Penduduk Miskin di Sumedang Semakin Tertinggal

by -242 views

Penduduk Miskin di Sumedang Semakin Tertinggal

Jatinangorku.com – Penduduk miskin di Sumedang semakin jauh ditinggalkan oleh penduduk kaya yang jumlahnya hanya 20 persen dari jumlah penduduk. Namun, seluruh penduduk kaya ini telah menguasai 50 persen pendapatan yang beredar di masyarakat.

Sementara, 80 persen penduduk miskin dan menengah ini memperebutkan sisa pendapatan yang beredar. Dengan kesenjangan ekonomi tersebut, penduudk miskin akan ketinggalan akses sosial dan informasi serta layanan lainnya.

“Selama lima tahun, mulai 2008-2012, penduduk terkaya di Kabupaten Sumedang semakin jauh meninggalkan golongan termiskin. Hal ini terindikasi dari, bahwa distribusi pendapatan terdapat 20 persen golongan pendapatan terkaya atau berpendapatan sangat besar mampu menguasai sekitar 51 persen atau setengah dari pendapatan yang beredar di masyarakat. Artinya, setengah pendapatan lainnya diperebutkan oleh 80 persen penduduk dengan kategori pendapatan besar, menengah, kecil dan sangat kecil,” kata Bupati Sumedang Ade Irawan, Rabu (16/7/2014).

Tim ekonomi Pemkab Sumedang mengatakan, kondisi tersebut tak ideal. Menurut konsep gini, yaitu alat ukur ketimpangan pembagian pendapatan, idealnya 20 persen golongan masyarakat secara kumulatif menguasai 20 persen pendapatan. Tapi yang terjadi, 40 persen golongan termiskin yang seharusnya menguasai 40 persen pendapatan malah hanya menguasai 16,25 persen saja.

“Masih terjadi kesenjangan ekonomi di Sumedang ,” tutur Ade.

Kondisi ini dijelaskan dalam Kebijakan Umum Anggaran (KUA) dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (PPAS) 2015 Pemkab Sumedang yang kini sedang dibahas bersama DPRD. Dalam dokumen kesepakatan ini, dijelaskan juga mengenai Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) yang menurun akibat melemahnya kinerja dua sektor yaitu pertanian dan industri pengolahan.

Kesenjangan ekonomi ini menjadikan masyarakat tidak ideal. Ketua Program Pasca Sarjana Ikopin menyebutkan, pencapaian tingkat ekonomi harus merata. Dengan kata lain, rasio antara penduduk miskin dan kaya sangat tinggi. Seharusnya, rasio ini tidak terlalu besar untuk mencapai kesejahteraan penduduk dan kesuksesan pembangunan.

“Rata-rata di tingkat nasional saja, rasio gini atau alat ukur ketimpangan pembagian pendapatan ini angkanya di atas 0,4. Jumlah itu sudah tinggi dan membuat kondisi ekonomi masyarakat tidak ideal,” kata Sugiyanto dalam Seminar Pengembangan Koperasi dan UMKM yang diadakan Dekopinda Sumedang

Sumber : http://www.inilahkoran.com/