Penertiban Baliho di Jatinangor Cuma Omong Kosong

by -241 views


JATINANGOR (GM) – Rencana penertiban baliho ilegal yang marak di sejumlah titik di Kec. Jatinangor, Kab. Sumedang ternyata hanya omong kosong. Buktinya, hingga Senin (30/7), baliho-baliho yang terpasang di Jalan Raya Jatinangor dan Jalan Raya Bandung-Garut tetap terpasang.

“Baliho ilegal yang katanya akan segera diteribkan terucap dari mulut Kabid Pendapatan Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD) Kab. Sumedang, Asep Rahmat. Rupanya ini sekadar gertakan dan omong kosong. Pasalnya, baliho ilegal masih terpasang,” kata Iyep Somantri dan Drs. Teten Dodi Rahdian, tokoh pemuda Rancekek, kepada “GM”, Senin (30/7).

Diberitakan, Kabid DPPKAD Kab. Sumedang, Asep Rahmat mengatakan, baliho-baliho di sejumlah titik di Kec. Jatinangor akan segera ditertibkan. Baliho-baliho tersebut diduga ilegal dan dipasang secara tidak beraturan, bahkan mengancam keselamatan pengguna jalan.

Menurut Iyep, pernyataan Kabid DPPKAD tersebut seharusnya harus ditindaklanjuti dengan langkah nyata. “Eh, ini mah hanya omong kosong. Padahal keberadaan balhgo baik iklan pasar, parpol, iklan balonbup, balongub, maupun iklan produk makanan tersebut, selain ilegal, juga merusak estetika dan mengancam keselamatan pengguna jalan,” katanya.

Marak juga

Sementara itu, selain di wilayah Jatinangor, baliho-baliho balonbup dan balongub juga marak terpasang di sejumlah titik di Cileunyi, Rancaekek, dan Cicalangka. Karena pemasangannya tak beraturan dan ilegal membuat keadaan sekitarnya menjadi kumuh.

Pemasangan baliho balonbup dan balongub yang terpasang di setiap putaran jalan di Jalan Raya Bandung-Garut benar-benar tidak beraturan dan mengancam keselamatan para pengguna jalan. Seperti di putaran Jalan Raya Cipacing dan di putaran Jalan Raya Cipasir Rancaekek, kini dipenuhi baliho bergambar balonbup dan balongub.

Ketua Karang Taruna Kec. Jatinangor, Deden Doni mengatakan, spanduk iklan yang dipasang di Jatinangor sama sekali tidak sesuai dengan aturan dan ada kesan asal pasang tanpa memperhatikan limgkungan sekitar. “Coba saja lihat di jalan-jalan protokol Jatinangor, spanduk dipasang seenaknya dan menghalangi sudut pandang para pengendara,” kata Deden.

(B.46/B.105)**