Pemilik Lahan di Jatinangor Mempertanyakan, Proyek Tol Cisumdawu Belum Disosialisasikan

by -818 views


JATINANGOR

Sejumlah pemilik lahan di sejumlah desa di Kec. Jatinangor, Kab. Sumedang kembali mempertanyakan kelanjutan proyek jalan Tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan (Cisumdawu). Pasalnya, jangankan memasuki pembebasan lahan, hingga saat ini pun, sosialisasi masih belum dilakukan.

Adam (53), salah seorang pemilik lahan di Desa Cibeusi, Kec. Jatinangor ketika dikonfirmasi “GM”, Senin (26/11), membenarkan kini banyak pemilik lahan di sejumlah desa di Kec. Jatinangor mempertanyakan kelanjutan proyek Tol Cisumdawu ke wilayah Jatinangor.

“Ya, intinya mereka mempertanyakan kelanjutan proyek Tol Cisumdawu tersebut. Termasuk saya, pemilik lahan terus mempertanyakan Tol Cisumdawu teh jadi moal. Jadi atau tidak, tak jadi masalah, yang penting ada kejelasan dari pemerintah,” kata Adam.

Menurut Adam, para pemilik lahan mempertanyakan dan minta kepastian kelanjutan Tol Cisumdawu tersebut, karena hingga saat ini masih belum dilakukan sosialisasi. Karena belum ada sosialisasi, para pemilik lahan jadi bingung.

“Lahannya mau dibangun, takut terkena proyek tol. Begitu pula mau dijual akan sulit terjual. Jika ada kabar jalur tol di Jatinangor ada pergeseran harus dijelaskan pemerintah. Intinya, para pemilik lahan di Jatinangor minta kepastian,” ujar Adam.

Terkait proyek Tol Cisumdawu, selain di Jatinangor masih belum ada sosialisasi, di Tanjungsari, hingga saat ini masih terhambat proses pembebasan lahan. Pasalnya, masih ada pemilik lahan yang belum sepakat harga tanah.

Sejumlah pemilik lahan yang akan terkena pembebasan tol tersebut enggan untuk melepaskannya. Alasannya belum ada kecocokan harga tanah. M. Toha, misalnya, salah seorang warga Desa Margaluyu, Kec. Tanjungsari, masih menunda melepaskan tanah miliknya yang terkena proyek Tol Cisumdawu. 

“Tanah milik saya belum bisa dilepas begitu saja karena belum ada kecocokan harga tanah dengan panitia pembebasan tanah dalam proyek Tol Cisumdawu tersebut. “Ada tanah milik orang lain yang dihargai Rp 128.000/meter. Di atas tanah tersebut tidak ada tegakan. Sedangkan tanah milik saya dihargai Rp 70.000/meter dan di atasnya berdiri bangunan,” kata Toha.

Menurutnya, dengan adanya perbedaan harga jual tanah tersebut membuat dirinya berusaha untuk mempertahankan tanah miliknya. Ia akan melepaskan tanahnya jika ada kesesuaian dan keadilan harga jual. “Kenapa harga tanah milik saya lebih murah dari harga tanah orang lain yang tidak ada berdiri bangunan,” katanya.

Toha juga merasa heran dengan adanya perbedaan harga tanah yang sangat mencolok tersebut. Tanah miliknya itu dekat pinggir jalan yang akan dibangun jalan tol. Sementara tanah milik orang lain terlihat menjorok ke dalam dan jauh dari titik garis lokasi jalan tol yang akan dibangun.

sumber : klik-galamedia