Pedagang Tahu Sumedang Akan Ditempatkan di Rest Area Tol Cisumdawu

by

Pedagang Tahu Sumedang Akan Ditempatkan di Rest Area Tol CisumdawuBupati Sumedang Eka Setiawan setuju dan akan memastikan pembangunan sejumlah rest area di sepanjang jalan tol Cisumdawu (Cileunyi-Sumedang-Dawuan),  akan diisi oleh para pengusaha lokal tahu sumedang, termasuk berbagai produk kuliner khas Sumedang lainnya.

Upaya itu sebagai bentuk perlindungan Pemkab Sumedang terhadap para pedagang tahu sumedang supaya tidak gulung tikar imbas beroperasinya jalan tol Cisumdawu nanti. Apalagi jalur tol Cisumdawu hampir seluruhnya melintasi wilayah Kab. Sumedang,  dari mulai Jatinangor sampai Kec. Ujungjaya.

Terlebih lagi, ancaman para pengusaha tahu sumedang gulung tikar, kini sudah terasa dengan penurunan omzet penjualan tahu sumedang imbas beroperasinya tol Cipali (Cikopo-Palimanan).

“Saya setuju dan memastikan para pedagang tahu sumedang akan ditempatkan di rest area jalan tol Cisumdawu,” kata Bupati Sumedang, Eka Setiawan, usai menghadiri “Silaturahmi dan Halal Bihalal Keluarga Besar Dinas Pendidikan Kab. Sumedang” di Aula Islamic Center Sumedang, Rabu 5 Juli 2017.

Menurut dia, untuk memastikannya, Pemkab Sumedang terlebih dahulu akan membahasnya dengan Satker (Satuan Kerja) jalan tol Cisumdawu dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).  

“Tidak usah membuat MoU (nota kesepahaman bersama) dengan Satker, tapi saya pastikan pengusaha tahu sumedang bisa berjualan di rest area.  Pengusaha dari luar juga tak masalah jika ikut berjualan di rest area, yang penting content atau produk yang dijualnya harus produk khas Sumedang, termasuk tahu sumedang.  Namun, mengingat tahu sumedang ini menjadi ciri khas makanan tradisional Sumedang dan membawa penghidupan bagi masyarakat, sehingga pedagang  lokal harus diprioritaskan,” kata Eka.

Ia mengatakan, Satker jalan tol Cisumdawu akan dipanggil untuk membahas masalah tersebut. Idealnya, Satker akan dipanggil setelah ada audiensi dengan para pedagang untuk menyampaikan langsung keluhan dan aspirasinya. “Kami akan panggil Satker, kalau sudah ketemu dengan para pedagangnya. Kalau pedagang mau audiensi, mangga silakan kapan pun  saya terima” tuturnya.

Di tempat terpisah, Agus Supriatna (52) pedagang tahu sumedang “Bagus Sari” di Jalan Paseh membenarkan,  saat ini omzet penjualan tahu sumedang di tempatnya menurun 20 persen dari kondisi semula. Dari biasanya per hari bisa terjual tahu 10 ancak (1 ancak sebanyak 120 biji tahu), kini turun menjadi 8 ancak. Penurunan itu, dampak beroperasinya tol Cipali.

“Orang Jakarta yang biasanya ke Cirebon lewat jalan Sumedang, sekarang langsung ke tol Cipali.  Kini jarang tamu dari Jakarta  yang membeli tahu  sehingga penjualannya turun 20 persen Konsumen yang sekarang, kebanyakan konsumen lokal. Ciri-ciri konsumen Jakarta, awam harga tahu sumedang. Nah, sekarang tidak ada lagi konsumen awam tersebut,” ujarnya.

Dikatakan. dengan tol Cipali saja penjualan tahu sudah turun 20 persen,  apalagi jika tol Cisumdawu sudah beroperasi. Terlebih lagi, jalur tol Cisumdawu hampir seluruhnya melintasi wilayah Sumedang.  Dirinya dan para pedagang lainnya was-was dengan beroperasinya tol Cisumdawu, khawatir penjualan tahu sumedang semakin lesu.

“Supaya usaha tahu sumedang tetap hidup dan terus berkembang setelahnya ada tol Cipali dan Cisumdawu nanti,  para pedagang tahu sumedang memang harus ditempatkan di-rest area tol Cisumdawu. Akan tetapi, harga sewa kiosnya yang terjangkau. Sebab, saya sudah tanya-tanya, harga sewa kios di rest area jalan tol Cisumdawu nanti sangat mahal mencapai Rp 20 juta per tahun. Harga tersebut berat buat  para pedagang,” ujar Agus.

Promosi

Harapan lainnya kepada pemerintah, kata dia, promosi tahu sumedang harus digencarkan di berbagai media, termasuk di semua gerbang tol. Objek wisatanya pun, mesti dikembangkan supaya para pengunjung dari luar kota mau datang ke Sumedang. “Kalau banyak wisatawan ke Sumedang, pasti tahunya pun akan laku,” tuturnya.

Menanggapi hal itu, Kepala Bidang Perindustrian, Dinas Koperasi, UMKM, Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Sumedang, Engkos mengatakan, hasil survey langsung di lapangan, tak dipungkiri omzet penjualan tahu sumedang memang mengalami penurunan imbas beroperasinya tol Cipali. Akan tetapi, penurunannya tidak terlalu drastis rata-rata sekira 20 persen. Kondisi tersebut, seperti halnya  di rumah makan tahu sumedang “Bagus Sari” di Jalan Paseh.

“Untuk mendongkrak kembali penjualan tahu sumedang setelah beroperasinya tol Cipali termasuk antisipasi beroperasinya tol Cisumdawu, solusinya memang  harus menempatkan para pedagang tahu sumedang di rest area tol Cisumdawu. Selain itu juga,  harus menggencarkan promosi tahu sumedang di berbagai media. Bahkan nanti,  di setiap gerbang tol hingga gapura perbatasan kota harus dipasang iklan tahu sumedang supaya brand-nya makin kuat,” katanya.

Bagi para pedagang tahu sumedang pun, kata dia, harus kreatif dan inovatif menjalankan bisnisnya. Tak hanya menjual tahu sumedang saja, melainkan  produk kuliner lainnya. Tempatnya harus dilengkapi berbagai fasilitas, seperti parkir yang luas, toilet, musala dan suasana yang nyaman. “Lebih bagusnya lagi, ada diversifikasi produk. Misalnya, kerupuk tahu, tahu berbagai rasa dan bentuk serta penganan lainnya berbahan baku tahu,” ucap Engkos.

Sumber : http://www.pikiran-rakyat.com