Pengawasan BPLHD Dinilai Mandul Air Sungai Cimande Pekat dan Berbau

by -27 views

Jatinangorku.com – Warga Desa Linggar, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, menilai pengawasan dan pengambilan sampel air Sungai Cimande oleh Badan Pengawas Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Provinsi Jawa Barat dan Kabupaten Bandung mubazir. Karena, pengambilan sampel air yang bertujuan untuk mengendalikan pencemaran sungai tersebut tidak membuahkan hasil apa pun.

“Dari tahun 2000-an mengambil sampel air, tapi hasilnya apa? Tetap saja sungai tercemar limbah. Makanya kami juga tidak terlalu banyak berharap,” kata Rohman, warga Kampung Nyalindung RT 04/RW 08 saat ditemui di kediamannya, Selasa (23/9).

Masih menurut Rohman, petugas dari BPLHD terbilang cukup sering mengambil sampel air dari sumur di rumahnya. Namun, tambahnya, tidak ada perkembangan usai pemeriksaan. Sungai Cimande tetap menjadi tempat pembuangan limbah kegiatan industri.

Rumah Rohman yang berjarak 50 meter dari Sungai Cimande membuat air dari sumurnya tercampur limbah. Sehingga, keluarganya tidak mau mengonsumsinya. Air berwarna kuning tersebut hanya digunakan untuk aktivitas mandi dan mencuci.

“Kalau buat minum, saya beli air galon. Kadang-kadang buat mandi juga pakai air galon. Soalnya suka gatal-gatal juga kalau dipakai mandi,” ungkapnya.

Senada dengan Rohman, warga lainnya Dudung (45) mengatakan, pencemaran limbah di wilayahnya sudah terjadi sejak tahun 2000, ketika puluhan pabrik mulai berdiri.

“Sekarang warga kesulitan mendapatkan air bersih. Kalau musim kemarau seperti sekarang, warga semakin kebingungan untuk mencari air. Ada air, tapi bau dan berwarna,” katanya.

Padahal sebelum ada ekspansi industri, kawasan tersebut merupakan lahan produktif dengan sumber air yang cukup baik dan bisa digunakan untuk kebutuhan masyarakat.

“Dulu di sini merupakan kawasan pertanian yang bagus, tapi sekarang air irigasinya sudah tercemar,” ujar Dudung.

Ia berharap program revitalisasi sungai yang diwacanakan Pemerintah Provinsi Jabar bisa segera terwujud. Karena, kalau terus dibiarkan dikhawatirkan pencemaran akan semakin parah.

10 perusahaan

Sementara Kepala Dusun 3, Desa Linggar, Usup mengaku geram dengan pencemaran tersebut. Dikatakannya, ada sekitar 10 perusahaan yang terus membuang limbah ke Sungai Cimande. Dampaknya, ratusan hektare sawah yang mengambil sumber air dari Sungai Cimande ikut tercemar.

“Sekarang lagi musim kemarau, kondisi airnya masih wajar. Tapi baunya masih menyengat. Warnanya saja hitam pekat. Kalau lagi musim hujan bisa banjir,” ujar Usup saat mendampingi tim BPLHD menelusuri Sungai Cimande.

Ditambahkannya, warga di Desa Linggar sudah berulang kali melayangkan protes, namun hingga saat ini tidak ada tindak lanjut dari pihak terkait. Ia pun berharap pemerintah segera melakukan tindakan.

Pejabat Pengawas Lingkungan Hidup (PPLH) BPLHD Jabar, Anna mengatakan, sidak yang dilakukan karena adanya aduan dari masyarakat tentang pencemaran Sungai Cimande. Pihaknya akan melakukan verifikasi dari laporan tersebut.

“Secara kasat mata airnya memang sudah tidak layak konsumsi. Airnya bisa dipakai, tapi hanya untuk mandi dan mencuci. Untuk kualitas air minum sudah tidak memadai,” kata Anna.

Anna menambahkan, pemeriksaan dilakukan sebagai bahan pembuktian untuk mencari pelaku pencemaran. Apalagi Pemprov Jabar tengah gencar mengampanyekan program Citarum Bestari.

“Ke depannya bisa dilakukan tindakan hukum kalau ada pelanggaran serius. Dalam satu tahun rata-rata ada 100 pengaduan kepada BPLHD,” ungkapnya.

Sumber : http://www.klik-galamedia.com/