Pengawasan Makanaan Kadaluarsa Perlu Koordinasi Aktif Antar Pemda

by -101 views
Peredaran barang kadaluarsa seperti makanan, minuman, obat, dan kebutuhan rumah tangga lainnya masih banyak terjadi di daerah-daerah di wilayah Provinsi Jawa Barat.
Hal ini tentu saja sangat membahayakan keselamatan warga yang secara tidak sengaja mengonsumsinya. Mereka bahkan bisa kehilangan nyawa akibat mengonsumsi makanan atau minuman kadaluarsa yang telah mengandung racun.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Barat Hening Widiatmoko mengatakan, koordinasi antara pemerintah provinsi dan pemerintah daerah harus digalakkan agar pengawasan barang kadaluarsa terkontrol dengan baik.
Meskipun berdasarkan Undang-undang Nomor 23 tahun 2014 disebutkan bahwa wewenang perlindungan konsumen kini berada di tangan provinsi, namun Widi mengapresiasi upaya Kabupaten Cirebon yang mampu berkoordinasi dengan baik untuk melaporkan kejadian di lapangan.
“Apa yang kami dapatkan hari ini di Kabupaten Cirebon akan kami jadikan evaluasi bahwa di lapangan banyak kasus peredaran barang kadaluarsa,” ujar Widi kepada wartawan usai menggelar operasi pengawasan barang kadaluarsa di Desa Setu Wetan, Blok Batu Ampar, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon, Rabu (8/2).
Pihaknya akan mengevaluasi kejadian ini apakah nantinya akan dijadikan sebagai prosedur operasional standar untuk melakukan pengawasan dan penindakan terhadap pelaku penjual barang kadaluarsa berdasarkan laporan dari masyarakat.
Dinas Indag Jabar juga akan berkoordinasi dengan pihak terkait seperti Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) agar menindaklanjuti temuan ini. Selain itu mereka juga akan menelusuri rantai jaringan yang terlibat di dalamnya.
“Diduga ada oknum dari penyuplai barang yang bermain. Karena kalau di swalayan prosedurnya sangat ketat, barang yang sebentar lagi kadaluarsa langsung ditarik,” ujar Widi.
Sementara Kepala Bidang Perlindungan Konsumen Dinas Indag Jabar Bismark mengimbau agar masyarakat tidak tergiur jika ada pedagang yang menjual makanan dan minuman dengan harga yang sangat murah.
Pasalnya, jika harga yang ditawarkan sangat jauh selisihnya dibandingkan dengan yang beredar di warung kelontong atau mini market, maka bisa dipastikan ada sesuatu yang salah dengan barang itu.
Dia menduga kuat peredaran barang kadaluarsa juga terjadi di daerah-daerah lainnya di Jawa Barat.
“Yang ditakutkan adalah nanti ada sesuatu yang terjadi seperti sakit jika masyarakat mengonsumsinya. Ini jauh lebih mahal harganya. Kami telah mengambil sampel barang untuk dilakukan uji lab,” kata Bismark.