakan Irma (42), pedagang aksesori telepon seluler. Meski hari terakhir pasar buka, dia tidak menurunkan harga dagangannya. Sebab pada minggu-minggu sebelumnya, omzet penjualannya menurun.

“Kalau biasanya pas minggu terakhir suka ada diskon, tahun ini enggak ada. Karena untuk menutupi modal selama minggu pertama dan kedua,” katanya.

Dia juga mengeluhkan banyaknya preman dan calo yang datang dari pengelola maupun warga setempat yang meminta sumbangan. Sebab harga sewa di luar batas kewajaran.

“Mungkin mentang-mentang mau Lebaran dan pedagang marema, mereka (calo) beberapa kali meminta jatah. Bahkan dari kelompok massa yang berbeda. Besarannya Rp 5 ribu sampai Rp 25 ribu,” tandasnya.

Sumber : http://www.klik-galamedia.com/