Penerbangan Haji dan Umrah dari BIJB Kertajati, Mungkinkah?

by -26 views

 Masih banyak persoalan yang harus diselesaikan untuk melakukan penerbangan haji dan umrah dari Bandara Internasional Jawa Barat di Kertajati, baik persoalan infrastuktur ataupun administrasi, namun demikian penerbangan haji pada bulan Juli mendatang harus dilakukan minimal untuk penerbangan haji dan umoh dari Wilayah III Cirebon, Brebes, dan Tegal.

Untuk menyelesaikan semua persoalan yang dihadapi akan dikebut selama tiga bulan, agar bisa memenuhi keinginan pemerintah dan rakyat Jawa Barat. Persoalan yang dihadapi tersebut antara lain adalah landasan pacu yang belum selesai baru terpenuhi sepanjang kurang lebih 2.500 m sementara untuk penerbangan pesawat besar harus sepanjang 3.000 m, selain itu bandara yang belum tersertifikasi, hotel yang belum tersedia minimal mencukupi kebutuhan, asrama haji yang belum ada, pasilitas rumah sakit rujukan dan sejumlah persoalan lainnya.

Selain itu perlunya PKPPK atau pemadam kebakaran karena pesawat tidak mungkin melakukan penerbangan jika pasilitas tersebut belum ada, sebab pemadam kebakaran harua onsite

Hal tersebut mengemuka saat rapat koordinasi lintas sektor membahas persiapan BIJB untuk mendukung angkutan udara haji dan umrah di Kantor KSO BIJB di Kertajati, Kamis 15 Maret 2018 yang dipimpin oleh Asisten Daerah Provinsi Jawa Barat bidang Ekonomi dan Pembangunan  Edi Iskandar Nasution.

Hadir pada acara tersebut Direktur Haji Khusus dan Umrah Muhajirin Yanis, Bupati Majalengka, Direktu BIJB Bidang Keuangan, Kepala Dinas Perhubungan Jawa Barat, PT Angkasa Pura II, perwakilan PT Garuda, perwakilan dari  Saudi Arabia Airlines, Imigrasi, bea dan Cikai serta sejumlah lembaga terkait lainnya.

Direktur Direktur Haji Khusus dan Umrah Muhajirin Yanis mengungkapkan kini telah ditetapkan ada 12 embarkasi untuk melakukan penerbangan haji dan umrah, dengan dua maskapai Garuda dan Saudia Airlines. Calon jemaah haji Jabar sendiri mencapai 38.852 .

Muhajirin Yanis memaparkan secara teknis kebutuhan pasilitas yang harus dipenuhi oleh bandara untuk penerbangan haji dan umrah, antara lain adalah diperkulannya asrama haji, saat ini belum tesredia asrama haji sehingga harus memanfaatkan asrama haji yang sudah ada. Jarak perjalanan dari asrama haji dan bandara perlu kenyamanan dan keamanan.

Asrama

Muhajirin menyarankan jika Pemerintah Kabupaten Majalengka atau Pemerintah provinsi bersedia menghibahkan lahan seluas 5 ha untuk dijadikan asrama haji, Kementrian Agama siap untuk melakukan pembangunan asrama. Untuk itu di tahun 2019 mendatang diharapkan asrama haji sudah tersedia, agar penerbangan haji bisa dilakukan berdasarkan basis provinsi namun berdasarkan basis wilayah terdekat dengan bandara.

“Yang harus diperhatikan adalah kondisi jemaah haji, itu harus jadi pertimbangan karena banyak jemaah haji yang bersiko tinggi, ketika pulang  selalu banyak yang mengalami sakit, makanya tim medis dan rumah sakit rujukan yang representatif, harus tersedia dengan jarak tempuh yang dekat, satuan pengawal untuk keberangkatan dari asrama haji menuju bandara jga harus siap agar di perjalanan tidak mengalami kendala dan bisa lebih cepat sampai di bandara,” ungkap Muhajirin.

Disamping itu saat pesawat mengalami penundaan penerbangan harus ada tempat peristirahatan yang nyaman saat menunggu, pengendalian saat naik ke pesawat.

Namun demikian jika ada kesiapan dari semua pihak yang berwenang dalam menyelesaikan seluruh persoalan, pihak Kementrian Agama siap untuk melakukan penerbangan haji pada 16 Juli mendatang. Serta akan segera melakukan perubahan rute penerbangan bagi calon jemaah haji.

Pada kesempatan tersebut juga dibahas soal harus dilakukannya teknik landing oleh pesawat besar yang akan melakukan penerbangan haji. Prasetyo dari Direktorat Kementrian Perhubungan Udara mengungkapkan pihaknya sudah melakukan pengecekan, hasil akhirnya akan segera dicek kembali.   

“Sekarang ini masih ada beberapa kendala diantaranya  landasan pacu masih dipergunakan sebagai jalan  oleh warga, hal itu harus segera ditanggulangi karena bandara harus steril dari persoalan tersebut.  Sisi terminal menunggu penyelesaian yang informasinya akan selesai bulan Maret ini. Panjang runwai juga harus diatasi hingga 3.000 m,” ungkap Prasetyo.

Bisa dilakukan

Sementara itu pihak Angkasa Pura II siap untuk segera melalukan perpanjangan landasan pacu sesuai komimen yang telah disepakati. Edi sudino dari Saudia Airlines menngungkapkan pelunya sertifikat  bandara internasional, taksiway serta  apron juga harus sudah siap.

“Yang kami masih bingung bagaimana dengan hotel untuk kru,  dimana mereka harus nginep dan istirahat, karena mereka harus beristirahat usai melakukan penerbangan,” ungkapnya.

Bupati Majalengka Sutrisno mengungkapkan, persoalan akses jalan bagi warga pihaknya siap untuk segera mengalihkan jalan ke jalur lain. Sehingga akses jalan warga ke  bandara bisa segera  ditutup. Hanya pihaknya butuh untuk melakukan sosialsiasi kepada warga agar mereka tidak marah. “Besok juga sudah bisa di tutup,” ungkap Bupati Sutrisno.

Bupati  meminta semua untuk berkomitmen agar penerbangan haji bisa dilakukan mulai bulan Juli sesuai keinginan presiden. Menyangkut penginapan untuk kru pesawat dan hotel, Sutrisno mempersilahkan mes Pendopo untuk dipergunakan bila pasilitas hotel belum memadai. “Semua harus berkomitmen untuk memenuhi keinginan Presiden, untuk penginapan mes pendopo bisa digunakan. “ ungkapnya.

Memadai

Asisten Daerah Provinsi Jawa Barat bidang Ekonomi dan Pembangunan , Edi Iskandar Nasution, meminta semua pihak untuk menyelesaikan seluruh persoalan yang kini menjadi kekurangan dan harus dipenuhi dalam melaksanakan penerbangan haji dan umrah.  Dia optimis penerbangan bisa dilakukan dari BIJB setelah adanya kesanggupan dari semua unsur untuk meneyelesaikan seluruh persoalan yang dihadapi.

“Landasan pacu sudah siap diselesaikan karena sudah ada kesanggupan Angakasa Pura, sertifikasi juga sudah dalam proses, asrama bisa memanfaatkan Pondok Gede, Rumah Sakit sudah ada kesanggupan Bupati termasuk persoalan jalan untuk akses warga yang kini sudah tahap lelang, ruang tunggu saat ada penundaan penerbangan juga semua sudah cukup, jadi oftimis bisa dilakukan penerbangan pada pertengahan Juli mendatang,” ungkap Edi.

Untuk ruang tunggu umrah fasilitasnya seluas 700 meterpersegi, ruang tunggu pesawat terjadi penundaan penerbangan tersedia 600 kursi, toilet dan mesjid tersedia di semua lantai dengan ukuran yang cukup luas. Bahkan di sebuah lantai ada mesjid hingga tersedua dua buah. “Jadi fasilitas sudah memadai,” katanya.***

 

 

Sumber : http://www.pikiran-rakyat.com/