Penanganan Banjir Jatinangor Perlu Kerja Sama Lintas Pemda

by -75 views

Penanganan banjir langganan di wilayah Kecamatan Jatinangor yang merendam ratusan rumah warga di beberapa desa, harus ditangani oleh Dinas Pengendalian Sumber Daya Air (PSDA) Jabar. Pasalnya, banjir tersebut akibat meluapnya Sungai Cikeruh yang melintasi dua kabupaten yakni Kab. Sumedang dan Kab. Bandung.

“Penanganan banjir di Jatinangor ini, tak bisa ditangani sendiri oleh Kabupaten Sumedang. Akan tetapi,  harus bersama-sama Kabupaten Bandung dan Dinas PSDA Jabar karena alur sungainya melintasi dua kabupaten,” ucap Ketua Jatinangor Emergency Rensponse Community (Jercy) Dedeng Saefurohman di kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kab. Sumedang, Selasa, 21 Maret 2017.

Ia mengatakan, upaya Pemkab Bandung dan PSDA Jabar untuk segera turun tangan mengatasi banjir Jatinangor, sangat penting. Sebab, akar masalahnya akibat penyempitan alur Sungai Cikeruh di daerah Dangdeur, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung. Lebar sungainya hanya sekitar 5 sampai 7 meter.  Sementara  lebar Sungai Cikeruh  di wilayah Kec. Jatinangor, cukup lebar kisaran 11 sampai 13 meter.

“Akibat penyempitan tersebut, sehingga air Sungai Cikeruh yang mengalir deras meluap ke  wilayah Jatinangor hingga merendam pemukiman warga di beberapa desa.  Makanya Kabupaten Bandung dan PSDA Jabar harus secepatnya turun tangan,  dengan melebarkan alur sungai di Dangdeur, Rancaekek.  Pelebaran termasuk pengerukannya, jangan hanya di Dangdeur saja, tapi harus sampai ke daerah hilir hingga bermuara ke Sungai Citarik,” ujar Dedeng.

Daerah yang tergenang banjir paling parah, lanjut dia, yakni di Kampung Cigowok RT 1 dan 2/ RW 12, Desa Mekargalih, Kec. Jatinangor. Airnya sangat deras hingga bisa mengakibatkan orang hanyut. Seperti halnya banjir Sabtu, 18 Maret 2017 lalu, ketinggian banjirnya mencapai 1,5 sampai 2 meter hingga merendam 110 rumah warga.  Kini banjirnya sudah surut.

Daerah lainnya, Dusun Solokanjarak RW 13, Dusun Baru RW 18 dan Dusun Cipeundeuy RW 11, Desa Cipacing.  Ketinggian banjir bisa mencapai 2 sampai 3,5 meter hingga nyaris menenggelamkan rumah warga. Meski genangan banjirnya relatif landai, cakupan banjirnya lebih luas.  Termasuk  Dusun Cikeruh Lio RW 7, 9 dan 10, Desa Cikeruh dan beberapa dusun di Desa Sayang. 

“Ketika banjir baru menggenang rumah warga, mereka sudah dievakuasi dengan diungsikan sementara ke rumah kerabat dan tetangga terdekat yang aman. Kalau banjirnya setinggi 50 cm sampai 1 meter, warga lebih memilih bertahan di lantai dua atau loteng. Sampai-sampai ada atap, yang dipakai tempat tidur juga. Memang, kasihan dan prihatin melihat warga yang kebanjiran. Oleh karena itu, pemerintah harus segera mengatasi banjir di Jatinangor ini,” tuturnya.

Menanggapi hal itu, Kepala BPBD Kabupaten Sumedang, Ayi Rusmana mengatakan, penanganan banjir di Kec. Jatinangor, bukan hanya oleh Kabupaten Sumedang saja. Akan tetapi, harus ditangani bersama dengan  Kabupaten Bandung dan Pemprov Jabar melalui perencanaan multi aksi. “Memang sebelumnya sempat dibahas  rencana penanganan multi aksi, tapi sampai sekarang belum ada tindak lanjutnya,” katanya.

Perlunya penanganan bersama, menurut  dia, karena permasalahan banjir di Jatinangor dan  Kec. Cimanggung yang menggenangi rumah warga serta Jalan Raya Bandung-Garut, dinilai sangat kompleks. Faktor penyebabnya  cukup banyak, di antaranya terjadinya alih fungsi lahan yang luas, hilangnya daerah resapan air, terjadinya penyempitan alur sungai termasuk  pendangkalan. “Oleh karena itu, penanganan banjir di Jatinangor dan Cimanggung harus dilakukan multi aksi oleh pak gubernur langsung,” ujarnya